Undana-ATSEA Teken MoU Riset Bersama, Atasi Sampah Laut Hingga Lestarikan Dugong

Lainnya449 Dilihat

KUPANG—Universitas Nusa Cendana (Undana) resmi bekerjasama dengan Arafura and Timor Seas Ecosystem Action (ATSEA) Interim Regional Secretariat, sebuah lembaga riset yang bernaung di bawah payung Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dan berpusat di Denpasar. Untuk membuktikan keseriusan kedua lembaga dalam melakukan riset, maka Senin (22/6/2026) pagi bertempat di ruang rapat rektorat, di Kampus Penfui, digelarlah penandatanganan Nota Kesepahaman antara Rektor Undana Prof Dr Ir Jefri Bale, ST., M.Eng dengan Dr Handoko Adi Susanto, M.Sc selaku ATSEA Interim Executive Director. Hadir saat itu para pejabat dari Undana seperti Dekan FPKP, Dr Ir Agnette Tjendanwangi, M.Si., Kepala Biro Perencanaan, Kerjasama, dan Sistem Informasi Undana, Yefri C. Adoe, SE., M.AP maupun pejabat dari ATSEA. Dengan kesepakatan ini nantinya kedua lembaga akan berkolaborasi melakukan riset bersama mengenai sampah di perairan kelautan dan juga pelestarian Dugong di Kabupaten Rote Ndao. Akan ada sosialisasi kepada warga pesisir dan nelayan di Rote agar nantinya melestarikan Dugong, mamalia laut yang dilestarikan karena sudah terancam punah. Pasalnya, Dugong sering diburu dan dijadikan sebagai santapan oleh sebagian warga.

Baca Juga  Rektor Hingga Wagub Dukung Kontingen Pesparawi ke Malaysia: Buktikan, Guncang Dunia

Rektor Undana, Prof Jefri Bale saat itu menyambut baik kerjasama tersebut. “Saya percaya kerjasama kolaborasi ini memenuhi prinsip sehingga saya mengharapkan agar nantinya saling memanfaatkan dan memberikan keuntungan bagi kedua lembaga. Penandatanganan MoU dan PKS ini untuk mendukung kolaborasi bagi kedua lembaga,”tegasnya sembari berharap agar nantinya kesempatan ini bisa dimanfaatkan oleh para dosen Undana sehingga dengan kepakaran yang dimiliki bisa menambah ilmu mereka.

“Fakultas Peternakan, Kelautan dan Pertanian (FPKP) ini adalah fakultas leburan dari dua fakultas yang lama dan kami memiliki sejumlah guru besar dan doktor sehingga dengan kepakaran yang mereka miliki bisa berkontribusi pada riset,”demikian Prof Jefri.

Baca Juga  Undana Kirim Delegasi Mahasiswa Mapala untuk Bantu Korban Bencana di Sumatera

Sementara Dr Handoko saat itu menyebut jauh sebelum moment ini, mereka sudah bertemu dengan pimpinan Fakultas dan melaksanakan beberapa kegiatan bersama.

“Dulunya ATSEA ini adalah sebuah project dan kami bekerjasama dengan lima negara di bidang riset. Project riset ini dimulai pada tahun 2010 dan berakhir tahun 2024 kemudian dibentuklah lembaga dan kami berkantor di Bali,”ujarnya menambahkan, fokus mereka 10 tahun kedepan yakni membedah empat isu besar terkait sampah plastik di laut. Dia menyebut kerap alat tangkap nelayan yang rusak dibuang sehingga mencemari laut. Belum lagi ada yang tersangkut pada mamalia laut lainnya.

Dia menyebut pencemaran akibat tumpahan minyak pun menjadi masalah, seperti banyak terjadi di laut Arafura. Maraknya sumur minyak di sana menyebabkan laut terkontaminasi, apalagi isu yang berkaitan erat dengan nelayan NTT yakni tumpahan minyak di celah Timor yang dikenal dengan kasus Montara. Kedua pihak juga berkolaborasi dalam kegiatan seperti seminar dan beberapa kegiatan ilmiah lainnya, (BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan