Sepertiga Dosen di NTT Baru Bergelar S-3, Kemdiktisaintek Buka Jalur Afirmasi Khusus

Pendidikan554 Dilihat

KUPANG – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi mempercepat peningkatan kualifikasi akademik dosen di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah strategis ini diambil guna memangkas ketertinggalan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) di bumi Flobamora, mengingat dari total 3.000 dosen aktif di NTT, baru sekitar sepertiga atau berkisar 1.000 dosen saja yang telah merampungkan kualifikasi pendidikan bergelar Doktor (S-3).

Upaya masif tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Sosialisasi Program Beasiswa Dosen dan Tenaga Kependidikan Wilayah NTT secara daring pada Rabu hingga Kamis, 17–18 Juni 2026. Agenda ini berfungsi sebagai ruang koordinasi sekaligus fasilitas utama untuk mendorong para dosen, terutama di daerah afirmasi serta wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), agar segera melanjutkan studi ke jenjang tertinggi.

Akselerasi Melalui Program Non-Gelar Berformat Hybrid

Direktur Sumber Daya Ditjen Dikti Kemdiktisaintek, Prof. Dr. Ir. Sri Suning Kusumawardani, S.T., M.T., menegaskan bahwa kementerian menaruh perhatian penuh terhadap percepatan studi lanjut ini. Guna mengintervensi kondisi di lapangan, Kemdiktisaintek meluncurkan berbagai skema beasiswa adaptif serta program pendampingan khusus yang bersifat non-gelar (non-degree) maupun program gelar.

Baca Juga  Setahun Berlalu, Tim SITH Kembali Tinjau Perkembangan Komoditas Kemiri di Alor

Beberapa program unggulan non-gelar yang dibuka tahun ini meliputi program pra-doktoral daerah afirmasi, talent scouting untuk penyusunan rencana riset, bridging program, hingga Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris (PKBI). Untuk mendukung efektivitasnya, kementerian menggandeng sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) bereputasi riset global, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Kami menyediakan tahap dasar seperti talent scouting dan pra-doktoral agar para dosen dibantu mencari mentor dan menyusun rencana riset. Melalui persiapan yang kuat, kami menargetkan para dosen mampu menembus perguruan tinggi terbaik dan lulus tepat waktu,” ujar Prof. Sri.

Istimewanya, skema perkuliahan program persiapan pra-doktoral ini mengadopsi format fleksibel berbasis bauran (hybrid). Dengan mekanisme ini, status sertifikasi dosen (serdos) serta tunjangan yang melekat dipastikan tetap aktif dan berjalan normal karena prosesnya dirancang tidak mengganggu pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di kampus asal.

Baca Juga  Menwa Asal Undana ini Punya IPK Tinggi, dapat Beasiswa dari Charoen Pokphand Foundation

Alarm Mutu Pendidikan Tinggi di Bumi Flobamora

Kondisi minimnya pengajar berkualifikasi doktor di NTT direspons sebagai sebuah alarm keras oleh otoritas pendidikan daerah. Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV NTT, Prof. Dr. Adrianus Amheka, S.T., M.Eng., menyatakan bahwa fakta ini harus segera diintervensi bersama melalui aksi nyata oleh seluruh institusi pendidikan tinggi di NTT.

“Fakta bahwa baru sepertiga dosen di NTT yang berkualifikasi doktor adalah kondisi riil yang menjadi tantangan kita. Pengembangan kualifikasi akademik melalui jalur beasiswa ini menjadi pilar utama untuk mendongkrak mutu pendidikan tinggi di NTT agar mampu bersaing di tingkat nasional,” tegas Prof. Adrianus.

Di samping membuka peluang, kementerian juga mengingatkan para dosen agar tetap berhati-hati terhadap praktik tidak etis dalam dunia akademik, seperti jebakan jurnal predator atau publikasi instan berbayar demi mengejar kelulusan cepat. Komitmen, konsistensi riset murni, serta kejujuran ilmiah ditegaskan sebagai modal utama dalam melahirkan ilmuwan berkualitas menuju visi Indonesia Emas 2045.

Baca Juga  LLKK Undana Jadi Laboratorium Hidup bagi Pelajar Stella Gracia

Lompatan Mutu Kampus NTT Menuju Standar Nasional

Kebijakan afirmasi beasiswa khusus dari Kemdiktisaintek ini membawa dampak perubahan yang sangat krusial bagi masa depan ekosistem pendidikan di NTT. Selama ini, kendala geografis, keterbatasan akses informasi, serta kekhawatiran akan hilangnya tunjangan fungsional selama studi sering kali menjadi tembok penghalang bagi dosen di daerah 3T untuk mengambil program doktor.

Dengan dibukanya keran beasiswa fleksibel berformat hybrid yang terintegrasi dengan kampus-kampus top seperti UGM, ITB, dan ITS, hambatan klasik tersebut resmi dipangkas. Bagi NTT, pemenuhan kuota 2.000 doktor baru dari program ini bukan sekadar mengejar angka statistik semata, melainkan prasyarat mutlak untuk menaikkan status akreditasi institusi lokal, memperluas akses dana hibah riset nasional, dan memastikan mahasiswa di Indonesia Timur mendapatkan kualitas pengajaran yang setara dengan wilayah barat.

Pendaftaran program, pengisian formulir, serta akses kualifikasi seluruh skema beasiswa ini sudah dapat diakses secara resmi oleh para dosen melalui laman elektronik kementerian di tautan https://kualifikasidikti.kemdiktisaintek.go.id/. (IyL/rls/UNDANA/Boy)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan