Randy Badjideh Terlalu Berbelit-belit, Tidak Ada Hal yang Meringankan di Pengadilan

Metro179 Dilihat

MEDIATORKUPANG.COM, KUPANG—Sidang kasus pembunuhan terhadap Astrid Manafe dan bayinya Lael Maccabee, dengan terdakwa Randy Badjideh, Senjn (18/7/2022) terungkap bahwa Randy Badjideh, selama kasus ini bergulir, sikapnya tidak baik pada jalannya persidangan.

Perbuatan terdakwa berdasarkan tuntutan JPU, masuk dalam kategori sadis dan tidak berperikemanusiaan. Tidak hanya itu, terdakwa juga tidak menunjukan rasa empati sekalipun, tidak terus terang mengakui perbuatannya, bahwa terdakwa berbelit-belit dalam memberikan keterangan. Karena itu hal-hal yang meringankan tidak ada berdasarkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri Kelas IA Kupang ini.

Sidang ini dipimpin hakim ketua Wari Juniati didampingi empat orang hakim masing-masing Reza Tirama, Oka Mahardika, Teddy windiantono dan Murtad. Tuntutan diawali dengan pembacaan kronologi dari awal pemeriksaan saksi sampai pada keterangan ahli. Sementara JPU yang hadir, Harry Franklin, Siska Marpaung, dan Herman rekodeta. Adapun point-point rujukan yang dibacakan oleh ketiga JPU antara lain proses penjemputan korban Astrid  bersama anaknya sampai pada eksekusi.

Baca Juga  Nyawa Terancam, PH Randy Badjideh Laporkan Dua Akun ke Polda NTT

“Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 340 KUHAP Pidana junto pasal 55 ayat 1 dalam dakwaan pertama primer dan pasal 80 ayat 4 junto pasal 76c  UUD  no 35  tahun 2014 tentang perubahan UU no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dalam dakwaan kedua Primer maka terdakwa wajib dihukum setimpal dengan perbuatannya,”demikian tuntutan JPU.

Berdasarkan uraian diatas JPU dalam perkara ini memperhatikan ketentuan UU yang bersangkutan menuntut. Pertama terdakwa Randy terbukti bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana dan kekerasan orangtua terhadap anak. Kedua menuntut terdakwa Randy Badjideh dengan hukuman mati, serta ketiga menyatakan beberapa barang bukti berupa topi penutup kepala anak dan sebagainya. Terhadap tuntutan ini, PH terdakwa Benny Taopan dan Yance Mesakh meminta waktu dua minggu untuk menyusun pembelaan (pledoi), dan sidang dijadwalkan lagi pada tanggal 1 Agustus 2021. (MAG1/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *