KUPANG – Memasuki usia enam bulan kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Ir. Jefri Samuel Bale, S.T., M.Eng., Universitas Nusa Cendana (Undana) sedang mengalami pergeseran paradigma yang masif. Kampus tertua di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini perlahan meninggalkan citra “menara gading” yang terasing, lalu bertransformasi menjadi “menara air”—sebuah filosofi pengabdian di mana seluruh inovasi akademis mengalir langsung menjadi solusi atas persoalan riil di tengah masyarakat.
Di bawah komando Prof. Jefri Bale, Undana menggebrak melalui Empat Fokus Transformasi, yakni tata kelola dan SDM, penelitian dan pengabdian, pembelajaran dan akademik, serta penguatan kemitraan global. Langkah ini tidak sekadar menjadi catatan di atas kertas, melainkan sebuah perubahan struktural yang dampaknya mulai dirasakan langsung oleh sivitas akademika dan masyarakat luas.

Langkah awal yang paling terlihat dalam transformasi tata kelola adalah peluncuran program “Undana Satu Data”. Melalui sistem portal terpadu bernama SIADIKNONA (Sistem Informasi Akademik dan Non Akademik) berbasis Single Sign-On (SSO), Undana terus berproses menyatukan data akademik, keuangan, kepegawaian, hingga pelaporan akreditasi dalam satu ekosistem digital.
Langkah awal transformasi tata kelola ditandai dengan penandatangan dokumen Perjanjian Kinerja dengan para pimpinan unit kerja Lingkup Undana
“Integrasi ini memotong prosedur administrasi yang berbelit-belit. Sekarang, status pembayaran UKT mahasiswa di Biro Umum dan Keuangan langsung terverifikasi secara real-time ke sistem akademik,” ungkap Prof. Jefri.
Restrukturisasi pelayanan publik juga diperkuat dengan optimalisasi Unit Layanan Terpadu (ULT) sebagai pusat penanganan keluhan satu pintu. Tidak hanya untuk menyediakan Layanan Psikologi Terpadu (LPT) bagi kesehatan mental sivitas akademika, Undana juga berkontribusi dalam mendukung Program Pemerintah Provinsi NTT “Siber Sehat NTT”. Di sisi lain, kedisiplinan kerja dipantau ketat lewat digitalisasi presensi yang terintegrasi dengan skema remunerasi pegawai.

Mendukung aspek akuntabilitas, rektorat mengambil langkah berani dengan membuka “rapor keuangan” institusi kepada publik. Evaluasi realisasi anggaran dibuka secara berkala, bahkan pihak rektorat menyediakan ruang dialog terbuka bersama Organisasi Mahasiswa (Ormawa) untuk membedah arah kebijakan anggaran kampus. Guna menambal keterbatasan tenaga operasional, Undana juga melakukan penguatan SDM secara masif, termasuk menambah sekitar 200 tenaga outsourcing untuk memperkuat layanan akademik dan kebersihan lingkungan kampus.
Pada sektor riset, kepemimpinan Prof. Jefri Bale mencetak sejarah baru dengan mengalokasikan dana investasi intelektual terbesar sepanjang sejarah Undana, yakni senilai Rp34 miliar yang bersumber dari PNBP. Dana fantastis ini mengalir ke dalam 939 kegiatan akademik, yang terbagi atas 492 judul penelitian dan 447 program pengabdian kepada masyarakat.

Riset tidak lagi sekadar menjadi prasyarat angka kredit dosen, melainkan digeser menjadi Impact-Driven Science. Salah satu skema unggulan yang diluncurkan adalah “Riset Guru Besar Berdampak” dengan pendanaan mencapai Rp100 juta per judul. Melalui skema ini, para profesor diwajibkan turun langsung ke pelosok NTT untuk membawa produk terapan guna menanggulangi kemiskinan ekstrem dan stunting. Langkah strategis antara dunia akademik dan institusi kepolisian juga turut mewarnai perjalanan kepemimpinan Rektor Undana dalam kurun waktu enam bulan. Fokus utama kolaborasi dalam bentuk Pusat Studi Kepolisian adalah pengembangan riset mendalam, kajian kebijakan keamanan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) guna menjawab tantangan dinamika hukum yang kian kompleks di wilayah NTT.
Sentuhan inovasi lingkungan juga mewujud nyata di area kampus Penfui melalui Program TPS3R (Reduce, Reuse, Recycle) menuju Green Campus. Berkolaborasi dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP), para akademisi Undana berhasil menyulap sampah menjadi komoditas bernilai ekonomi produktif. Limbah organik kota dikonversi menjadi pakan ternak berkualitas tinggi lewat budidaya maggot BSF, sedangkan limbah plastik diolah menjadi bata ramah lingkungan (eco-paving). Melalui unit Bank Sampah yang dikelola dengan sistem tabungan perbankan, kampus berhasil mengumpulkan hingga 4 ton sampah dalam waktu enam bulan.
Di bidang akademik, wajah pembelajaran Undana dirombak total menuju era Library 4.0. UPT Perpustakaan Undana sukses meraih Akreditasi A dari Perpusnas RI setelah melakukan modernisasi fasilitas besar-besaran. Kampus kini memiliki Undana Digital Library, dan sedang berproses dalam pembangunan ruang diskusi terbuka (Outdoor Learning Space) berdesain berkelanjutan, hingga fasilitas komunal modern seperti amphitheater dan library cafe.
Audiensi strategis bersama UPT Perpustakaan Undana dalam upaya transformasi perpustakaan menjadi pusat kolaborasi intelektual (hub) yang adaptif terhadap pola belajar generasi digital.
Untuk mendongkrak kualitas lulusan, Undana menerapkan kebijakan ketat: mahasiswa diwajibkan melakukan belajar mandiri di perpustakaan minimal 8 jam per minggu. Selain itu, atmosfer internasional digenjot lewat instruksi penggunaan bahasa Inggris dalam berbagai aktivitas akademik serta kewajiban menggunakan referensi ilmiah bereputasi global (seperti EBSCO dan ScienceDirect) dalam penyusunan tugas akhir.

Menghadapi disrupsi teknologi, Undana bergerak cepat menjadi salah satu pionir yang sedang merancang regulasi resmi mengenai etika penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dalam pembelajaran. Langkah ini dibarengi dengan pelatihan intensif bagi mahasiswa dan dosen dalam memanfaatkan AI generatif secara bijak demi menjaga integritas akademik. Inklusivitas kampus juga diperluas melalui peresmian 5 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) baru, yang meliputi UKM Kerohanian Islam, Katolik, Protestan, UKM Basket, dan UKM Kehumasan.
Dampak terbesar dari transformasi enam bulan ini adalah meluasnya jejaring kemitraan Undana di kancah internasional dan regional. Kampus tidak hanya menjalin kerja sama dengan kampus asal Tiongkok untuk mendirikan Center for Chinese Language Studies, tetapi juga membuka akses beasiswa Turkiye Burslari dengan Pemerintah Turki serta pertukaran pelajar dengan Goshen College Amerika Serikat. Pendekatan multidisiplin One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan juga dimodernisasi untuk menghalau penyakit zoonosis di NTT.
Secara lokal, sinergi Undana dan Pemprov NTT menelurkan terobosan ekonomi konkret bernama program “KUR Masuk Kampus” yang digagas bersama Gubernur NTT Melki Laka Lena. Skema ini membuka akses permodalan legal bagi mahasiswa dan alumni untuk berwirausaha sekaligus membentengi mereka dari jerat pinjaman ilegal.
Akselerasi hilirisasi produk lokal pun terus berjalan, mulai dari pemanfaatan putak (batang pohon gewang) menjadi kukis bernutrisi, pembuatan mesin pengering kelor bagi UMKM, hingga kampanye “Generasi Z Bertani” yang memanfaatkan teknologi smart farming.
Melalui lompatan besar dalam enam bulan terakhir, transformasi Undana membuktikan bahwa institusi pendidikan tinggi di daerah tidak boleh lagi menjadi penonton pasif. Keberhasilan perbaikan tata kelola digital, kucuran dana riset puluhan miliar, dan perluasan kemitraan ini pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: meningkatkan daya saing global lulusan sekaligus menjadi motor penggerak utama yang mendongkrak kesejahteraan sosial-ekonomis masyarakat Nusa Tenggara Timur. (Ing/RLS/UNDANA)






