Mentor Politik Prabowo

Opini802 Dilihat

Isidorus Lilijawa

(Kader Gerindra)

Setiap guru ada gurunya. Setiap politisi ada mentor politiknya. Karena memang tidak ada seseorang yang menjadi orang tanpa diarahkan, dibimbing dan didampingi oleh yang lain. Mentor adalah seseorang yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas dalam suatu bidang tertentu dan siap membantu orang lain untuk mencapai tujuan mereka dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Mentor juga hadir dengan keteladanannya, contoh hidupnya, kata-kata motivasinya.

Dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Gerindra dan Apel Akbar Kader Gerindra yang digelar tanggal 30 – 31 Agustus 2024 lalu di Hambalang – Bogor dan Indonesia Arena Kompleks Gelora Bung Karno, Ketua Dewan Pembina / Ketua Umum Partai Gerindra yang juga presiden terpilih, Prabowo Subianto berkisah tentang mentor politiknya. Yang menarik dalam catatan saya, Pak Prabowo mengisahkan mentor politiknya dalam dua kesempatan yang berbeda. Yang pertama di Garuda Yaksa Hall Hambalang saat Rapimnas bersama semua pengurus DPP, DPD, DPC, organisasi sayap Partai Gerindra se-Indonesia. Lalu yang kedua, di Indonesia arena di hadapan 5.000-an peserta apel kader Gerindra se-Indonesia, di hadapan begitu banyak anggota legislatif Gerindra yang terpilih dan di depan para calon kepala daerah yang diusung dan didukung Partai Gerindra.

 Tiga Sosok

Ada tiga sosok yang menjadi mentor politik Prabowo. Yang pertama, tentu ayahnya sang begawan ekonomi Indonesia, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, yang lahir 29 Mei 1917 dan meninggal 9 Maret 2001. Prabowo berkisah, sebelum saat-saat terakhir hidupnya, dan dalam keadaan yang lemah, Pak Soemitro memanggil Prabowo dan memberikan pesan ini. “Prabowo, selalu berpihak kepada rakyatmu. Kau tidak akan pernah salah.” Ini adalah pesan terakhir yang sangat penting dari sang ayah, yang tidak pernah berakhir dalam perjuangan seorang Prabowo.

Petuah sang ayah ini adalah refleksi dari perjuangan panjang seorang Prof. Soemitro bagi bangsa dan negaranya Indonesia. Prof. Soemitro adalah seorang patriot dan nasionalis yang mempersembahkan seluruh hidupnya, jiwa dan raganya untuk bangsa dan negara Indonesia. Pada masanya ia adalah seorang ekonom terkenal sekaligus politisi Indonesia. Ia menduduki berbagai jabatan penting sebagai menteri di era Orde Lama maupun Orde Baru.

Baca Juga  Gerindra yang Akbar – Gerindra yang Akrab (Catatan 17 Tahun Gerindra)

“Berpihak kepada rakyat, tidak akan pernah salah”. Inilah yang menginspirasi seorang Prabowo untuk selalu dekat dan akrab dengan rakyat. Ia mendirikan Partai Gerindra sebagai alat perjuangan untuk membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Prabowo pernah kalah berkali-kali dalam pertarungan politik. Tetapi ia tidak akan pernah salah, karena ia dekat dengan rakyat. Karena itu, Pemilu Presiden Pebruari 2024 lalu adalah pembuktian bahwa yang dekat dengan rakyat, pada saatnya tidak akan salah, dan tidak kalah lagi.

