KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) menegaskan peran aktifnya dalam memajukan ekosistem ekonomi kreatif dan pelestarian budaya lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) pada ajang Flobamorata Creative Expo (FCE) 2026 yang berlangsung di Lippo Plaza Kupang, Jumat hingga Minggu (2–4/10/2026). Kehadiran Undana dipelopori oleh kolaborasi strategis antara Fakultas Sains dan Teknik (FST) serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) untuk memenuhi undangan resmi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi NTT. Berada di pusat keramaian pameran, booth Undana sukses menyedot perhatian pengunjung berkat deretan karya inovatif mahasiswa yang memadukan produk tenun modern berbasis teknologi digital dengan aneka produk kriya komersial.
Partisipasi aktif dalam ajang ini membuktikan bahwa riset dan karya kuliah tidak berhenti di ruang kelas, melainkan berhasil menembus pasar komersial dan memperkuat daya saing wirausahawan muda. Sementara bagi publik dan pelaku UMKM daerah, kehadiran inovasi Undana memberikan inspirasi nyata mengenai modernisasi motif tenun tradisi berbasis teknologi digital serta pemanfaatan potensi tanaman lokal NTT sebagai pewarna alami ramah lingkungan (eco-friendly) yang bernilai jual tinggi.
Pemanfaatan Teknologi Digital dan Pewarna Alam dalam Industri Tenun
Pada ajang tersebut, Program Studi (Prodi) Teknik Pembuatan Tenun Ikat FST Undana memamerkan deretan koleksi busana dan kriya unggulan, seperti kain tenun, selendang, dress, topi, tas laptop, tas santai, hingga tas rajut. Seluruh produk ditawarkan dengan harga variatif, mulai dari selendang seharga Rp150.000, tas rajut Rp300.000, hingga kain tenun eksklusif seharga Rp1.000.000 per lembar. Para mahasiswa FST telah memanfaatkan teknologi digital design untuk merancang motif secara presisi, efisien, dan modern sebelum dieksekusi pada alat tenun.
Rambu E. Yewanhu, mahasiswa Prodi Teknik Pembuatan Tenun Ikat FST Undana, mengungkapkan bahwa seluruh pameran ini menjadi bukti nyata kemampuan generasi muda dalam memproduksi karya budaya.
“Di sini kami memamerkan selendang karya mahasiswa, kain tenun, tas rajut, dress, topi, hingga gantungan kunci dan benang dari pewarnaan alami. Kami ingin membuktikan bahwa mahasiswa bisa menghasilkan produk yang rapi dan siap bersaing di pasar,” ujar Rambu saat ditemui di lokasi pameran.
Penguatan teori di kampus FST Undana diimbangi dengan akses langsung ke lapangan melalui kemitraan bersama Kampung Tenun Alor dan Kampung Tenun Inandao. Selain penguasaan teknologi digital, mahasiswa dibekali pemahaman pemanfaatan potensi tanaman lokal NTT sebagai pewarna alami ramah lingkungan guna menanamkan prinsip ekologi dan keberlanjutan.
Perwakilan dosen Prodi Teknik Pembuatan Tenun Ikat FST Undana, Napsiyana Asti Weo, S.T., M.T., menegaskan bahwa inovasi ini diproduksi langsung oleh mahasiswa melalui pendampingan berkelanjutan.
“Anak-anak merealisasikan hasil motif mereka melalui digital design, lalu turun langsung ke kampung tenun mitra. Selain sintetis, kami fokus melatih mahasiswa memanfaatkan potensi tanaman lokal NTT sebagai pewarna alam agar mereka paham prinsip ekologi dan keberlanjutan,” jelasnya.
Latihan Bisnis Mikro dan Kriya Inovatif Mahasiswa Manajemen
Dari sudut pandang pengembangan bisnis, mahasiswa Prodi Manajemen FEB Undana turut menampilkan aneka produk kriya ekonomis, seperti gelang, gantungan kunci, lilin hias, hingga inovasi lilin aromaterapi. Produk-produk fungsional ini dijual dengan harga terjangkau antara Rp19.000 hingga Rp25.000 untuk melatih sensitivitas bisnis mahasiswa dalam menangkap peluang pasar mikro.
“Kami membawa produk-produk kecil yang fungsional seperti lilin aromaterapi ini. Harapan saya, semoga anak-anak muda bisa lebih kreatif lagi dan tumbuh jiwa kewirausahaannya, khususnya bagi kami anak-anak ekonomi dan bisnis,” ungkap mahasiswa Prodi Manajemen FEB Undana, Maria Kristiana Aso, penuh semangat.
Penggabungan dua disiplin ilmu dalam pameran FCE 2026 menegaskan posisi Undana sebagai motor penggerak ekonomi daerah yang siap mencetak wirausahawan muda kreatif dan berdaya saing. Langkah kolaboratif ini terbukti efektif dalam menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan pasar komersial di tingkat regional maupun nasional.
Pelopor Pendidikan Tenun untuk Masa Depan Warisan Budaya
Keterlibatan aktif mahasiswa dan dosen menjadi jaminan keberlanjutan pembinaan UMKM berbasis kearifan lokal di Nusa Tenggara Timur. Sebagai prodi pertama dan satu-satunya di Indonesia, Prodi Teknik Pembuatan Tenun Ikat FST Undana memiliki visi jangka panjang untuk mengubah persepsi publik terhadap karya tradisional. Kehadiran program studi ini diharapkan mampu membawa warisan budaya tenun ke tingkat yang lebih tinggi dan bernilai ekonomi tinggi.
Menutup keterangannya, Napsiyana Asti Weo menegaskan harapan besar civitas akademika Undana terhadap pelestarian tenun bagi generasi muda.
“Sebagai prodi pertama di Indonesia, kami berharap prodi ini menjadi motor penggerak yang berdampak luas. Kami ingin generasi muda tidak lagi melihat tenun sebagai sesuatu yang kuno atau tradisional saja, melainkan karya warisan bernilai tinggi yang bisa diangkat ke tingkat yang lebih baik,” pungkasnya. (IyL/RLS/UNDANA/BOY)






