Arleen Theodora Pah, Mahasiswi Undana ini Tuntaskan Misi Sebagai Google Student Ambassador 2026

Lainnya441 Dilihat

KUPANG – Arleen Theodora Pah, mahasiswi Program Studi Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana (Undana), sukses menuntaskan misinya sebagai Google Student Ambassador (GSA) tahun 2026. Amanah berskala nasional ini dimanfaatkannya secara taktis untuk menggenjot literasi digital serta mengenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bagi ratusan mahasiswa di bumi Flobamora.

Langkah akselerasi tersebut ditutup melalui pelaksanaan agenda puncak bertajuk “Think Twice with Google” yang digelar di Laboratorium Komputer Prodi Administrasi Bisnis Undana, Kupang, pada Kamis (18/6/2026). Dalam sesi penutup ini, Arleen memfokuskan edukasi pada aspek literasi keamanan siber (cybersecurity), khususnya dalam membangun karakter berpikir kritis mahasiswa untuk mendeteksi ancaman manipulasi konten maupun penipuan berbasis AI.

Keberhasilan agenda pamungkas tersebut melengkapi lima rangkaian kegiatan edukatif yang telah diinisiasi Arleen secara maraton sejak Mei 2026. Seluruh program digital ini tercatat diikuti oleh lebih dari 100 mahasiswa lintas program studi di Undana.

Baca Juga  Riset Undana Menembus Dunia: Hadirkan Teknologi AI dalam Akses Jurnal ScienceDirect 2026

Arleen menjelaskan bahwa ia mengemas program ini untuk melatih mahasiswa agar dapat menggunakan ekosistem teknologi, khususnya platform Google Gemini, secara kreatif dan produktif dalam kehidupan sehari-hari maupun persiapan karier. Rangkaian program yang dijalankan meliputi:

Gemini Hangout: Sesi diskusi komprehensif mengenai peta perkembangan teknologi AI dan pengaruhnya terhadap lanskap dunia kerja masa depan.

Google AI Experience: Praktik langsung mengeksplorasi fitur-fitur produktivitas milik Google.

Gemini and MBTI Find Your Path: Sesi pemetaan jalur karier masa depan yang disesuaikan dengan hobi dan kepribadian (MBTI) mahasiswa.

Gemini AI Brand Builder: Pelatihan taktis promosi produk, mulai dari pembuatan video, lirik lagu, hingga foto katalog bisnis menggunakan asisten AI.

Gemini Creative Universe: Edukasi pembuatan situs web, aplikasi, gim, hingga buku cerita digital (storybook) hanya bermodalkan perintah teks (prompting) tanpa perlu menguasai bahasa pemrograman (coding).

Baca Juga  Utang Tuhan
Arleen Theodora Pah saat bersama mahasiswa di kampus Undana.
Foto : Maressa Sole

“Melalui rangkaian acara ini, saya memperkenalkan produk-produk dari Google agar teman-teman di kampus bisa langsung memanfaatkannya secara kreatif. Kami juga mengupas tuntas dampak teknologi AI pada kesiapan karier mereka ke depan,” jelas Arleen.

Aksi nyata ini mendapat respons positif dan apresiasi tinggi dari para peserta. William John Ratingu, mahasiswa semester enam Prodi Administrasi Bisnis Undana, mengaku mendapatkan wawasan proteksi digital yang sangat aplikatif setelah mengikuti kelas siber.

“Kami dididik untuk langsung mengetahui dan membedakan mana konten atau iklan manipulatif (fake) yang dibuat oleh AI, dan mana yang asli. Melalui sesi ini, kami belajar membangun sistem proteksi pada perangkat kami sendiri,” aku William.

Kelancaran seluruh rangkaian program berskala nasional di dalam kampus ini tidak lepas dari dukungan penuh pihak program studi yang memfasilitasi penyediaan ruang laboratorium komputer serta kestabilan jaringan internet selama kegiatan berlangsung.

Baca Juga  Laiskodat Datang, Masalah Jalan Bonleu Beres, Bupati TTS dan Ketua DPRD Cium Damai

Rangkaian program Google AI for Education yang dibawa oleh Arleen ke Undana memberikan dampak perubahan yang krusial bagi daya saing mahasiswa di Indonesia Timur. Selama ini, AI sering kali dianggap rumit atau memicu kekhawatiran akan hilangnya lapangan kerja tradisional.

Melalui edukasi inklusif ini, mahasiswa Undana didorong untuk tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, melainkan menjadi kreator yang mampu melahirkan aplikasi, situs web, dan materi pemasaran digital tanpa hambatan kode pemrograman (no-code development).

Lebih jauh, pembekalan berpikir kritis dalam menyaring konten palsu berbasis AI menjadi benteng proteksi penting bagi anak muda NTT di tengah maraknya kejahatan siber, sekaligus mencetak talenta digital yang siap kerja, kreatif, dan aman beraktivitas di ruang siber global. (Audc/RLS/UNDANA/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan