Kupang (MEDIATOR)—Sebanyak tiga buah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kupang Provinsi NTT dipersiapkan menjadi mitra UNICEF (United Nations Children’s Fund), sebuah badan PBB yang bekerja di lebih dari 10 negara untuk menyelamatkan anak-anak.
Ketiga SPPG ini yakni SPPG Fatuleu, SPPG Takari dan SPPG Am’abi Oefeto. Kepastian informasi ini disampaikan dalam kegiatan “Lokakarya Persiapan Penguatan Program Pendidikan dan Gizi, serta Koordinasi Penyelenggaraan Rantai Pasok Bahan Baku Pangan” yang dilaksanakan Jumat (10/4) di Aula Fernandez Kantor Gubernur NTT.
Kepada Mediatorkupang.com di sela-sela acara, Tenaga Ahli Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Sosial, Florencio Mario Vieira mengkonfirmasi kebenaran informasi ini.
“Jelas bahwa ada tiga SPPG di Kabupaten Kupang yang menjadi mitra UNICEF. Mengenai faktor apa yang menyebabkan ketiga SPPG ini yang dipilih, itu berdasarkan penilaian teman-teman UNICEF,”tegas Mario menambahkan, program ini adalah kolaborasi antara Badan Gizi Nasional, UNICEF dengan Pemerintah Provinsi di daerah kabupaten kota yang berkaitan dengan penguatan kapasitas sekolah-sekolah yang dilayani oleh pihak SPPG di Kabupaten Kupang. Dan kolaborasi pihak-pihak ini terlaksana demi peningkatan kapasitas kependidikan di sekolah, juga kapasitas tata kelola MBG.
Diakui, pihak Badan Gizi Nasional mengapresiasi langkah ini sebagai sebuah inovasi pelayanan yang mumpuni, yang akan berdampak pada meningkatnya kualitas pelayanan di SPPG tak hanya terkait mutu makanan yang disajikan melainkan sumber daya pengelola.
“Sekarang mereka sedang dipersiapkan. Tidak lama lagi,”tegas mantan pejabat Bappeda Provinsi NTT di era Frans Lebu Raya itu.
Sedangkan saat memberikan materi di tempat yang sama, Mario menegaskan kepada stakeholder terutama para pengelola SPPG di Kabupaten Kupang agar bersungguh-sungguh dalam melaksanakan program MBG yang menjadi andalan pemerintahan Prabowo.
“Kita mestinya bersyukur karena kehadiran Program MBG ini memberi multiplayer effect yang tinggi karena berdampak kemana-mana. Seperti sumberdaya pertanian, peternakan dan sebagainya. Yang harus dijaga adalah rantai pasoknya,”ujar Mario sembari terus meminta kepada para pengelola SPPG agar merubah mindsetnya bahwa program ini hadir untuk menjawab kebutuhan pemenuhan gizi anak juga memperkuat ekonomi di tingkat akar rumput karena peternak, petani sayur merasakan manfaatnya.
“Kepada SPPG yang dipilih UNICEF, saya minta agar kalian harus menjadi contoh yang baik. Jangan bikin malu Pak Presiden dan juga BGN. Tunjukkan kalian utusan yang bisa diandalkan karena setiap mata akan tertuju kepada kalian, mereka akan datang belajar di kalian. Kita tentu bangga karena kalian menjadi handal, apalagi kalian jadi mitra UNICEF,”tegas Mario menambahkan “Yang paling utama adalah dlm rangka mewujudkan tujuan kerjasama maka dibutuhkan kolaborasi yg baik maka hal yang perlu dihayati adalan melalui koordinasi, komunikasi dan interaksi, responsif terhadap keadaan, keterbukaan dan bertanggungjawab disertai kerendahan hati. Sepanjang kita masih diberi napas kehidupan maka itu bagian dari proses pembelajaran dimana jangan pernah puas dan merasa sudah tau segalanya tapi terus belajar, belajar, dan belajar.” Di akhir statemennya, Mario menambahkan tahapan menjadi social entreprenuer yang unggul adalah
1. Learning to know
2. Learning to do
3. Learning to implement
4. Learning to organize
Utk itu Kepala SPPG harus terus meningkatkan kompetensi sebagai social entreprenuer yg handal.
(Stenly boymau)





