PGIW NTT Gelar Sidang Wilayah 2025, Gereja Didorong Hadir Sebagai Terang di Tengah Tantangan Zaman

Polkam133 Dilihat

Kupang (MEDIATOR)–, 28 Oktober 2025 — Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Timur (PGIW NTT) menggelar Sidang Wilayah Tahun 2025 di GMIT Center Kupang, pada 28–29 Oktober 2025. Kegiatan lima tahunan ini menjadi forum penting bagi 20 sinode anggota PGIW NTT untuk mengevaluasi pelayanan, memperkuat persekutuan antar gereja, serta merumuskan arah strategis pelayanan bersama periode 2025–2030.

Sidang yang mengusung tema “Hiduplah sebagai terang yang membuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran” (Efesus 5:8b–9) dan subtema “Eklesia Domestika (keluarga sebagai gereja) menghayati Warisan 1700 Tahun Konsili Nicea” ini diharapkan menjadi momentum pembaharuan komitmen eklesial gereja-gereja di NTT.

Gubernur Melki dan Pdt Merry saat berpamitan.
Foto: stenly

Acara pembukaan berlangsung khidmat dengan ibadah dan seremoni pembuka, dihadiri Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, Sekretaris Umum Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) Dr. Sigit Triyono, Uskup Agung Kupang Mgr. Hironimus Pakaenoni, serta Ketua DPRD NTT, Emiliana Nomleni, Ketua Umum PGIW NTT, Pdt. Dr. Mery Kolimon (GMIT), Sekretaris Umum PGIW NTT, Pdt. Kirenius Bolle (GBI) serta pejabat Pemprov NTT, Orde Max Sombu (Kepala Biro Hukum).

Baca Juga  Dirut PLN dan Gubernur Laiskodat Pimpin Apel Siaga Kelistrikan, Siap Sukseskan KTT ASEAN Labuan Bajo

Hadir pula pimpinan dan utusan sinode denominasi, perwakilan lembaga mitra, dan unsur pemerintah.

Panitia melaporkan, gereja harus mampu menjadi terang dan garam di tengah realitas sosial, politik, dan budaya yang terus berubah. “Persidangan ini bukan hanya soal administrasi pelayanan, tetapi tentang bagaimana gereja hadir secara profetik—menjawab tantangan zaman dengan hikmat Kristiani dan kasih yang nyata,”demikian panitia.

Kegiatan ini juga menjadi ruang evaluasi, refleksi, dan pembaharuan komitmen oikumenis.

Sidang Wilayah ini turut diisi dengan Pleno I Pembahasan Tema, menghadirkan pembicara nasional seperti pengurus PGI dengan topik “Ecclesia Domestica sebagai Tugas Gereja-Gereja di Indonesia dalam Semangat Warisan 1700 Tahun Konsili Nicea”, Uskup Agung Kupang Mgr. Hironimus Pakaenoni dengan tema “Ecclesia Domestica dan Tugas Gereja-Gereja di NTT”, serta Zerlinda Ch. A. Sanam, S.Psi., M.Psi., Psikolog yang membahas “Kesehatan Mental Generasi Muda dalam Ecclesia Domestica.”

Baca Juga  BANGGA…Presiden Pegang Haik dari Rote, Lalu Tuang Air ke Kendi  Nusantara, Ini Pesan VBL dari Titik Nol IKN

Kegiatan ini diikuti sekitar 200 peserta, terdiri dari utusan 20 sinode anggota PGIW NTT, Majelis Pengurus Harian PGIW, perwakilan Majelis Pekerja Harian PGI (Jakarta), PGID/PGIS dari beberapa kabupaten, lembaga mitra seperti UKAW, MPK, YCI/Compassion, WVI, CBN, Fukri, PGLII, GAMKI, GMKI, Perkantas, Rumah Belajar Ume Halan, serta perwakilan Pemda dan Kementerian Agama.

Gubernur Melki saat memberikan sambutan.
Foto: stenly boymau

Adapun Panitia Penyelenggara dipimpin oleh Pdt. Gatsper A. Hawu Lado, M.Th (GMII) sebagai ketua umum, Pdt. Ayub Amheka, S.T (GK Perjanjian Baru) sebagai sekretaris, dan Pdt. Cefrry Dj. Djenal, S.Th (GK Perjanjian Baru) sebagai ketua pelaksana, dengan Ibu Ekoningsih Lema (GMIT) selaku bendahara.

Baca Juga  PERHATIAN… COVID Meningkat, Mall dan Tempat Ibadah Ditutup, STOP Pesta

Melalui sidang ini, gereja-gereja di NTT diharapkan semakin solid dalam memperjuangkan nilai-nilai keadilan sosial, kelestarian lingkungan, hak asasi manusia, dan demokrasi, serta menjadi berkat bagi seluruh ciptaan.

Ketua PGIW NTT, Pdt Merry Kolimon dalam sambutannya menyebut, dari 20 gereja anggota, 3 memiliki sinode di NTT yakni GMIT, Gereja Kristen Sumba (GKS) dan GMMI.

Pdt Merry saat memberikan sambutan.

Dalam persidangan, akan ada pembahasan isu-isu penting sehingga dia meminta topik-topik ini didiskusikan dengan saling menjaga.

Sementara Gubernur NTT Melki Laka Lena menyentil pentingnya kerukunan hidup umat beragama hingga kehidupan bermedia sosial yang penuh dinamika, yakni tidak saja kabar baik melainkan ada hoax dan juta fitnah. Gereja perlu berperan penting untuk mengedukasi umat.

Sementara terkait kegiatan ini, Melki meminta agar menjadi momentum evaluasi program dan merumuskan program baru untuk periodisasi pelayanan yang baru. (Stenly boymau)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan