KUPANG — Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali membuktikan kualitas lulusannya dalam menghadirkan solusi nyata bagi pembangunan daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kontribusi membanggakan ini ditunjukkan oleh Gestianus Sino, S.P., alumni Faperta Undana angkatan 2011, yang sukses memelopori integrasi teknologi Internet of Things (IoT) pada sektor pertanian lahan kering melalui unit usaha GS Organik yang dirintisnya.
Keberhasilan pria yang akrab disapa Gesti ini menjadi bukti nyata bagaimana bekal keilmuan dari almamater Undana mampu bertransformasi menjadi inovasi teknologi yang membumi. Di atas lahan terpadu seluas 4,3 hektare di Kecamatan Kupang Tengah dan Kecamatan Taebenu, Gesti membuktikan bahwa keterbatasan air dan hamparan batu karang khas NTT bukanlah halangan, melainkan laboratorium alam yang siap dioptimalkan dengan sains modern.
Adopsi Teknologi Korea-Australia dan Penerapan Siklus Zero Waste
Dalam mengelola lahan kering berbatu karang tersebut, Gesti menerapkan digitalisasi pertanian yang terinspirasi dari hasil studi bandingnya di Korea Selatan hingga Australia. Ia merancang sumur bor di lahannya agar terintegrasi langsung dengan aplikasi ponsel pintar melalui sistem irigasi tetes (drip irrigation) dan penyiram otomatis (sprinkler). Teknologi ini membuat pendistribusian air ke tanaman dapat dikontrol secara presisi sesuai kebutuhan riil, sehingga efisiensi penggunaan air dapat terjamin.
Efisiensi digital tersebut dikawinkan dengan konsep pertanian organik reintegrasi yang memadukan divisi hortikultura, perkebunan, peternakan, hingga perikanan ke dalam satu siklus tertutup tanpa limbah (zero waste). Sistem pertanian cerdas berbasis riset ini berhasil membawa GS Organik tumbuh menjadi penyuplai utama komoditas hortikultura organik untuk jaringan perhotelan di Kota Kupang, serta dipercaya melayani program nasional Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG).
“Teknologi IoT ini memberikan kepastian yang selama ini tidak pernah dimiliki oleh petani tradisional kita. Dulu, bertani itu seperti berjudi dengan cuaca dan takaran pupuk. Sekarang, hari ini saya menanam, tiga bulan lagi saya sudah tahu estimasi produksinya berapa, hasilnya berapa, dan berapa estimasi uang yang masuk ke rekening,” papar Gesti.
Cetak Omzet Ratusan Juta dan Bertindak Sebagai Off-Taker Petani Lokal
Bagi Faperta Undana, kiprah Gesti merupakan representasi ideal dari profil lulusan yang mampu melakukan disrupsi positif di tengah masyarakat. Selain mencetak keberhasilan bisnis dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah per bulan, Gesti turut membuka lapangan kerja bagi belasan anak muda lokal serta membina kelompok tani di sekitar wilayah operasionalnya.
Ia juga bertindak sebagai penjamin pasar (off-taker) untuk menyerap hasil panen berlebih milik petani tradisional agar mereka terhindar dari jerat kerugian. Melalui pencapaian ini, Gesti berharap dapat memicu semangat mahasiswa dan sesama alumnus Undana untuk melihat sektor pertanian sebagai industri modern yang menjanjikan jika dikelola dengan sains dan teknologi tepat guna.
“Pertanian itu adalah pekerjaan yang paling pertama sejak dunia ini terbentuk. Jadi petani itu tidak butuh penampilan rapi, tidak butuh jam kerja yang kaku, dan tidak butuh banyak cerita kosong. Sebagai alumni Undana, kita semua punya tanggung jawab dan hak yang sama untuk memberikan dampak serta memperoleh rezeki yang besar di sektor ini,” tegasnya.
Kikis Stigma Profesi Kelas Bawah
Peloporan integrasi teknologi Internet of Things (IoT) dan sistem zero waste oleh alumni Undana di lahan kering Kupang ini membawa dampak transformasi ekonomi dan teknologi yang sangat vital bagi sektor pertanian di Nusa Tenggara Timur. Selama ini, sektor pertanian lahan kering di NTT kerap dipandang sebagai profesi kelas bawah yang identik dengan kemiskinan, akibat ketergantungan penuh petani tradisional pada cuaca dan penggunaan metode konvensional yang tidak efisien.
Tanpa adanya modernisasi dan kepastian kalkulasi produksi, keterbatasan air dan lahan berbatu karang akan terus menjadi alasan stagnasi ekonomi warga pedesaan, sementara generasi muda makin enggan terjun ke sektor pertanian. Kerentanan sistemik dan engagannya generasi muda bertani ini berpotensi memperparah krisis pangan serta mengancam ketahanan ekonomi daerah. Melalui pembuktian model digitalisasi irigasi presisi dan peran off-taker GS Organik ini, pola kerentanan tersebut berhasil dipatahkan.
Penyerapan hasil panen warga oleh GS Organik memberikan kepastian harga dan perlindungan pasar bagi petani binaan dari risiko gagal jual, sekaligus membuktikan bahwa alumni Undana mampu menciptakan lapangan kerja baru dan memimpin modernisasi pertanian guna memperkokoh kedaulatan pangan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. (Audc/rls/undana/boy)