Sosok kedua, yang menjadi mentor politik Prabowo adalah Raden Panji Mohammad Noer, Gubernur Jawa Timur periode 1967 – 1976. Gubernur yang akrab disapa masyarakat Jawa Timur dengan sebutan Cak Noer ini lahir 13 Januari 1918 dan meninggal 16 April 2010. Suatu waktu, saat bertemu dengan Prabowo, gubernur Cak Noer ini berpesan demikian. “Mas Bowo, tugas pemimpin itu yen wong cilik iso gemuyu (membuat rakyat kecil bisa tersenyum)”. Cak Noer menjadi gubernur yang disukai rakyat Jawa Timur. Ia adalah gubernur legendaris. Pada masanya ia sudah menggagas pembangunan jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura yang saat ini dikenal sebagai jembatan Suramadu. Ada anekdot, saking beliau dicintai rakyatnya, kalau ditanya siapa gubernur Jawa Timur, warga Jatim spontan menjawab, yah Cak Noer. Nah, kalau gubernur yang sekarang, warga menjawab, itu penggantinya.

Tugas pemimpin itu kelihatan sederhana ‘yen wong cilik iso gemuyu’, tetapi tidak mudah diwujudkan. Prabowo belajar dari petuah bijaksana Cak Noer ini. Jangan sekali-kali membuat rakyat menangis karena ulah sang pemimpin. Tugas pemimpin jelas, membuat rakyat tersenyum, membikin rakyat tertawa, menjadikan rakyat bahagia. Karena itu, pemimpinlah yang harus menangis bila melihat rakyat susah, pemimpinlah yang mesti bersedih jika mendengar kisah rakyat menderita. Tangisan dan kesedihan pemimpin menjadi daya dorong untuk bekerja sungguh-sungguh, berikhtiar lebih kuat, berjuang lebih keras agar rakyat bisa tersenyum lagi.

Di setiap acara partai, Prabowo selalu memberikan pesan ini kepada seluruh kader Gerindra. “Jika kalian tidak bisa membantu 1.000 orang, minimal bantulah 100 orang. Bila kalian tidak bisa membantu 100 orang, cukuplah membantu 10 orang. Kalau 10 orang tidak bisa kalian bantu, berusahalah untuk membantu 1 orang saja. Tetapi kalau 1 orang saja kalian tidak bisa bantu, maka cukuplah dengan tidak menyusahkan orang lain.” Ini pesan penting, karena dengan tidak menyusahkan orang lain, mungkin kita bisa membuatnya tersenyum.

Baca Juga  MEMBACA GESTUR PRABOWO YANG ‘MENOLAK’ DIKAMPANYEKAN DI MASJID ISTIQLAL

Figur ketiga yang menjadi mentor politik Prabowo adalah gubernur NTT periode 1978 – 1988, Brigjen TNI (Purn.) dr. Aloysius Benedictus Mboi, M.PH yang lahir 22 Mei 1935 dan wafat 23 Juni 2015. Gubernur Ben Mboi adalah seorang yang mengawali karir di dua bidang sekaligus yakni kesehatan dan militer pada waktu bersamaan. Sebagai prajurit, Ben Mboi pernah ikut dalam operasi naga sebagai bagian dari Operasi Trikora untuk merebut Irian Barat dari Penjajahan Belanda.

Pada suatu kesempatan, dalam perjumpaan dengan Pak Ben Mboi, ada petuah (yang kalau dalam TNI dibahasakan sebagai perintah atau instruksi) kepada Prabowo. Petuah itu begini. “Prabowo, love your people, use your common sense. Prabowo, cintai rakyatmu dan gunakan akal sehatmu). Mungkin Pak Ben Mboi paham bahwa Prabowo kala itu sedang berusaha mendirikan partai dan akan menjadi pemimpin politik di tanah air suatu saat nanti. Maka pesan beliau sangat bermakna, cintai rakyat dan gunakan akal sehat.

