SoE (MEDIATOR)–Setelah melalui tahapan yang panjang dan proses yang cukup menyita energy sejak November 2024 akhirnya 28 Juli 2025, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)/Dapur Sehat beroperasi.
SPPG Desa Koa, Kecamatan Mollo Barat, Kabupaten TTS, NTT adalah sekaligus model bagi standar dapur di wilayah selain 3 T & terisolasi dari aspek 3 A. ACCESSSIBILITY , AVAIALABILITY, AFFORDABILITY. Untuk diketahui akses menuju Desa Koa harus melintasi dua sungai yang mengelilingi kawasan tsb (semacam enclave). Di sisi lain membangun sarana dapur sehat adalah tantangan tersendiri dari sisi logistik mulai dari pembangunan fisik dapur, pengadaan peralatan. Terakhir dan cukup penting adalah ketersedian SDM yang mengelola dapur mulai dari rantai pasok bahan baku, ketrampilan sukarelawan dapur yang 100% warga desa mulai dari produksi, packing sampai distribusi ke sekolah serta pengaturan internal sekolah. Tantangan ini sudah dipetakan dan disimulasikan akhir tahun 2024 sampai menemukan botle neck-nya untuk mitigasi ketika resmi beroperasi.

Foto: ist
Terpantau, para orangtua-anak bersyukur dan bersukacita bahwa program MBG menjawab ketidakberdayaan mereka yang belum mampu menyediakan sarapan atau makan sesuai dengan standar gizi seimbang.
Dari beberapa anak yang ketika ditanyakan pada saat menyatap MBG sebagian besar tidak pernah sarapan pagi. Jikalau ada yang sempat sarapan itupun hanya nasi kosong dan garam atau roti donat yang belum tentu bergizi dan sehat.
Pantauan Mediatorkupang.com di SDN Fafioban dan SDN Koa serta SMP Satu Koa 99% makanan yang disediakan bagi penerima manfaat berjumlah 1,267 murid (PAUD, SD, SMP, SMA) termasuk 44 sasaran 3 B (Bumil Busui, Balita Non PAUD) omprengnya bernar-benar bersih.
Bahkan dari beberap murid yang ditanyakan jarang sekali makan daging atau jauh dari standar pemenuhan gizi seimbang.
Yang patut menjadi perhatian BGN sedapat mungkin menyediakan MBG juga bagi para guru yang mengajar di Desa Koa. Ada yang menempuh jarak 44 kilometer dengan motor selama 2,5 jan dari Niki-Niki.
Jangan sampai mereka hanya menonton ketika siswanya makan. Sementara pada musim hujan tidak dapat melintasi sungai karena banjir dan juga sangat luas.
Ka SPPG Koa, Adi Ketut yang berasal dari Bali mencatat harapan para guru untuk disampaikan ke BGN Pusat mengacu pada kondisi 3 T dan terisolasi. Ka SPPG Koa juga dibantu oleh seorang ahli gizi dan tenaga akuntan selain 18 sukarelawan dapur.
Tantangan ke depan adalah rantai pasok namun dampak dari Program MBG para warga desa sudah memulai menanam sayuran dan buah, ternak ayam potong-petelor. Beras bukan masalah karena Desa Koa sendiri merupakan lumbung beras hasil dari kurang lebih 800 hektar sawah. Buah selain pisang seperti jeruk, lemon, semangka merupakan tantangan tersendiri. Disamping itu ketersediaan air bersih untuk masak kualitas air di Koa yang mengandung kapur, managemen dapur harus mendatangkan air galon dari Takari Kabupaten Kupang yang merupakan tetangga terdekat Kabupaten TTS.
MBG: Wujud Negara Hadir
Menanggapi isi hati yang mengucap syukur disertai harapan masyarakat Tenaga Ahli Utama Badan Gizi Nasional, Florencio Mario Vieira yang hadir pagi-pagi sekali di lokasi untuk memantau proses produksi dan pemorsian di SPPG Koa sampai distribusi ke sekolah dan posyandu, mengatakan bahwa patut mensyukuri dan dia merasakan isi hati setiap anak melalui mata mereka.
“Pengalaman saya lintang buana mendampingi kelompok yang termarginalkan terlebih di kawasan Indonesia bagin timur, Program MBG ini sungguh – sungguh menjawab kebutuhan rakyat kecil apalagi di kawasan 3 T yang tertinggal dan tersisolasi,”tegas mantan pejabat Pemprov NTT itu menambahkan “Negara hadir secara tersistem, terstuktur dan massive melalu Program MBG untuk menjawab akar masalah rakyat kecil terlebih pemenuhan gizi mulai dari 3 B (Bumil, Busui, Balita) dan murid mulai Paud, SMP, SMA menuju Indonesia Emas 2045.”
Disamping itu sekaligus membangun kesadaran bersama disertai aksi nyata untuk mengerakan pertumbuhan perekonomian rakyat di pedesaan dimana uang negara langsung dari pemerintah pusat mengalir di kawasan SPPG Koa sekitar Rp 495 juta per bulan utk sasaran 1,267 penerima manfaat. Inilah sungguh kebijakan afirmasi yang pro rakyat dg konsep ekosistim yang terintegrasi (hulu sampai hilir).
Keberanian disertai keteguhan hati untuk membuat perubahan radical oleh Presiden Prabowo Subianto juga dapat dijalankan oleh simpul-simpul rakyat dan yakin akan keberhasilan program MBG untuk mewujudkan amanah pembukaan UUD 45 yakni mencerdaskan dan mensejaterahkan kehidupan bangsa melalui afirmasi bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi kerakyatan. (RLS/TIM/BOY)






