Kupang (MEDIATOR) – Pembangunan kualitas manusia di Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai tidak boleh hanya bertumpu pada aspek intelektual semata, tetapi wajib menyentuh penguatan kecerdasan emosional dan sosial. Gagasan ini menjadi poin sentral dalam kuliah umum bertajuk “Hubungan Kecerdasan Intelektual dengan Peradaban Masyarakat NTT dalam Perspektif Neurosains” yang diselenggarakan Universitas Nusa Cendana (Undana) di Graha Cendana, Senin (30/3/2026).
Forum akademik yang dihadiri ribuan mahasiswa Undana dan Poltekkes Kupang ini menghadirkan pakar bedah saraf sekaligus neuroscientist ternama, Prof. Dr. dr. Roslan Yusni Al Imam Hasan, Sp.BS (Dr. Ryu Hasan), sebagai pembicara utama. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor II Bidang Umum dan Keuangan Undana, Prof. Dr. Paul G. Tamelan, M.Si., serta dihadiri oleh Anggota DPR RI, Dr. Viktor Bungtilu Laiskodat, M.Si.
Aktivitas Biologis di Balik Perilaku Manusia
Dalam paparannya, Dr. Ryu Hasan menjelaskan bahwa hampir seluruh dimensi kehidupan manusia, mulai dari emosi, pengambilan keputusan politik (neuropolitik), hingga pengalaman spiritual, merupakan hasil kerja nyata sistem saraf dan otak. Ia mematahkan pandangan mistis terhadap fenomena perilaku manusia dengan pendekatan ilmiah neurosains.
“Otak manusia tidak bekerja secara murni rasional, melainkan sangat dipengaruhi oleh sistem emosi yang bekerja otomatis. Sebagian besar aktivitas harian kita justru dipandu oleh mekanisme emosional tanpa kesadaran penuh,” urai Dr. Ryu Hasan.
Ia juga menyoroti fenomena “generasi instan” yang terpapar arus informasi pendek di media sosial. Menurutnya, ketergantungan pada konten singkat berisiko mengikis kedalaman berpikir dan melemahkan daya nalar ilmiah serta tradisi membaca pada generasi muda.
Intervensi Lingkungan dan Tantangan Stunting
Lebih lanjut, Dr. Ryu menekankan bahwa perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sejak dalam kandungan. Faktor kesehatan seperti stunting dan kondisi sosial memiliki dampak permanen terhadap kemampuan kognitif seseorang. Namun, ia menggarisbawahi bahwa kemajuan peradaban tidak ditentukan oleh kecerdasan individu secara terisolasi, melainkan hasil dari interaksi dan kolaborasi sosial yang solid.
Dekan Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) Undana, Dr. Christina Olly Lada, menyebutkan bahwa kuliah umum ini dirancang untuk membuka cakrawala mahasiswa mengenai keterkaitan sistem neurologi dengan berbagai aspek kehidupan sosial.
Komitmen Undana pada Kesehatan Mental dan Karakter
Wakil Rektor II Undana, Prof. Paul Tamelan, memberikan apresiasi tinggi atas kehadiran Dr. Ryu Hasan yang telah dinantikan selama dua tahun. Di tengah pengelolaan lebih dari 32 ribu mahasiswa, Undana menyadari bahwa tantangan akademik sering kali bersinggungan dengan persoalan psikologis.
“Pembentukan karakter dan kesehatan mental kini menjadi perhatian serius institusi. Kami ingin memastikan lulusan Undana tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kematangan mental dan sosial untuk menghadapi dinamika zaman,” tegas Prof. Paul.
Melalui kuliah umum ini, Undana memantapkan posisinya sebagai institusi yang tidak hanya mencetak tenaga ahli, tetapi juga agen perubahan yang memahami aspek biologis dan psikologis manusia secara utuh demi kemajuan peradaban di Nusa Tenggara Timur. (Ref/rls/undana/boy)






