Penulis : Sam Harly Babys
VBL dan ESK pada judul diatas adalah inisial nama dari dua orang yang saat ini berada di NTT.
Untuk inisial VBL mungkin tidak asing lagi bagi masyarakat NTT bahkan Indonesia, ya VBL adalah inisial dari nama gubernur NTT saat ini; Viktor Bungtilu Laiskodat.
Lantas siapakah ESK? mengapa namanya bisa disandingkan dengan VBL pada kolom judul? ESK adalah warga NTT asal Malaka yang sejak tahun 1996 memutuskan untuk merantau ke pulau Sumba, tepatnya di Kabupaten Sumba Timur.
Berbagai usaha digelutinya untuk menyambung hidup di pulau rantauan. Dari ojek hingga penjual ikan keliling tidak dilewatkannya, tujuannya hanya satu yakni untuk bisa bertahan hidup. Apakah hal ini mampu mengubah hidup ESK? Tidak.
Tantangan hidup sesungguhnya datang saat ia menikah dengan gadis asal Sumba Timur. Ia dituntut bekerja lebih keras untuk menyambung hidup istri dan anaknya.
Tahun 2018 adalah tahun dimana ESK masih terus bergelut dengan pekerjaannya sebagai penjual ikan keliling. Hingga waktunya tiba tepat di penghujung tahun 2018.
Saat itu dirinya dan ratusan masyarakat lainnya menghadiri pertemuan dengan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat. Ia mengikuti dengan cermat semua penjelasan dari gubernur. Dan dari semua pernyataan yang ada, KELOR menjadi hal yang paling mendapat perhatian darinya.
Dirinya banting setir dari penjual ikan menjadi seseorang yang menggeluti tanaman kelor.
Niat yang tinggi, tekun dan kerja keras adalah tiga hal yang terus melekat dalam diri ESK. Bermodalkan sebuah HP android, dirinya belajar menggeluti dunia kelor melalui Chanel YouTube dari pak Dedy Krisnadi pemilik dapur kelor. Banyak hal yang dia pelajari dari Chanel ini. Terus dan terus belajar. Bubuk kelor adalah hal yang paling mendapat perhatian dari dirinya.
Setelah berhasil membuat bubuk kelor, dirinya mendapat tantangan baru, pasarannya dimana? Iya harus keliling untuk menjual produk yang telah dihasilkan ini.
Dikutip dari Kompas.com, produk bubuk kelor pertamanya dibeli oleh kelurahan Malumbi Sumba Timur sebesar 5 juta rupiah. Inilah awal kisah hidup sukses seorang ESK yang dulunya tidak pernah dianggap keberadaannya, saat ini telah menjadi seorang pengusaha sukses dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan. Bahkan dirinya saat ini telah membangun rumah dan membeli sebuah mobil baru. ESK, Edi Seran Klau, keberadaannya telah diperhitungkan di pulau Sumba saat ini, hanya dengan bermodalkan niat yang tinggi, tekun dan bekerja keras.
VBL dan ESK adalah inisial nama dari dua orang yang memiliki hubungan sebab akibat.
Sebab VBL menggaungkan kelor sejak 2018 silam, akibatnya ESK bekerja dan mendapat keuntungan yang luar biasa saat ini.
Hingga saat ini, gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat terus dan terus menggaungkan tentang kelor. Terakhir saat kunjungan kerjanya ke seluruh kabupaten di Pulau Timor baru – baru ini, Kelor masih terus digaungkannya. Dari pengamatan penulis sejauh ini, ada 4 kelompok yang bisa dikategorikan saat gubernur menggaungkan tentang kelor.
- Kelompok yang mau berubah. Kelompok ini biasanya mendengar dan kemudian melakukan. Contohnya pada kasus Edi Seran Klau diatas. Dirinya berhasil dan kini kehidupannya berubah menjadi baik.
- Kelompok buta akal budi. Kelompok ini secara sadar tau akan potensi yang ada, tetapi tidak mau mengerjakannya. Ini adalah kelompok yang bisa dikategorikan sebagai kelompok malas dan kelompok tidak mau berubah. Kehidupan saat ini bagi mereka sudah cukup baik. Inilah emik Nusa Tenggara Timur saat ini, nyaman dengan keadaan.
- Kelompok pesimis. Kelompok ini ciri – cirinya punya kemauan, tetapi ragu – ragu. Ketakutan sudah menghantui mereka sejak awal. Banyak perhitungan. Mereka berpikir tentang modalnya bagaimana, lahannya dimana, bibit serta pupuknya seperti apa, cara memulainya dari mana dan lain sebagainya. Kelompok ini sedikit memiliki harapan, tinggal dibina dan diarahkan. Sedikit yang mau penulis sampaikan bahwa kita memiliki Bank NTT yang siap memberikan modal usaha melalui kredit merdeka. Kita juga memiliki dinas pertanian yang siap memberikan bibit, baik berupa biji maupun steak untuk ditanam, bahkan siap melakukan pendampingan bagi mereka yang mau bekerja.
- Kelompok Chaos. Kelompok ini adalah mereka yang terus mencibir dan berusaha menggagalkan program ini. Tipikal mereka adalah perusak. Sudah tidak mendukung dan tidak mengerjakan, mereka bahkan menghasut orang lain agar mengikuti apa yang mereka sampaikan.
Kelompok ini biasanya datang dari mereka yang berbeda pandangan politik dan juga dari mereka yang tidak suka dengan figur pemberi program.
Silahkan direnungkan, dikelompok manakah kita saat ini? dengan kemudahan yang telah diberikan oleh Gubernur. Bibit disiapkan, modal juga disiapkan. Dinas terkait menyiapkan pendampingan, bahkan ovtaker atau pembelipun sudah disiapkan.
Memang sangat sulit untuk memulai, mungkin sedikit berantakan di tengah perjalanan, tetapi yakinlah bahwa diujungnya ada keindahan yang menanti. (***)






