Kupang (MEDIATOR)–Ada yang tidak biasa dalam aksi penyaluran donasi kepada ribuan murid Sekolah Dasar (SD) pada 150an sekolah di Kabupaten Kupang dan TTS. Momen ini menjadi kesempatan penting bagi orang tua dan anak untuk rekonsiliasi. Dan ini didesain oleh Yayasan Heart For Timor yang menggerakkan aksi tersebut. Dalam beberapa kesempatan, orang tua diminta duduk lalu anak-anaknya disuruh mendekat lalu ada momentum saling memeluk, ada narasi saling memaafkan, saling berkasih-kasihan yang lahir dari hati.

Tak sedikit air mata yang tumpah, ada tangis haru dan komitmen untuk memulai hidup yang baru penuh cinta kasih.
“Kami di Timur itu biasanya hubungan antara orang tua dan anak didikannya keras. Banyak didikan tapi tidak terlalu banyak kasih. Padahal seharusnya orang tua mengasihi lebih dulu. Baru mendidik. Kebanyakan di orang timur kita hanya mendidik makanya terasa janggal jika harus sayang-sayangan sama anak,”demikian Ci Helen, pebisnis dan juga pegiat sosial putri pengusaha ternama NTT, Leonard Antonius ini.
Yang dibanggakan dari program ini, melalui program ini semua keluarga diproses untuk mengalami budaya surga, saling mengasihi, menghormati, dan mencintai.
“Kami tidak hanya melakukan pengajaran tetapi mereka akan berproses dengan anaknya untuk mengalami kasih sebagaimana yang seharusnya orang tua dan anak alami,”ujarnya menambahkan proses ini terus berlanjut di rumah manakala tiap keluarga didorong untuk mengenal Tuhan secara pribadi. Alkitab bersuara disediakan untuk menjangkau mereka yang terbiasa dengan tradisi lisan atau terkendala akses baca sebagai wujud kasih nyata.
“Yang kami lakukan ini semuanya untuk kemuliaan nama Tuhan,”pungkasnya singkat.
Hal senada ditambahkan Rita Fulbertus salah satu anggota tim.

“Ada yang karena kemurahan Tuhan, awalnya kita hanya mau bagi buku tulis dan selesai. Tapi kita juga hadirkan monentum rekonsiliasi antara orang tua dan anak. Ini menjadi sebuah momentum yang sangat indah untuk pekulihan,”tegas Rita. Mereka patut senang, apa yang diimpikan terjawab nyaris sempurna. Mungkin hari ini mereka berkeringat. Satu persatu bulir gandum dikumpulkan. Namun sebenarnya mereka sementara menabur benih kebaikan yang akan tumbuh di kemudian hari. Akan lahir generasi yang tumbuh percaya diri karena didoakan, mendapat restu tulus dari orang tuanya. (Stenly boymau)






