Kupang (MEDIATOR)--Sidang Wilayah Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) Nusa Tenggara Timur tahun 2025 telah berlangsung dua hari di Aula GMIT Center, Kupang, 28-29 Oktober 2025 telah berakhir.
Dalam proses pemilihan Majelis Pekerja Harian (MPH) PGIW NTT 2025–2030, Sidang ini menetapkan Pdt. Samuel B. Pandie, S.Th (GMIT) sebagai Ketua Umum. Mendampingi beliau, Pdt. Oder M. Sombu (GBI) memimpin sebagai Ketua bidang Koinonia, Pdt. Jack Billy (GKS) sebagai Ketua memimpin bidang Marturia, dan Pdt. Welmintje Dj-Kana, STh (GMMI) sebagai Ketua yang memimpin bidang Diakonia. Tugas administratif MPH dipercayakan kepada Pdt. Cefrry Djaman Djenal, STh (GKPB-MDC) sebagai Sekretaris Umum, dibantu Pdt. Daniel Victorson Gie (GBI) sebagai Wakil Sekretaris. Pengelolaan keuangan dipimpin oleh Pdt. Paul Dyadi Amirullah (GKSI) sebagai Bendahara, didampingi Vik. Fanny Tjandra (GKII) sebagai Wakil Bendahara.
Selain pengurus inti, MPH PGIW NTT 2025–2030 juga diperkuat oleh anggota-anggota yang berasal dari berbagai sinode di NTT, yang akan mendukung pelaksanaan program dan pelayanan PGIW secara komprehensif. Anggota-anggota tersebut adalah Pdt. Mefibosed Radjapono, M.Si.Teol dari Gereja Kristen Sumba, Pdt. Untung Atakay dari Gereja Kristen Setia Indonesia 105, Pdt. Medya Magdalena Karo Sekali, M.Si.Teol dari Gereja Batak Karo Protestan, Pdt. Eben Palaimo dari Gereja Sidang Jemaat Allah, Pdt. Aleksander Thenu, M.Th dari Gereja Misi Injili Indonesia, Pdt. Salmon Atamaby, S.Th., M.M dari Gereja Kemah Injil Indonesia, dan Pdt. Meksy S. Pingak dari Gereja Bethel Injil Sepenuh. Sidang juga menetapkan Badan Pengawas Perbendaharaan, dan Majelis Pertimbangan, yang akan bekerja bersama MPH untuk memperkuat sinergitas program PGIW di wilayah NTT.

Persidangan juga menetapkan BPP (Badan Pengawas Perbendaharaan), di antaranya Pnt. dr. Dominggus Sarambu (Gereja Toraja) sebagai ketua merangkap anggota; ST. Pardamean Situmorang (Huria Kristen Batak Protestan) sebagai sekretaris merangkap anggota; dan Dkn. Riny Sumarni (Kerapatan Injil Bangsa Indonesia) sebagai anggota.
Selain itu masih dalam release yang diketahui Pdt. Dr. Mery L. Y. Kolimon sebagai ketua dan Pdt. Kirenius Bolle, STh, MPd sebagai sekretaris, disepakati juga Majelis Pertimbangan, yaitu Ketua: Pdt. Dr. Mery L. Y. Kolimon (Gereja Masehi Injili di Timor). Pdt Merry sebelumnya menjabat sebagai ketua PGIW NTT. Wakil Ketua: Pdt. Gasper Anderius Hawu Lado (Gereja Masehi Musafir Indonesia); Sekretaris: Pdt. Kirenius Bolle (Gereja Bethel Indonesia); dan Anggota-anggota: 1. Pdt. Ayub Amheka, S.T (Gereja Kristen Perjanjian Baru Masa Depan Cerah); 2. Pdt. Leksy Henukh (Gereja Sidang Jemaat Allah).
“Dengan semangat kebersamaan dan kasih Kristus, Sidang Wilayah PGIW NTT 2025 menegaskan komitmennya untuk terus menjadi persekutuan yang hidup dan melayani, menghadirkan terang Kristus yang membuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran di tengah dunia,”demikian release.
Gereja-gereja di NTT diharapkan semakin berperan aktif dalam memajukan pendidikan, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian ciptaan sebagai wujud nyata dari iman yang bekerja melalui kasih.
Sidang Raya resmi ditutup dengan Ibadah Penutup dan doa khusus bagi MPH.
Terpilih dan Peserta Sidang pada sore hari, Rabu, 29 Oktober 2025, dengan semangat “bersinergi, melayani, dan mentransformasi dunia dalam kasih Kristus.”
Kegiatan ini diikuti oleh utusan dari 19 sinode anggota PGIW NTT, dan menjadi momentum penting bagi gereja-gereja di NTT untuk memperkuat sinergi, pelayanan, dan kesaksian di tengah tantangan sosial, ekonomi, dan budaya di wilayah ini.
Sidang Raya ini menegaskan kembali panggilan gereja-gereja di NTT untuk menjadi terang Kristus yang nyata dalam tindakan, tidak hanya melalui kata-kata dan ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari yang memancarkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran.
Dalam konteks subtema Ekklesia Domestica, keluarga dipandang sebagai gereja yang hidup, tempat iman ditanamkan, karakter dibentuk, dan kasih diwujudkan. Sidang mengajak setiap jemaat Kristiani di NTT untuk:
1. Memperkuat keluarga sebagai pusat pertumbuhan iman dan moral.
2. Mengatasi kemiskinan dan ketimpangan sosial melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan kolaborasi dengan pemerintah maupun lembaga sosial.
3. Memulihkan relasi dan memperkuat pelayanan pastoral bagi keluarga.
4. Menghadapi tantangan moral dan spiritual generasi muda dengan pendidikan kontekstual dan transformatif.
5. Menjaga integritas pemimpin gereja dan menegakkan disiplin rohani.
6. Memelihara alam dan lingkungan hidup sebagai wujud iman yang bertanggung jawab.
7. Mengadvokasi perlindungan martabat manusia, termasuk melawan kekerasan dan perdagangan manusia.
8. Mendorong pelayanan inklusif bagi penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya.
Sidang juga menekankan pentingnya kemitraan strategis antara gereja dan pemerintah dalam memperkuat ketahanan keluarga serta menangani isu-isu sosial yang dibahas, seperti kemiskinan, perdagangan manusia, kekerasan dalam rumah tangga, dan krisis lingkungan.
Pemerintah didorong untuk terus mengembangkan kebijakan dan program yang berpihak pada keluarga, pendidikan karakter, dan kesejahteraan masyarakat, sebagai bagian dari upaya bersama membangun kehidupan yang adil dan bermartabat.
Tema sidang kali ini: “Hiduplah Sebagai Terang yang Membuahkan Kebaikan, Keadilan, dan Kebenaran” (Ef. 5:8b–9). Subtema: Ekklesia Domestica (Keluarga sebagai Gereja) Menghayati Warisan Konsili Nicea. Serah terima pengurus lama dan baru direncanakan berlangsung pada Minggu, 7 Desember 2025.(RLS/TIM/STENLY)






