KUPANG—Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Republik Indonesia, Natalius Pigai, Selasa (9/6/2026) pagi, memberikan kuliah umum kepada setidaknya lebih dari 4.000 mahasiswa di aula utama Universitas Kristen Arta Wacana (UKAW) Kupang. Ribuan mahasiswa ini seperti dilaporkan, berasal dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi NTT.
Dalam forum itu, Natalius membakar spirit para mahasiswa agar memiliki jiwa petarung dan jangan takut menjadi oposisi, menyuarakan kebenaran walaupun konsekwensinya berat. Mahasiswa menurutnya harus bisa mendesain dirinya menjadi sesuatu sejak masa kuliah. Dia mencontohkan dirinya, yang ikut terjun dalam berbagai pergerakan di masa awal reformasi.
“Saya ikut terlibat dalam berbagai pergerakan. Dan saya mau sampaikan, hari ini, saya memetik hasilnya. Saya masih ingat, dulu ada Melki Laka Lena, Ansi Lema dan beberapa dari NTT. Pak Melki dan Pak Ansi akhirnya jadi anggota DPR RI,”tegas Natalius memberi contoh. Tak ketinggalan dia pun mencontohkan konsistensinya berjuang dan terus belajar, sehingga selang beberapa saat seusai feformasi, dia menjadi staf khusus Presiden RI, Abdurahman Wahid. Berbagai tanggungjawab besar terus dipercayakan kepadanya, menjadi staf khusus menteri, dari periode ke periode.
“Saya adalah bukti negara mempersiapkan pemimpin negara. Adik-adik mahasiswa harus berani, kalian pijar generasi bangsa dan suatu saat nanti saudara-saudara harus siap menjadi pemimpin,”tegas Natalius.
Hadir saat itu dalam kuliah akbar, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Wakil Gubernur Johny Asadoma, Ketua DPRD NTT, Johny Asadoma, Rektor UKAW Kupang Prof Godlief Neonufa, Kakanwil Kementerian HAM NTT, Oce Yuliana Naomi Boymau, serta pejabat lainnya.
Natalius juga mengenang masa-masa perjuangannya dulu, sewaktu aktif sebagai oposisi. Hampir setiap hari dia mengkritisi program dan kebijakan pemerintah.
“Saya setiap hari kritik pemerintah sama seperti minum obat. Pagi, siang, malam, kritik terus, saya tidak kasi napas. Orang-orang bilang saya tidak akan jadi apa-apa. Orang partai bilang saya tidak dipakai karena bukan kader partai, orang tidak anggap saya, saya tidak peduli. Mereka bilang saya akan jadi pengangguran abadi akan menderita, tidak punya apa-apa, tapi saya mau katakan, hari ini saya satu-satunya menteri dari Indonesia Timur mewakili NTT, Maluku dan Papua, juga salah satu menteri bukan kader partai, hebat kan,”tegas Pigai dengan nada nyaring, disambut riuh tepukan tangan para mahasiswa yang memenuhi aula berukuran besar itu.
Salah satu hal yang sangat emosional ketika Pigai memotivasi mahasiswa agar terus membangun citra diri dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin, walau dalam kondisi terbatas.
Dia mencontohkan dirinya yang adalah seorang anak yatim piatu dan berasal dari kampung di Papua, namun bertarung di Jakarta dan memenangkan pertarungan itu.
“Ini agar kalian percaya diri, kalian pun bisa menjadi menteri tanpa harus didukung parpol, oligarki, sekalipun kalian bukan berasal dari keluarga berada. Kalian bisa jadi pemimpin di Indonesia. Saya tidak punya siapa-siapa, saya yatim piatu. Kedua orang tua sudah meninggal. Eh, tiba-tiba menjadi menteri. Oleh karena itu kalian juga punya kesempatan untuk masa yang akan datang. Kuncinya tidak boleh bohong, harus jujur.
Saya menteri yang tidak pernah sembunyikan Rosario dan Salib dalam sidang kabinet sekalipun. Itulah Bhineka Tunggal Ika,”tegas Natalius.
Ketika menyampaikan materinya, Natalius berkali-kali menekankan tentang pentingnya penerapan nilai-nilai HAM dalam berbagai aspek.
“Mengapa ada HAM? HAM dihadirkan untuk menghadirkan keadilan. Makanya saya sampaikan, siapa yang pernah mencuri, memukul orang, merusak lingkungan, itu pelanggaran terhadap nilai-nilai HAM. HAM adalah pagar, benteng bagi dunia ini untuk mempertahankan ciptaan Tuhan. Melindungi, memproteksi dan membentengi ciptaan Tuhan,”ungkapnya.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam sambutannya berterimakasih atas perhatian KemenHAM pada NTT sehingga berbagai kegiatan dan motivasi diberi. Dia pun berharap agar nantinya Menteri Pigai terus memberi perbaikan terhadap kualitas kinerja dan pembangunan di NTT.
Kakanwil Kementerian HAM NTT, Oce Yuliana Naomi Boymau melaporkan, berbagai kegiatan dilakukan diantaranya menjalin sinergi dengan para pemangku kepentingan, termasuk lembaga perguruan tinggi untuk menanamkan nilai-nilai HAM. Termasuk kuliah umum tidak saja di Kupang melainkan di Flores beberapa saat lalu yang menghadirkan ribuan mahasiswa. (BOY)






