Salatiga (MEDIATOR)–Komitmen Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dalam memperkuat budaya riset dan inovasi kembali menuai capaian membanggakan. Tiga dosennya berhasil meraih hibah strategis nasional tahun 2026 melalui skema Pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Hibah Hiliriset Singkatan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk pengembangan penelitian di bidang mitigasi bencana, kendaraan listrik, serta kesehatan herbal yang berdaya guna bagi masyarakat.
Pada skema RIIM BRIN 2026, Profesor Dr. Sri Yulianto Joko Prasetyo, S.Si., M.Kom., menerima pendanaan untuk dua judul riset, yakni “Model Cerdas Identifikasi Kawasan Terbangun Rentan Megathrust Pantai Selatan Bali dengan Citra Satelit” dan “Edukasi Mitigasi serta Melaya dalam Bayangan Megathrust dan Back-arc Thrust Tsunami: Eksplorasi Kerentanan Masyarakat dan Literasi”. Penelitian ini menitikberatkan pada penguatan sistem mitigasi bencana melalui pemanfaatan teknologi citra satelit sekaligus peningkatan literasi masyarakat di kawasan rawan gempa dan tsunami.
Sementara itu, melalui program Hiliriset 2026, Profesor Dr. Kristoko Dwi Hartomo, M.Kom., meraih hibah untuk riset “Smart Fast Charging Kendaraan Listrik Berbasis Deep Learning” dalam skema Hilirisasi Inovasi Komersial. Inovasi tersebut diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam menjawab tantangan pengisian daya kendaraan listrik yang lebih cepat, efisien, dan adaptif terhadap kebutuhan masa depan.
Masih pada skema yang sama, Dr. Yohanes Martono, S.Si., M.Sc., memperoleh pendanaan melalui proposal “Hilirisasi Inovasi Produk Herbal Serbuk Enkapsulasi Stemori” dalam skema Hilirisasi Riset Prioritas Inovasi Komersial. Riset ini membuka peluang pengembangan produk kesehatan berbasis herbal yang memiliki nilai tambah sekaligus potensi ekonomi.
Inovasi Berdampak Nyata
Direktur Direktorat Inovasi dan Kewirausahaan (DIK) UKSW Dr. Linda Ariany Mahastanti, S.E., M.Sc., saat ditemui di ruang kerjanya (4/5/2026) menyampaikan rasa bangga atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini menunjukkan bahwa riset para dosen UKSW telah berkembang dari tahap fundamental menuju penelitian terapan yang siap dimanfaatkan lebih luas.
“Dua hibah ini menonjolkan unsur inovasi, sehingga riset yang dilakukan tidak lagi hanya bersifat fundamental, tetapi sudah masuk ke tahap terapan. Bahkan untuk program hilirisasi riset, para peneliti dituntut mampu menggandeng industri karena hasil inovasinya harus sesuai dengan kebutuhan pengguna di lapangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan tersebut lahir dari proses panjang yang dibangun melalui konsistensi, rekam jejak penelitian, serta peta jalan riset yang matang. Menurutnya, inovasi tidak hadir secara instan, melainkan melalui ketekunan akademik yang berkelanjutan.
“Profesor Kristoko, Profesor Yuli, dan Dr. Yohanes Martono memulai dari riset fundamental, kemudian mengembangkan hingga ke riset terapan berbasis teknologi tinggi yang siap di hilirisasi ke industri. Ini menunjukkan konsistensi dan proses panjang yang mereka jalani,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dr. Linda Ariany Mahastanti menegaskan bahwa capaian ini sejalan dengan arah UKSW sebagai entrepreneurship research university, yaitu perguruan tinggi yang menempatkan riset sebagai penggerak inovasi, kewirausahaan, dan kontribusi ekonomi. Menurutnya, hasil penelitian tidak cukup berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
“Kami melihat UKSW sudah berada di jalur yang tepat. Tantangannya adalah terus membangun link and match antara kompetensi dosen dan kebutuhan industri yang terus berkembang,” jelasnya.
Dari Kampus Berdampak
Senada dengan hal tersebut, Kepala Bagian Inovasi dan Inkubasi Destri Sambara Sitorus, S.Pd., M.Pd., berharap riset-riset unggulan tersebut dapat benar-benar diwujudkan menjadi produk nyata yang bermanfaat luas. “Harapannya, riset-riset tersebut dapat di hilirisasi, diproduksi, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi menghasilkan produk nyata yang digunakan dan memiliki nilai ekonomi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, DIK UKSW terus memberikan dukungan melalui pendampingan pengurusan paten, kerja sama terkait kekayaan intelektual, sosialisasi, hingga bimbingan teknis bagi para inventor kampus. Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat ekosistem inovasi sekaligus mendorong semakin banyak karya dosen dan mahasiswa yang siap bersaing di tingkat nasional.
Melalui capaian hibah strategis nasional ini, UKSW turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDGs ke-7 Energi Bersih dan Terjangkau, SDGs ke-9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDGs ke-11 Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta SDGs ke-17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, capaian ini merefleksikan poin ke-4 tentang penguatan pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, dan prestasi bangsa, serta poin ke-5 tentang hilirisasi dan industrialisasi. Selain itu, keberhasilan ini juga mendukung poin ke-6, yakni membangun dari bawah melalui penguatan inovasi yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (RLS/UKSW/BOY)






