Kupang (MEDIATOR)– Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memberikan sinyal kuat untuk menjadikan Universitas Nusa Cendana (Undana) sebagai pusat keunggulan riset di wilayah timur Indonesia. Hal ini ditandai dengan komitmen Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Risbang) untuk mengucurkan pendanaan strategis melalui skema konsorsium guna menjawab persoalan kronis di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Dirjen Risbang sekaligus Ketua Dewan Pengawas Undana, Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., dalam hari keempat Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) Undana di Hotel Harper, Kupang, Sabtu (28/2).
Fokus pada Kemanfaatan Luas
Dr. Fauzan mengungkapkan bahwa pemerintah berencana meningkatkan anggaran riset nasional secara signifikan hingga menyentuh angka Rp12 triliun per tahun. Namun, ia memberikan catatan kritis bahwa riset masa kini harus beralih dari sekadar mengejar pemenuhan administratif menjadi riset yang memberikan dampak sosial-ekonomi yang masif.
“Hasil riset tidak boleh berhenti di meja peneliti atau hanya bermanfaat bagi satu orang. Riset Undana harus mampu dirasakan manfaatnya oleh ratusan bahkan ribuan orang di tingkat kabupaten,” tegas Dr. Fauzan.
Lima Pilar Inovasi “Undana Berdampak”
Merespons arahan tersebut, lima pakar unggulan Undana memaparkan proposal inovasi yang siap dihilirisasi melalui skema konsorsium. Kelima pilar tersebut mencakup intervensi lintas sektor, antara lain:
Kesehatan: Prof. Dr. Intje Picauly memperkenalkan model “Rukom Stunting” dan “Semanggiz” untuk rekayasa perilaku gizi berbasis komunitas.
Ketahanan Pangan: Prof. Dr. Ir. Damianus Adar menekankan penguatan industri pangan lokal yang melibatkan petani milenial.
Analisis Sosial-Spasial: Dr. Petrus Ana Andung menggunakan analisis GIS untuk memetakan kerentanan akses layanan publik di wilayah 3T.
Ekonomi dan Wilayah: Prof. Dr. Ir. Doppy Roy Nendissa menawarkan strategi intervensi untuk menekan angka kemiskinan ekstrem di zona rentan.
Lingkungan dan Perbatasan: Dr. Ir. Ludji Michael Riwu Kaho menginisiasi Dry Land Consortium untuk pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) lintas batas negara.
Pendampingan Proposal dan Penandatanganan Kinerja
Sebagai tindak lanjut, Dirjen Risbang menyatakan kesiapannya untuk mengirimkan tim ahli guna membantu para peneliti Undana menyusun proposal riset berbasis konsorsium agar layak mendapatkan pendanaan pusat. Dukungan ini disambut optimis sebagai langkah percepatan dampak riset bagi pembangunan NTT.
Kegiatan RTM hari terakhir ini ditutup dengan penandatanganan Perjanjian Kinerja (PK) antar-unit kerja di lingkungan universitas. Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., mengingatkan bahwa PK ini merupakan kontrak moral untuk memastikan seluruh target institusi tercapai tepat waktu.
“RTM ini bukan sekadar ajang evaluasi, melainkan ruang mitigasi. Jika ada kendala di lapangan, segera komunikasikan. Kita ingin tanggung jawab kinerja ini terdistribusi dengan baik sejak dini,” pungkas Prof. Jefri.
Melalui dukungan penuh dari Dirjen Risbang dan kesiapan lima kelompok riset unggulan tersebut, Undana kini memantapkan posisinya sebagai lembaga pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga menjadi mesin solusi bagi permasalahan bangsa di beranda timur Indonesia. (Audc/rls/undana/tim)






