KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) terus memperkuat sektor bahari NTT sekaligus mewujudkan komitmen mencetak lulusan unggul dan peduli lingkungan. Langkah ini dibuktikan oleh dua mahasiswa Prodi Budidaya Perairan FPKP Undana yang turun langsung melakukan aksi konservasi pesisir di Desa Alor Besar serta riset rumput laut di Perairan Oenaek, Kupang Barat.
Mahasiswa pertama, John Agusthinus Wetang, melaksanakan penelitian skripsi selama 45 hari, terhitung Juli–Agustus 2025 di Perairan Desa Oenaek, Kabupaten Kupang. Risetnya berfokus pada “Pengaruh Bibit Kultur Jaringan, Stek Vegetatif, dan Bibit Pembudidaya terhadap Pertumbuhan, Produksi, dan Kandungan Karagenan Rumput Laut di Perairan Oenaek, Kupang Barat.”
Penelitian ini bertujuan membandingkan performa tiga sumber bibit rumput laut untuk mengukur laju pertumbuhan, hasil produksi, serta kandungan karagenan, komoditas vital bagi industri pangan, farmasi, dan kosmetik. Ketiga parameter tersebut menjadi indikator kunci dalam menentukan kualitas serta nilai ekonomi rumput laut sebagai komoditas unggulan perikanan budidaya di NTT.
Melalui pengamatan berkala, pengukuran biomassa panen, dan analisis laboratorium, riset ini ditargetkan mampu menyajikan data ilmiah mengenai jenis bibit paling efektif bagi pembudidaya di wilayah pesisir Kupang Barat.
“Penelitian ini tidak hanya sebagai syarat penyelesaian studi, tetapi juga diharapkan menjadi referensi bagi pembudidaya dan pemerintah daerah dalam menentukan penggunaan bibit yang mampu meningkatkan produksi rumput laut secara berkelanjutan,” ujar perwakilan Program Studi Budidaya Perairan. Hasil riset ini diharapkan mendongkrak daya saing rumput laut NTT di pasar nasional maupun internasional.
Di lokasi berbeda, mahasiswa FPKP Undana lainnya, Silsa Kapitan, melakukan aksi lewat Praktik Kerja Lapangan (PKL) Mandiri di Desa Alor Besar, Kabupaten Alor. Kawasan pesisir yang kaya keanekaragaman hayati laut dan panorama bawah laut memukau ini tengah menghadapi tantangan serius berupa kerusakan terumbu karang akibat aktivitas manusia serta ancaman sampah laut.
Selama PKL, Silsa terlibat langsung dalam rehabilitasi ekosistem, salah satunya pembuatan coating (pelapisan) rangka substrat media transplantasi karang. Ia melapis rangka besi berbentuk kubus menggunakan campuran semen secara teliti guna menghasilkan media kokoh bagi fragmen karang sebelum dipindahkan ke dasar laut.
Melalui interaksi langsung dengan warga Alor Besar, Silsa tak hanya menyerap pengalaman teknis rehabilitasi terumbu karang, tetapi juga mempelajari tata kelola wilayah pesisir berbasis kearifan lokal secara berkelanjutan. Baik riset bibit rumput laut di Oenaek maupun konservasi terumbu karang di Alor Besar diharapkan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa sekaligus memperkuat peran strategis Undana dalam pembangunan kelautan berkelanjutan. (*RLS/UNDANA-TIM)