Pesan Gubernur Ben Mboi terus menginspirasi Prabowo hingga saat ini, bahkan di saat beliau sedang mempersiapkan diri untuk dilantik sebagai Presiden RI 20 Oktober 2024 mendatang. Tugas pemimpin dan kewajiban moral pemimpin itu mencintai rakyatnya. Tetapi dengan satu prasyarat, gunakan akal sehat. Mencintai rakyat tidak harus melalui hal-hal yang bertentangan dengan regulasi dan kebijakan umum. Mencintai rakyat harus tetap dalam koridor aturan. Anda tidak bisa menjadi pemimpin yang korup hanya karena alasan mencintai rakyat. Itu nonsense. Maka benar mendiang Pak Ben Mboi, love your people, use your common sense.

Begitu hormat dan cintanya Prabowo pada seniornya Ben Mboi, seingat saya di awal-awal pembentukan Partai Gerindra tahun 2008 silam, Prabowo berkunjung dan berjumpa Pak Ben Mboi di kediamanya Oetona Kelurahan Bakunase 2 Kota Kupang. Ketika menjadi Menteri Pertahanan RI, Prabowo menginisiasi berdirinya Politeknik Universitas Pertahanan (Unhan) di Atambua Kabupaten Belu. Sekali lagi untuk menghormati sang mentor politiknya, Politeknik Universitas Pertahanan ini dinamakan Politeknik Unhan Ben Mboi. Pada tanggal 24 Maret 2022, saat Presiden Jokowi meresmikan politeknik Unhan ini, hadir langsung ibu Nafsiah Mboi, isteri mendiang Pak Ben Mboi untuk menerima apresiasi dari Kementerian Pertahanan dan Pemerintah RI.

Baca Juga  Segalanya Mengalir, Maka Hukum Pun Harus Bergerak

Pendekar Politik

Tiga mentor politik Prabowo semuanya memberikan petuah penting untuk menjadi pemimpin rakyat, pemimpin bangsa. ‘Selalu berpihak pada rakyat, selalu membuat rakyat tersenyum, selalu mencinta rakyat dengan akal sehat’, ini adalah tugas pemimpin. Tugas dan tanggung jawab moral yang akan Prabowo emban sebagai Presiden RI lima tahun ke depan. Tetapi hemat saya ini juga merupakan panduan bagi setiap calon pemimpin, bagi para calon kepala daerah yang sedang berjuang mendapatkan amanah rakyat, bagi para anggota legislatif yang telah diberi tanggung jawab untuk menjadi jembatan aspirasi rakyat.

Karena setiap petuah para mentor di atas harus diperjuangkan dan mesti diupayakan, maka bagi Prabowo para kader Gerindra tidak cukup menyebut dirinya sebagai politisi atau politikus. Baginya, para kader Gerindra adalah pejuang politik dan pendekar politik. Ini yang selalu ditekankan dan disampaikan kepada seluruh kader Gerindra. Sebagai pendekar politik, jatuh itu biasa. Kalah dan dikalahkah dalam pertarungan itu biasa. Tetapi jiwa ksatria harus terus menyala agar setiap jatuh bisa bangkit lagi, setiap kalah bisa berjuang lagi.

Di hadapan ribuan kader dalam Rapimnas Gerindra di Hambalang, Prabowo menyampaikan terima kasih kepada seluruh kader yang terus setia di jalan perjuangan bersamanya. “Saya jatuh berkali-kali. Setiap kali saya jatuh, kalian mengangkat saya. Saya jatuh lagi, kalian mengangkat saya lagi. Saya berterima kasih untuk kesetiaan kalian semua.” Dari pengalaman kejatuhan itu, Prabowo bangkit, berbenah, berjuang lagi hingga akhirnya meraih kemenangan dalam Pilpres. Tidak cukup memang hanya menjadi politisi. Kita perlu bertransformasi menjadi pejuang politik bahkan hingga level pendekar politik. Prabowo adalah mentor politik kita dalam hal patriotisme, konsistensi perjuangan, kesetiaan bersama rakyat. Buahnya, Gerindra menjadi akbar dan akrab di hati rakyat Indonesia. Salam Indonesia Raya! ***

Posting Terkait

Jangan Lewatkan