Gubernur Laiskodat: Biarkan Komodo Bertumbuh dalam Liarnya, Agar Tidak Ada Sate Komodo di Hari Esok

Nuansa NTT106 Dilihat

MEDIATORKUPANG.COM, KUPANG—Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, buka suara mengenai alasan pihaknya menutup Pulau Komodo terhitung Januari 2023 mendatang. Ketika memberi sambutan pada seremoni pelantikan Pengurus KADIN NTT masa bhakti 2021-2026 di aula utama El Tari, Senin (11/7/2022), gubernur yang kerab disapa VBL ini menegaskan kepada semua yang hadir mengenai desain besarnya itu.

Bahwa pada tahun ini juga pihaknya akan melaunching sebuah sistem agar nantinya Taman Nasional Komodo ini tidak lagi dapat dimasuki sembarang orang. Yang sudah terlanjur membeli tiket untuk masuk kesana, diberi kesempatan berkunjung hingga Desember 2022.

“Tapi setelah itu Januari 2023 sudah tidak ada lagi yang menuju Taman Nasional Komodo kecuali Pulau Rinca. Semua akan datang dan liat Komodo (di Pulau Rinca) tetapi tidak ada lagi Komodo yang dikasi makan seperti di Pulau Komodo saat ini,”tegas VBL sembari menambahkan “Pulau Komodo akan menjadi pulau yang liar dimana Komodo akan hidup dalam kenyamanannya.”

Hadir saat itu, Ketua Umum KADIN Indonesia, Arsjad Rasjid, Panglima KOSTRAD, Mayjen TNI Maruli Simanjuntak, Danjen KOPASSUS, Brigjen Iwan Setiawan, mantan kepala BNPB, Letjen TNI (Purn) Doni Monardo, serta senator Ir. Abraham Paul Liyanto, Ir. Esthon Foenay dan sejumlah tokoh penting.

Baca Juga  Dirut Bank NTT:  Rp 26 M untuk Biayai TJPS, Kinerja Kredit Clear Tanpa NPL

Masih dalam seremoni itu, VBL menegaskan bahwa jika kita selalu memberi makan kepada seekor binatang, berarti kita sedang membudidaya binatang itu. Dan budidaya itu akan membuat seekor binatang kehilangan keganasannya, keliarannya.

“Karena itu saya harapkan, yang jinak komodonya kita pindahkan ke Pulau Rinca. Karena saya ingin membangun Pulau Komodo. Namanya Pulau Komodo dan Komodo-Komodo disana akan menjadi Komodo yang liar dan bagus. Riset-riset lanjutan disiapkan dengan baik sehingga Komodo-Komodo ini hebat,”tegasnya.

Jika Komodo disebut sebagai binatang purba, maka pakannya, serta rantai makanannya pun purba. Dan harus menjadi analisa bersama, hingga hari ini belum ditemukan pakan apa penyebab Komodo ini bertahan hidup berabad-abad.

BUDIDAYA. Komodo terekam kamera di Pulau Komodo.
Foto: Dokumen El John News

“Hari ini kita belum ketemu, makanan apa yang menyebabkan dia bertahan dalam purbanya itu. Kan purba makananya purba. Dan dia akan makan makanan purba yang ada di pulau itu. Sedang kami menyiapkan riset lanjutan terhadap itu.”

Baca Juga  Apresiasi yang Tinggi Atas Capaian Hebat Koperasi TLM

Gubernur Laiskodat mengakui bahwa saat ini tidak sedikit publik yang ribut dan melahirkan banyak argumentasi mengenai hal ini. Bahkan ada yang berkata, biarkan saja pulau itu dibuka untuk umum sehingga siapapun warga bisa bebas akses kesana.

“Banyak yang bilang kami orang yang tidak mampu sehingga biarkan kami masuk ke situ. Saya bilang, jangan kau datang tambah lagi. Kami sudah banyak yang model seperti kau itu.  Jadi di NTT itu yang tidak mampu banyak sekali, jangan kau tambah lagi,”ujarnya.

Kedepan pulau ini ditutup sehingga yang berhak masuk kesana adalah orang-orang tertentu, dan ini menurutnya sudah berdasarkan riset yang melibatkan banyak universitas, yang mengkajinya dari aspek ekonomi, sosial. Semuanya semata untuk kepentingan generasi yang akan datang dalam semangat inklusi pembangunan. Dia mengharapkan generasi yang akan datang bisa menikmati Komodo seperti kita menikmatinya hari ini.

Tindakan ini diambilnya dengan dasar pertimbangan, agar jangan sampai di kemudian hari Komodo menjadi jinak dan diikat di lehernya lalu ditarik di jalan-jalan, serta diperlakukan seperti binatang peliharaan lainnya.

Baca Juga  Presiden Jokowi Kunjungi Pasar Digital Bank NTT di Bajawa, Dirut Alex: Ini Motivasi Luar Biasa

“Kalau kita kasi makan terus, Komodo ini, one day Komodo ini jadi jinak, dan kita bisa ikat lehernya dan tarik kemana-mana seperti anjing yang dibawa-bawa. Nah suatu saat bisa 100 tahun yang akan datang Komodo akan ditarik di jalanan. Karena saking baik dan saking jinaknya komodo ini. Dan lama-lama dimakan jadi sate,”tegas VBL.

Tidak tertutup kemungkinan akan ada sate Komodo karena sudah dibuat jinak dengan alasan kepentingan umum. Gubernur mencontohkan, dahulu kala, Lele adalah binatang purba. Ukurannya pun bukan seperti sekarang. Namun karena dibudidaya, maka lambat laun hilang keganasannya, menjadi imut dan lucu, bahkan kini ada pecel lele.

“Kita makan Lele hari ini. Jadi kalau you makan lele hari ini, ingat bahwa itu binatang purba yang dibudidaya menjadi jinak dan dimakan hari ini. Jangan pernah nati Komodo dikasi jinak, dikasi makan, dibudidaya dan menjadi sate Komodo akan datang. Kita tidak mengijinkan itu terjadi di NTT,”pungkas VBL serius. (BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *