SMKN 5 Kupang Turut Berkontribusi dalam Percepatan Pemanfaatan Energi Terbarukan di  NTT

Pendidikan268 Dilihat

KUPANG—Siapa sangka, ternyata SMKN 5 Kupang turut serta berkontribusi dalam percepatan pemanfaatan energi terbarukan di Provinsi NTT. Dan, kontribusi tersebut diwujudkan melalui pelatihan dasar energi terbarukan yang diselenggarakan oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) bagi organisasi masyarakat sipil (Civil Society Organization/CSO) di NTT pada 28–29 September 2026.

Dalam kegiatan tersebut, tim guru Program Keahlian Teknik Energi Terbarukan SMKN 5 Kupang yang terdiri atas Hongri Junide Kasse, S.Pd., Nitanel R.I. Nenohai, S.Pd., dan Yanthonius Marion Hietingwati, S.Pd., terlibat sebagai fasilitator pembelajaran. Tim tersebut memberikan pembekalan kepada peserta mengenai dasar-dasar energi terbarukan, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Keterlibatan SMKN 5 Kupang menjadi bagian dari upaya sekolah untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman praktis di bidang energi terbarukan kepada masyarakat sipil. Pembelajaran mencakup pemahaman dasar teknologi PLTS sebelum peserta mengikuti praktik langsung di lapangan.

SMKN 5 Kupang Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman Praktis

Pelatihan tersebut tidak hanya membahas teori mengenai energi terbarukan, tetapi juga memperkenalkan cara melihat teknologi energi dari perspektif kebutuhan masyarakat.

Peserta diperkenalkan pada berbagai komponen utama PLTS, prinsip dasar sistem tenaga surya, kebutuhan energi, serta hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum sebuah sistem PLTS dirancang dan diterapkan.

“Energi terbarukan tidak cukup hanya dipahami dari sisi teknologinya. Kita juga harus memahami kebutuhan pengguna, kondisi lokasi, pola penggunaan energi, dan bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan manfaat nyata,” ujar Hongri Kasse dalam release media.

Baca Juga  Mahasiswa Undana Hadirkan Teknologi Siasati Keterbatasan Lahan di Pesisir Nunbaun Sabu

Adapun pemahaman seperti ini penting bagi CSO karena organisasi masyarakat sipil memiliki posisi strategis dalam mengedukasi masyarakat, menyuarakan kebutuhan di tingkat lokal, sekaligus berkontribusi dalam mendorong kebijakan transisi energi.

Dari Ruang Pembelajaran ke Lokasi Masyarakat

Pembelajaran kemudian dilanjutkan melalui kegiatan site assessment di rumah produksi ayam kampung OEL HUN, Desa Fatuteta, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang.

Di lokasi tersebut, peserta melihat secara langsung bagaimana energi listrik digunakan untuk mendukung aktivitas produktif masyarakat, termasuk penerangan dan pengoperasian mesin penetas telur.

Kegiatan lapangan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk menghubungkan pengetahuan dasar PLTS yang diperoleh melalui pembelajaran bersama tim SMKN 5 Kupang dengan kondisi nyata di masyarakat.

Tim fasilitator turut mendampingi proses pembelajaran dengan memberikan perspektif teknis mengenai bagaimana kebutuhan energi dan kondisi lokasi menjadi bagian penting dalam menentukan solusi PLTS.

“Jangan memulai dari panelnya. Mulailah dari kebutuhannya. Kita harus tahu apa yang ingin dinyalakan, berapa lama digunakan, bagaimana kondisi lokasi, dan sumber energi apa yang tersedia. Setelah itu baru kita menentukan sistem yang tepat,” jelas Hongri.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penerapan energi terbarukan tidak semata-mata berkaitan dengan pemasangan panel surya, tetapi membutuhkan proses identifikasi kebutuhan dan perencanaan yang tepat.

Pentingnya Pemahaman Energi Terbarukan bagi CSO

Baca Juga  Sekolah Rakyat Persembahan Presiden Prabowo untuk Masyarakat NTT Mulai Beroperasi Juli

CSO tidak harus menjadi teknisi PLTS. Namun, pemahaman dasar mengenai energi terbarukan penting agar mereka dapat terlibat secara lebih bermakna dalam isu transisi energi.

“CSO tidak harus memasang panel surya sendiri. Tetapi ketika mereka berbicara tentang energi terbarukan, mereka perlu memahami dasar teknologinya, manfaatnya, keterbatasannya, dan bagaimana teknologi itu diterapkan di lapangan,” katanya.

Data yang disampaikan IESR dalam kegiatan tersebut menunjukkan potensi energi surya NTT sekitar 338,59 GWp berdasarkan analisis awal. Potensi tersebut menjadi peluang bagi daerah untuk mengembangkan sumber energi bersih sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Namun, potensi sumber daya saja tidak cukup.

“Potensi energi yang besar harus dibarengi dengan sumber daya manusia yang memahami bagaimana potensi tersebut dimanfaatkan. Karena itu, pendidikan, pelatihan, dan peningkatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting dari transisi energi,” ujar Hongri.

Peran SMKN 5 Kupang

Keterlibatan SMKN 5 Kupang dalam kegiatan IESR memperlihatkan pentingnya peran sekolah kejuruan, tenaga pendidik, dan praktisi lokal dalam membangun ekosistem energi terbarukan di NTT.

Melalui Program Keahlian Teknik Energi Terbarukan, SMKN 5 Kupang selama ini mengembangkan pembelajaran dan kompetensi siswa pada bidang energi surya serta teknologi energi terbarukan.

Pengetahuan yang diperoleh melalui proses pendidikan tersebut dipadukan dengan pengalaman praktis di lapangan untuk memberikan pembelajaran yang lebih kontekstual kepada peserta.

Keterlibatan Hongri Junide Kasse, S.Pd., Nitanel R.I. Nenohai, S.Pd., dan Yanthonius Marion Hietingwati, S.Pd. menunjukkan kontribusi bersama SMKN 5 Kupang dalam berbagi perspektif pendidikan dan praktik PLTS kepada CSO.

Baca Juga  Beasiswa Fellowship LPDP 2026 Dibuka: Peluang Emas Dokter Spesialis di NTT

Kolaborasi antara lembaga seperti IESR, sekolah, praktisi, CSO, pemerintah, dan masyarakat menjadi penting untuk memastikan transisi energi di NTT tidak hanya menjadi agenda kebijakan, tetapi juga dapat dipahami dan diterapkan di tingkat lokal.

SMKN 5 Kupang menilai bahwa pembicaraan mengenai energi terbarukan pada akhirnya harus bermuara pada kebutuhan masyarakat.

 

Energi surya, misalnya, dapat dikembangkan untuk mendukung berbagai aktivitas produktif seperti pertanian, peternakan, UMKM, pendidikan, pariwisata, hingga kebutuhan energi masyarakat di wilayah yang memiliki keterbatasan akses listrik.

 

“Bagi saya, energi terbarukan bukan sekadar tentang panel surya. Yang lebih penting adalah bagaimana sumber energi yang tersedia di daerah dapat kita ubah menjadi solusi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ungkap Hongri.

 

Melalui kegiatan pelatihan dan praktik lapangan tersebut, SMKN 5 Kupang berharap semakin banyak pihak di NTT yang memiliki pemahaman dasar mengenai energi terbarukan dan mampu mengambil bagian dalam proses transisi energi.

 

Dari ruang pembelajaran di SMKN 5 Kupang hingga praktik site assessment di Desa Fatuteta, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa percepatan energi terbarukan membutuhkan lebih dari sekadar teknologi.

 

Dibutuhkan pengetahuan, keterampilan, kolaborasi, dan keterlibatan masyarakat lokal agar energi bersih benar-benar dapat menjadi bagian dari pembangunan NTT yang berkelanjutan. (RLS/TIM)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan