KUPANG—Jemaat GMIT Lanud El Tari Penfui menggelar malam Pentas Budaya Nusantara, Jumat (29/5/2026) malam. Kegiatan yang digelar oleh Tim Pelayanan Hari Raya Gerejawi (Timpel HRG) GMIT Lanud El Tari Penfui ini berlangsung meriah, di halaman gereja. Hadir ratusan jemaat yang tidak saja berasal dari gereja setempat melainkan jemaat pada gereja tetangga seperti Jemaat Karisma Penfui, Baitel Kampung Baru, Yeremia Oeltua, Kanaan Naimata, serta jemaat Bukit Kasih Baumata.
Para peserta pentas budaya menampilkan aneka fashion dari suku-suku Timor, Rote, Alor, Sabu, Sumba, Jawa, Bali, Toraja, Papua dan Flores ini dibuka oleh Ketua Majelis Jemaat GMIT Lanud El Tari Penfui, Pdt. Helda Mimi Sir Seo, S.Th.

Foto: Mediator
Hadir dalam acara yang dipandu oleh MC yang adalah Duta Bahasa NTT 2026 Apriani Virginia Efelin Kulla Dangga (telenta muda GMIT Lanud El Tari Penfui), sejumlah tokoh seperti anggota DPRD Kabupaten Kupang, David Daud bersama isteri, para tetua jemaat dan masih banyak lagi tokoh setempat. Seluruhnya berbusana adat sesuai dengan daerah asal.
Adapun seluruh acara ini dieksekusi oleh Ketua Timpel HRG 2026 yang juga ketua panitia pelaksana, Tunggul Benisius Datemoly dan disupport oleh berbagai seksi kepanitiaan. Adapun gaun fashion yang dipentaskan dalam fashion show mahakarya talenta NTT Yola Nggolut dipentaskan oleh Kezia Ariadi dan Erlyn Sonbai, juga fashion show cilik berpretasi di tingkat NTT, Nasional dan internasional, Chintya Nalle (dari GMIT KHARISMA-PENFUI).

Foto: Mediator
Semuanya menampilkan beraneka busana dengan motif tenunan setiap daerah, sehingga terlihat anggun dan menarik dipandang. Decak kagum para tamu undangan seakan tiada habisnya. Malam itu, tidak saja penyuguhan aneka busana dan tarian khas daerah, melainkan ad ajuga pameran aneka makanan khas dari setiap daerah. Tak heran pengunjung bisa menemukan aneka kue khas dari Rote seperti cucur, perut ayam dan kue lainnya serta papeda dan kopi toraja di booth milik jemaat dari Maluku dan Toraja. Wajah Nusantara pun nampak disana.
Terpantau media ini, usai pentas fashion show, dilanjutkan dengan narasi perjalanan masuknya Injil dari Pulau Rote ke Pulau Timor yang dibacakan oleh Presbiter Adi Suek. Tak hanya itu, mereka mementaskan lagu dan juga tari-tarian. Sementara etnis Sabu mementaskan tarian Pado’a dan etnis Timor mengisi acara dengan puji-pujian dan juga tarian.

Foto: Mediator
Kepada Mediator Kupang, Tunggul Benisius Datemoli menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kesinambungan dari bulan budaya dan bahasa yang sudah masuk dalam liturgi Sinode GMIT.
“Kami menggelar rapat dan memutuskan untuk membuat pentas budaya dan bahasa sehingga malam ini adalah puncak dari kegiatan-kegiatan di bulan budaya. Pesertanya dari jemaat setempat maupun luar. Mereka terlibat secara sukarela dan kami pun menyiapkan booth untuk makanan asal daerah masing-masing dan semuanya gratis,”ujar Tunggul menambahkan kegiatan ini bertujuan mempersatukan jemaat. (stenly boymau)






