Undana Pamerkan Inovasi Pangan dan Obat Herbal Berbasis Potensi NTT

Pendidikan268 Dilihat

Kupang (MEDIATOR)– Universitas Nusa Cendana (Undana) menegaskan komitmennya dalam menghilirisasi hasil riset akademik menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Penutupan Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) Undana 2026 di Hotel Harper, Kupang, Sabtu (28/2), diwarnai dengan pameran berbagai produk inovasi mulai dari pangan fungsional, suplemen gizi, hingga obat-obatan herbal yang seluruhnya memanfaatkan kekayaan sumber daya lokal Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pameran inovasi ini ditinjau langsung oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., yang juga menjabat sebagai Dewan Pengawas Undana. Kehadiran Dirjen Risbang mempertegas dukungan pemerintah pusat terhadap kampus yang mampu mengubah riset teoritis menjadi solusi praktis bagi masyarakat.

Hilirisasi untuk Kesejahteraan Rakyat

Produk-produk yang dipamerkan merupakan kristalisasi dari program pengabdian masyarakat yang berbasis pada kebutuhan riil daerah. Fokus utama inovasi tahun ini diarahkan pada penguatan gizi keluarga dan peningkatan pendapatan rumah tangga melalui pengolahan bahan baku lokal yang selama ini belum tergarap maksimal. Produk yang ditampilkan antara lain, Dodol Rumput Laut, Stick Lontar, Es Krim Lontar, Kacang Bintang, Salad Rumput Laut, Balsem Jahe dan Biskuit Sejagat untuk pencegahan stunting

“Produk-produk ini lahir dari rahim penelitian yang panjang. Kami mengarahkan para peneliti agar hasil karyanya tidak hanya berakhir di jurnal, tetapi memunculkan produk nyata yang bisa dikonsumsi masyarakat, terutama untuk pemenuhan gizi dan obat-obatan,” ujar Tenaga Kependidikan LP2M Undana, Anderias Nabut, S.P.

Baca Juga  Gempita Guest Star dan Suguhan Nikmat Makanan Khas Timor di Puncak OMB UKSW Salatiga 2023

Refleksi Tata Kelola Riset

Pameran ini bukan sekadar ajang unjuk produk, melainkan instrumen evaluasi bagi manajemen Undana. Melalui tampilan fisik produk-produk tersebut, universitas melakukan refleksi terhadap keterkaitan antara kebijakan anggaran, tata kelola penelitian, dan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Tampilan inovasi di bidang kesehatan, misalnya, menunjukkan bagaimana riset biomedis Undana telah mampu mengekstrak potensi tanaman obat endemik NTT “Faloak” menjadi produk kesehatan yang siap pakai dalam bentuk Sirup Kering dan Sirup Cair, yang dikemas dalam bentuk botol dan tersedia untuk pasien Diabetes Melitus (DM) dan non DM. Hal ini sejalan dengan visi universitas untuk menjadi lembaga yang berdampak secara sosial dan ekonomi.

Baca Juga  Riset Undana Jadi Rujukan Kebijakan RI-RDTL

Menuju Kemandirian Ekonomi Lokal

Dengan menampilkan hasil hilirisasi riset di hadapan Dirjen Risbang, Undana mengirimkan pesan kuat mengenai kesiapannya menjadi penggerak ekonomi daerah. Inovasi yang ditampilkan membuktikan bahwa perguruan tinggi di daerah mampu bersaing dalam menciptakan produk yang kompetitif sekaligus solutif bagi permasalahan stunting dan kemiskinan.

RTM 2026 ini resmi ditutup dengan penegasan bahwa Undana akan terus meningkatkan alokasi pendanaan internal untuk riset-riset yang berorientasi pada produk terapan. Langkah ini diharapkan dapat mendorong kemandirian pangan dan kesehatan masyarakat NTT melalui pemanfaatan kekayaan alam Flobamora secara berkelanjutan. (IyL/rls/undana/tim)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan