Helen Antonius Prakarsai Donasi untuk Belasan Ribu Anak SD pada 159 Sekolah Terpencil di Daratan Timor

Nuansa NTT377 Dilihat

Kupang (MEDIATOR)–Sebuah gerakan sosial yang layak jadi panutan. Mengacu pada kondisi masyarakat yang tertinggal, dan berdampak pada keterbatasan dalam menyiapkan perlengkapan sekolah anak didik, maka melalui Yayasan Heart For Timor, Helen Antonius memprakarsai sebuah gerakan donasi. Ci Helen, demikian sapaan pebisnis dan juga pemerhati sosial ini bergerak cepat, sejak Februari hingga pertengahan Maret 2026 kemarin berhasil mengajak donatur lain untuk ikut terlibat. Sebut saja Hak Baca Anak dan pihak lain sebagai mitra.

Salah seorang panitia pada Sie Pendataan, Rita Fulbertus, kepada Mediatorkupan.com, di sela-sela aktifitas panitia di lokasi, merinci bahwa aksi ini berawal dari keprihatinan Ci Helen ketika ada seorang anak SD di Ngada-NTT yang mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli alat tulis.

“Bagi kita orang kota, Rp 10.000 untuk buku tulis itu gampang tapi bagi mereka itu susah, akhirnya kita mulai penggalangan dana,”tegasnya.

Awalnya mereka berencana membantu 10.000 murid SD di sekolah-sekolah tertinggal di Kabupaten Kupang dan TTS.

Baca Juga  SEJARAH KOTA SOE
Helen Antonius saat memotivasi murid-murid di sebuah sekolah.

Namun seiring berjalannya waktu, banyak sekolah yang belum terbantu muridnya sehingga panitia mengakomodirnya.

Sekarang total murid penerima menjadi 12.580 orang yang tersebar di 159 sekolah.

Tim dibagi dalam lima group, masing-masing:

1. Group 1 mencakup Amarasi Timur, Amfoang Timur

2. Group 2 mencakup Amfoang Selatan, Tengah, Utara

3. Group 3, Kabupaten TTS: Oinlasi, Fatumnasi

4. Group 4 mencakup Amanatun Utara, Toianas, Put’ain

5. Group 5, Panite, Tobu, Kapan, Kuanfatu

Tim yang melakukan aksi saat sesi foto bersama di sebuah titik.

Anggota tim ini adalah panitia yang berasal tidak saja dari Kupang melainkan Jakarta. Mereka membawa serta bantuan yang akan diberikan kepada anak-anak murid.

“Awalnya kita hanya kumpulkan dana Rp 85.000/murid. Mereka dapat sepatu, buku tulis, pensil, bulpen, penghapus, peruncing, buku yang dibuat oleh tim yakni mewarnai berdasarkan kelas mereka. Ada empat seri buku dan setiap kelas dapat seri berbeda., dalam buku itu ada kita selipkan kata-kata motivasi. Misalnya aku berharga, Tuhan Yesus cinta saya dan sebagainya,”rinci Rita.

Baca Juga  Yosep Lede Siap Jadi Ketua DPD Pemuda Tani NTT

Tak hanya itu, panitia juga membuatkan buku yang ada nilai edukasinya sesuai usia mereka. Ada juga majalah CIA dan ISO dari Hak Baca Anak yang dibagikan secara gratis untuk mendukung hak baca anak di daerah pedesaan. Majalah-majalah ini pun sangat edukatif.

Dua Bulan yang Penting

Helen Antonius, tokoh yang paling berperan dalam misi ini, kepada media menjelaskan kegiatan ini dipersiapkan dalam waktu yang sangat terbatas. Yakni hanya dua bulan saja.

“Keseluruhan acara ini kita persiapkan hanya dua bulan berawal dari ide 10 ribu anak untuk Timor. Itu pada 5 Februari. Tuhan benar-benar bukain bahwa aku ingin 10 ribu anak di Timor merasakan kasih-Ku,”demikian Helen.

Ide yang muncul beberapa saat setelah tragedi Ngada, dimana seorang anak SD meninggal dengan cara tak wajar hanya karena masalah ketiadaan dia mendapatkan alat penunjang pendidikan.

Baca Juga  Apresiasi Atas Hadirnya GAMKI di TTU

Sejak itu tim bergerak mencari dana, membeli barang, melakukan pendataan ke 147 sekolah yang kemudian berkembang menjadi 150 lebih sekolah di pelosok dengan medan ekstrim.

“Dalam limit waktu terbatas, dua bulan dengan berbagai keterbatasan akses dan jarak tempuh yang ekstrim, tim kami berhasil menyusun strategi yang membuat kegiatan ini berjalan,”ujarnya.

Ada yang patut diapresiasi, ada tim yang khusus mendata sekolah mana yang layak serta mengajukannya untuk dievaluasi kelayakannya. Tidak semua yang diajukan dilayani. Karena sasarannya adalah sekolah tertinggal yang minim perhatian serta murid-muridnya memiliki latar belakang ekonomi yang kurang mapan. Panitia mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada seluruh tim yang terlibat. Donasi yang dikumpulkan sebanyak 12 kontainer yang dikirim dari Jakarta, Surabaya dan dipacking oleh panitia di Kupang lalu didistribusi menggunakan 14 mobil colt diesel saat kunjungan di 5 lokasi. Kegiatan ini dilaunching di SD Katholik Benlutu pada 7 April kemarin, dan tim langsung mendatangi ratusan titik yang sudah ditentukan. Sulitnya medan menjadi kisah tersendiri dalam pelayanan. (Stenly Boymau)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan