Kemdiktisaintek Sosialisikan Program AKSARA Mahasiswa 2026, Dorong Inovasi Sains Terapan untuk Masyarakat

Pendidikan465 Dilihat

JAKARTA — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyelenggarakan Sosialisasi Program Mahasiswa Berdampak Batch 2 Tahun 2026 secara daring melalui Zoom Meeting dan siaran langsung YouTube pada Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini digelar untuk memperkenalkan Program AKSARA Mahasiswa (Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa) sebagai wadah kolaborasi akademis antara mahasiswa dan dosen dalam menghadirkan solusi berbasis sains, teknologi, dan inovasi guna mengatasi persoalan riil di masyarakat.

Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemdiktisaintek, Prof. Dr. I Ketut Adnyana, menegaskan bahwa peluncuran program ini merupakan upaya Kementerian untuk mendekatkan perguruan tinggi dengan kebutuhan publik. Melalui skema ini, mahasiswa didorong untuk mengasah kompetensi akademik, kepedulian sosial, kemampuan berkolaborasi, serta jiwa kepemimpinan dalam menciptakan perubahan di tengah masyarakat.

Rekam Jejak Capaian dan Peluncuran Dua Skema Utama

Program AKSARA Mahasiswa 2026 merupakan pengembangan dari program pemberdayaan masyarakat yang berjalan sejak 2025. Pada tahun 2025, program ini menjaring 957 usulan kegiatan dengan 263 proposal dari 199 perguruan tinggi berhasil memperoleh pendanaan. Selain itu, pada awal 2026, lebih dari 10.000 mahasiswa telah terlibat aktif dalam kegiatan pengabdian pemulihan masyarakat di berbagai daerah terdampak bencana.

Baca Juga  Undana Kucurkan Rp 1 M untuk Kota Kupang, Lakukan Riset dan Pengabdian Masyarakat

Pada pelaksanaan tahun 2026, Program AKSARA Mahasiswa berfokus pada dua skema utama:

  • AKSARA Peduli:Difokuskan pada penyelesaian persoalan masyarakat di sektor pangan, energi, kesehatan, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
  • AKSARA Sirkular:Berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang mengedepankan edukasi, penerapan teknologi, serta penguatan kelembagaan.

“Program ini bukan sekadar kegiatan seremonial maupun penyerahan bantuan. Program ini merupakan proses pembelajaran dan pemberdayaan,” ujar Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemdiktisaintek, Prof. Dr. I Ketut Adnyana, pada Rabu (22/7/2026).

Peran Mahasiswa, Pendampingan Dosen, dan Ketentuan Teknis Lapangan

Tenaga Ahli Menteri Kemdiktisaintek, Fidela Marwah Huwaida, menjelaskan bahwa mahasiswa bertindak sebagai inisiator utama yang berkolaborasi secara lintas disiplin ilmu. Sementara itu, dosen berperan sebagai pendamping yang membantu mengimplementasikan hasil penelitian kampus melalui teknologi tepat guna. Program ini bertujuan membangun kepemimpinan transformatif, memperkuat tridarma perguruan tinggi, serta melatih mahasiswa merancang solusi berbasis potensi lokal hingga menjamin keberlanjutan manfaatnya.

Baca Juga  Tim SITH ITB Kembangkan Teknologi Tepat Guna Ekstraksi Minyak di Kecamatan Alor Selatan, NTT

Dalam sesi pemaparan teknis, Prof. Wisnu Nurcahyo memaparkan bahwa program ini berlangsung maksimal selama enam bulan. Setiap mahasiswa diwajibkan memenuhi sedikitnya 160 jam kerja efektif atau setara 40 hari kegiatan di lokasi mitra. Program ini juga mewajibkan keterlibatan dua kelompok masyarakat sebagai mitra sasaran dan satu mitra pemerintah, di mana teknologi yang diterapkan wajib berasal dari riset perguruan tinggi yang siap pakai.

“Mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi persoalan di lapangan, merancang solusi berbasis potensi lokal, menerapkan inovasi, hingga memastikan keberlanjutan manfaat program bagi masyarakat,” terang Tenaga Ahli Menteri Kemdiktisaintek, Fidela Marwah Huwaida.

Mengonversi Riset Kampus Menjadi Solusi Nyata Pembangunan Nasional

Peluncuran dan sosialisasi Program AKSARA Mahasiswa 2026 oleh Kemdiktisaintek ini membawa dampak perubahan landasan pengabdian yang sangat signifikan bagi ekosistem pendidikan tinggi di Indonesia. Selama ini, kegiatan pengabdian masyarakat oleh mahasiswa sering kali terjebak pada aktivitas seremonial, penyaluran bantuan fisik yang bersifat sementara, atau sekadar pemenuhan beban SKS tanpa membawa teknologi terapan dari kampus.

Baca Juga  ASN Undana Perkuat Kapasitas Birokrasi melalui Teknologi Kecerdasan Buatan

Ketiadaan keterikatan antara hasil riset dosen dan aksi lapangan mahasiswa membuat berbagai inovasi sains rawan berhenti di ruang kuliah, sementara masalah mendasar warga di bidang sampah, pangan, dan energi terus berulang tanpa penanganan yang berkelanjutan. Pola pengabdian yang tidak terintegrasi dan bersifat sementara tersebut terbukti tidak efisien serta gagal memberikan dampak perubahan sosial yang permanen bagi warga setempat.

Melalui integrasi riset dosen, skema kerja 160 jam berbasis teknologi tepat guna, serta kewajiban keterlibatan mitra pemerintah dan masyarakat ini, kelemahan pengabdian konvensional tersebut resmi dikoreksi. Dampak jangka panjangnya, masyarakat sasaran memperoleh pendampingan kelembagaan dan teknologi terapan dari kampus untuk menyelesaikan persoalan sampah serta ekonomi lokal secara mandiri.

Bagi institusi perguruan tinggi, program ini memperkuat implementasi tridarma melalui hilirisasi hasil riset yang sah. Bagi mahasiswa, keterlibatan aktif ini menjadi sarana menggembleng kepemimpinan transformatif, memperluas portofolio pengabdian, serta membuktikan peran mahasiswa sebagai kekuatan intelektual yang memberi dampak nyata bagi pembangunan nasional. (Isa/RLS/UNDANA/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan