Bertha Tanaem Asal TTS Bicara Tentang Pelestarian Tenun dan Pemberdayaan Perempuan di Amsterdam

Nuansa NTT877 Dilihat

Amsterdam (MEDIATOR)–Diskusi tentang proses pembuatan Tenun, pelestarian tradisi dan kearifan lokal, serta makna filosofis dari setiap pola—yang menggambarkan hubungan mendalam antara alam, masyarakat, dan nilai-nilai spiritual dilakukan di Amsterdam pada Jumat 23 Mei 2025. Iven paling penting ini menghadirkan Myra Widiono (Pendiri Rumah Rakuji dan Ketua WARLAMI – Lembaga Pewarna Alam Indonesia), Loes Leatemia dari Weaving Worlds, dan Bertha Tanaem dari Indonesia Nederland Youth Society (INYS), dengan moderator Olivia de Ruiter juga dari Weaving Worlds.

Para pembicara menekankan pentingnya mendokumentasikan teknik tenun tradisional di seluruh nusantara dan mempromosikannya secara internasional untuk memastikan relevansi dan keberlanjutannya.

Bertha Tanaem Asal SoE, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang saat ini menetap di Amsterdam mewakili Indonesia Nederland Youth Society (INYS), bersama 2 pembicara lainnya mengatakan “Kebanyakan orang Belanda mengenal Batik , tetapi belum banyak yang mengenal Tenun. Kita perlu lebih mempromosikannya dan meningkatkan kesadaran melalui berbagai acara dan festival. Pada saat yang sama, kita harus menumbuhkan apresiasi budaya yang lebih intensif melalui program pertukaran. Sudah saatnya juga untuk memperkenalkan kerajinan yang indah ini dan penggunaan pewarna alami ke sekolah-sekolah dan akademi mode di Eropa.”

Baca Juga  Winston Rondo Minta Api Pelayanan GAMKI TTU Tetap Menyala

Lebih jauh diaspora asal Timor yang telah tinggal di Belanda sejak 2015 ini secara aktif mempromosikan Tenun dengan mengenakan dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-harinya.

Adapun diskusi ini merupakan bagian dari acara pameran dan talk show bertajuk “Women and Weaves: Eastern Indonesia Textile Prelude” di Indonesia House Amsterdam yang telah dibuka oleh Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Mayerfas. Acara ini memamerkan kekayaan dan keragaman tradisi Tenun Ikat dan menyoroti peran penting para penenun perempuan dari Lombok, Sumba, Bali, Timor, Maluku, dan Papua.

“Acara ini bertujuan untuk merayakan dan mengapresiasi seni Tenun sebagai salah satu tradisi tenun tekstil nusantara yang kaya. Selain makna mendalam dari tiap polanya yang unik, Tenun menceritakan kisah spiritualitas, kekeluargaan, keharmonisan—dan yang terpenting, kekuatan dan semangat para perempuan di balik tenun itu sendiri,” ungkap Dubes Mayerfas dalam sambutan pembukaannya.

Baca Juga  Alasan Usman Husin Perjuangkan DOB Amanatun dan Amanuban: Ini Soal Nurani

Pameran digelar dengan apik di lantai dua Indonesia House Amsterdam, diselenggarakan oleh KBRI bekerja sama dengan Yayasan Kembang Sepatu (Stichting Hibiscus) yang dimotori Ine Waworuntu. Pameran ini menjadi eksposisi Tenun pertama dan terbesar yang pernah diselenggarakan di Belanda, sekaligus menandai tonggak penting dalam diplomasi budaya Indonesia di Eropa.

Yang membuatnya lebih bermakna adalah karena acara ini dikonsep, dikuratori, dan dijalankan terutama oleh perempuan, mulai dari tim penyelenggara hingga pembicara dan penampil—yang mencerminkan pemberdayaan yang diwakili oleh Tenun itu sendiri.

Para tamu juga disuguhi pilihan jajanan pasar tradisional Indonesia, yang menawarkan mereka pengalaman sensori budaya kuliner Indonesia di samping warisan tekstilnya.

Baca Juga  GAMKI Alor Dikunjungi Rohaniawan dari Kanada

“Pagi ini lebih dari sekadar pertunjukan budaya,” imbuh Dubes Mayerfas menambahkan “Kami berharap dengan merasakan tekstur, warna, cita rasa, dan kisah Indonesia di Indonesia House Amsterdam, pengunjung juga akan terinspirasi untuk mengunjungi Indonesia.”

Pameran ini terbuka untuk umum di Indonesia House Amsterdam dan terus menarik minat para penggemar tekstil, lembaga budaya, dan kreator mode di seluruh Belanda.

Bertha Tanaem dalam kesempatan yang lain mengatakan upaya mengenalkan budaya dan tenunan Timor di Belanda tetap dijalankannya dan menjadi perhatian serius. Berbagai produk baik itu tas, dompet, pakaian telah dihasilkan untuk mewujudkan kecintaannya akan pelestarian budaya Timor sebagai akar budaya yang membesarkannya. (RLS/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan