Rektor Undana dan Jajaran Kunjungi SD GMIT 2 Kuanino, Tiga Ruang Kelas Direhab

Pendidikan925 Dilihat

KUPANG –Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., didampingi jajaran pimpinan universitas serta sivitas akademika Undana, Senin (29/9/2026) pagi, berkunjung ke SD GMIT 2 Kuanino. Disana rombongan disambut kepala sekolah, Dorkas Dorince Draja Hedo, S.Pd., bersama para guru dan murid. Ada tarian adat menambah meriahnya seremoni penyambutan.

 

Hadir mendampingi rektor, Wakil Rektor I Prof. Dr. drh. Annytha I. R. Detha, M.Si., Wakil Rektor II Prof. Dr. Paul G. Tamelan, M.Si., Kepala LPPM Prof. Ir. Yosep Seran Mau, M.Sc., Ph.D., Dekan FKIP Prof. Dr. Drs. Malkisedek Taneo, M.Si., Dekan FEB Dr. Rolland E. Fanggidae, S.Si., M.M., serta Sekretaris LPPM Prof. Dr. Febri Odel Nitbani, S.Si., M.Si.

 

Kedatangan mereka bukan tanpa alasan melainkan sebagai salah satu agenda Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Berdampak 2026. Kali ini, Undana merevitalisasi tiga ruangan di sekolah tersebut hingga kembali dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan dan aktivitas masyarakat.

 

Program pengabdian tersebut mengusung tema “KUANINO RE-LIFE SCHOOL 2030: Menghidupkan Kembali Ruang Belajar melalui Revitalisasi Kelas-Aula dan Green Pocket SD GMIT 2 Kuanino.” Kegiatan ini merupakan bagian dari skema PKM Berdampak 2026 dengan total pendanaan internal Undana sebesar Rp50 juta.

 

Dalam sambutannya Prof Jefri bersyukur sekalogus mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam program tersebut. Baginya keberadaan Undana sebagai perguruan tinggi bukan hanya untuk menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan daerah.

 

“Undana hadir. Filosofi atau kebijakan dari kementerian adalah kami harus berdampak di daerah mana pun kami berada,” ujar Prof. Jefri.

Baca Juga  Rektor Undana Tutup Pendidikan Dasar Anggota Yon 961 Rajawali Hitam, Menwa Dituntut Jaga Integritas

 

Menurutnya, semangat memberikan dampak tersebut menjadi salah satu dasar Undana dalam mendorong berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Keilmuan dan sumber daya yang dimiliki perguruan tinggi diharapkan dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat, termasuk dalam bidang pendidikan dan penyediaan sarana prasarana sekolah.

 

Program di SD GMIT 2 Kuanino menjadi salah satu bentuk konkret dari semangat tersebut. Tim pengabdian yang berasal dari berbagai bidang keilmuan di Undana, khususnya Pendidikan Teknik Bangunan, turun langsung melihat kondisi bangunan sekolah dan merancang langkah rehabilitasi yang sesuai dengan kebutuhan.

 

Masih di kesempatan yang sama, Ketua PKM, Aditya Ly, S.Pd., M.T., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk penerapan ilmu pengetahuan yang dimiliki Undana untuk membantu meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan.

 

Bangunan yang direhabilitasi terdiri atas tiga ruangan yang nantinya dapat digunakan sebagai aula dan ruang aktivitas bersama. Selain mendukung kegiatan guru dan siswa, ruangan tersebut juga diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan masyarakat di sekitar sekolah.

 

“Harapannya setelah dilakukan perbaikan, rehabilitasi dan renovasi bangunan gedung ini bisa digunakan untuk kegiatan sekolah, kepentingan guru, aktivitas siswa dan guru, serta masyarakat di sekitar lokasi,” jelas Aditya.

 

Program tersebut tidak dirancang sebagai kegiatan yang berhenti setelah proses renovasi selesai. Konsep Re-Life School 2030 menjadi bagian dari gagasan jangka panjang untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan fasilitas pendidikan secara berkelanjutan.

 

Di kesempatan terpisah, Kepala SD GMIT 2 Kuanino, Dorkas Dorince Draja Hedo, S.Pd., mengungkapkan bahwa bantuan dari Undana memiliki arti yang sangat besar bagi sekolah yang dipimpinnya.

Baca Juga  SALUT… Alumni Universitas Brawijaya Komit Bangun NTT

 

Ia mengisahkan, ketika pertama kali masuk dan melihat kondisi sekolah, khususnya bangunan yang kini direnovasi, dirinya merasa sangat prihatin. Kondisi ruangan saat itu jauh dari layak dan sudah lama tidak digunakan secara optimal.

 

Dalam kondisi tersebut, Dorkas hanya bisa berdoa. Ia bahkan sempat membuat sebuah video yang disertai dengan doa sederhana, “Tuhan, tolong.”

 

Menurutnya, doa tersebut kemudian perlahan menemukan jawaban ketika tiga dosen Pendidikan Teknik Bangunan Undana datang ke sekolah dan melihat langsung kondisi bangunan.

 

“Dimulai dari tiga dosen PTB Undana yang masuk ke sini dan melihat langsung. Atas itu, Undana kemudian memberikan perhatian,” ungkapnya.

 

Para dosen tersebut kemudian kembali melakukan kunjungan untuk melihat kondisi bangunan. Dari proses tersebut, muncul perhatian lebih serius untuk melakukan rehabilitasi.

 

“Pada bulan lalu, tiga dosen itu datang lagi. Akhirnya Rektor menyetujui untuk direnovasi,” tutur Dorkas.

 

Ia mengaku bersyukur karena bangunan yang sebelumnya terlihat seperti gedung yang sudah lama ditinggalkan kini kembali memiliki harapan untuk digunakan.

 

“Kondisi sebelum rehab itu sangat memprihatinkan. Ketika saya masuk, gedung ini seperti gedung yang tidak dipakai sudah bertahun-tahun. Dibayangkan, sudah seperti apa ruangannya. Sekarang menjadi ruang yang cerah,” katanya.

 

Bagi Dorkas, perubahan tersebut bukan sekadar perubahan fisik bangunan. Tiga ruangan yang telah direnovasi memberikan ruang baru bagi sekolah untuk menjalankan berbagai aktivitas yang sebelumnya terkendala karena keterbatasan fasilitas.

Baca Juga  Tiga Hari Jelang Konferensi IAPA 2025, FISIP Undana Siap Sambut Akademisi Lintas Negara

 

Ada yang special dari gedung ini yakni tidak dipakai sendiri oleh sekolah melainkan pemerintah dan masyarakat dalam berbagai agenda. Ia berharap perhatian terhadap SD GMIT 2 Kuanino dapat terus berlanjut, tidak hanya dalam pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga dalam peningkatan sumber daya manusia pendidikan, khususnya para guru.

 

Dorkas bersama seluruh sivitas akademika SD GMIT 2 Kuanino pun menyampaikan terima kasih kepada Rektor Undana dan seluruh pihak yang telah membantu merealisasikan renovasi tersebut.

 

Program PKM yang diketuai Aditya Ly tersebut melibatkan sejumlah dosen Undana, yakni Prof. Dr. Paul Gabriel Tamelan, M.Si., Dr. Drs. Ketut Mahendra Kuswara, M.Si., Ralno Robson Klau, S.T., M.Ling., M.T., Gauris Panji Er Lambang, S.T., M.Sc., dan Roly Edyan, S.Pd., M.Pd.T.

 

Dengan nilai pendanaan sebesar Rp50 juta, program tersebut menjadi salah satu bentuk nyata komitmen Undana dalam menerjemahkan semangat PKM Berdampak ke dalam aksi langsung di tengah masyarakat.

 

Bagi SD GMIT 2 Kuanino, renovasi tiga ruangan tersebut bukan hanya tentang dinding, atap, lantai atau bangunan yang kembali layak digunakan. Lebih dari itu, revitalisasi tersebut menghadirkan kembali harapan bagi guru dan siswa untuk memiliki ruang yang lebih nyaman dalam belajar dan beraktivitas.

 

Dari sebuah doa sederhana, “Tuhan, tolong”, lahirlah sebuah perubahan nyata. Dan melalui KUANINO RE-LIFE SCHOOL 2030, Undana berupaya memastikan perubahan tersebut tidak berhenti pada hari peresmian, tetapi menjadi awal dari perjalanan panjang menghadirkan lingkungan pendidikan yang lebih layak, berkelanjutan dan berdampak bagi masyarakat.(Alberto/TIM/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan