Ibu Guru Pejalan Kaki 6 Km Sehari di Sikka Ini Jadi Inspirasi Hebat, Mario Vieira: Wadah Foundation Pastikan Dia Tak Sendirian

Nuansa NTT881 Dilihat

Maumere (MEDIATOR)-Vincensia Ervina Talluma, seorang guru yang sempat viral di berbagai platform media sosial karena setiap hari harus berjalan kaki sejauh 6 Kilometer untuk bertemu anak didiknya. Vincensia adalah guru yang benar-benar terpanggil nuraninya untuk mendidik anak bangsa. Beberapa tahun terakhir, dia mengajar di SD Katholik 064 Watubala Desa Wairterang, Kecamatan Waigete. Tak hanya jarak antara rumah dan sekolahnya yang sangat jaauh, melainkan penghasilannya yang sangat minim dan dibawah UMP. Walau diupah Rp 300.000 setiap bulan, dia menunjukkan jati dirinya sebagai seorang pendidik berdedikasi tinggi. Dia sangat loyal atas tanggungjawab yang dipikulnya.

Senin (17/03), sebuah tim kecil berkunjung ke Kabupaten Sikka, NTT. Florensio Mario Vieira, yang adalah bagian penting dari Yayasan Wadah Titian Harapan (Wadah Foundation) di Maumere, bersama tim harus menempuh jarak yang amat jauh untuk ke Kampung Wairbukang, Dusun Wodong, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Sikka.

Mereka ingin bertemu dengan Vincencia.

“Di hari Senin kemarin, saya bersama tim Wadah Foundation berkunjung ke “sekolah jarak jauh” di pedalaman dan perbukitan Sikka Flores NTT. Saya datang ke tempat itu secara mendadak setelah video ini viral dimana-mana. Bapak Hashim Djojohadikusumo menelfon saya untuk meninjau ke lokasi dan bertemu ibu Vincencia. Disana kami ingin belajar dari hal-hal luar biasa dari ibu guru terrsebut dan masyarakatnya, dan juga siapa tau ada yang bisa kami support, semacam pendampingan,”tegas Mario. Untuk diketahui, Hashim yang saat ini ditunjuk Presiden Prabowo Subianto sebagai utusan khusus bidang Energy dan Lingkungan hidup juga adalah Pembina Yayasan Wadah Titian Harapan (Wadah Foundation) selain beberapa Yayasan lainnya.

Baca Juga  Dari Panggung RSUD Kalabahi, Gubernur VBL Bicara Restorasi Pelayanan Medic, Kutip Pernyataan Ben Mboi

Dilanjutkan Mario, disana tim Wadah Foundation ingin bertemu dan melihat dari dekat kondisi Vincencia, ingin berdiskusi dan mengetahui lebih jauh tentang keterpanggilannya menekuni profesi guru serta apa yang menjadi kebutuhan mereka.

Mario Vieira, dari tim Wadah Foundation berhenti sejenak menapakai rute jalan yang dilalui Vincencia.

“Ini sesuatu yang layak diapresiasi, kami sangat menghargainya,”ungkap Mario. Saat berkunjung ke sana, dia didampingi tiga koleganya dalam tim Wadah Foundation yang melayani di Sikka masing-masing ibu Rista, ibu Nela dan Botu.

“Kampung ini terletak di pegunungan dan hanya dapat ditempuh dengan berjalan di jalan setapak sejauh 6 Km,”tutur Mario, aktivis sosial yang kini dipercaya Presiden Prabowo Subianto sebagai Tenaga Ahli Utama pada Badan Gizi Nasional (BGN) ini.

Dirincikan mantan pejabat pada Bappeda NTT ini, kampung tersebut dihuni oleh 43 KK tanpa penerangan (memakai pelita). Disana terdapat 8 murid kelas 1 SD, 13 anak PAUD, 1 ibu hamil, 8 ibu menyusui dan 17 anak non PAUD. Tak hanya itu, melainkan ditemukan juga tiga aspek yang harus segera dibenahi yakni penerangan, infrastruktur jalan dan bantuan kelas yang layak. Akses jalan yang sulit membuat kampung itu tak terjangkau listrik, lagipula bangunan yang dipakai untuk sekolah, tempat Vincencia mengajar, adalah sebuah bangunan darurat yang dibangun dari swadaya.

Facts & Figures ( SDA & SDM) yang cukup unik dan menantang ini menambah referensi untuk design metode khusus agar setiap anak di 3T plus terisolasi selain mendapat pendidikan yang berkualitas juga MBG apalagi masalah gizi dan stunting cukup tinggi. No one child left behind,”tegas Mario serius.

Baca Juga  Hashim Djojohadikusumo Pimpin Delegasi Indonesia di COP29, Pikat Pendanaan Hijau EUR 1,2 Miliar untuk Sektor Kelistrikan

Diakui, kondisi ini tidak saja terjadi di Sikka melainkan di belahan pulau yang lain, hanya mereka kurang terekspouse oleh media.

“Saya sangat meyakininya bahwa kondisi sejenis ini pasti tersebar di sebagian besar kawasan Indonesia Timur (pedalaman, kepulauan dan daratan). Karena itu perlu perhatian kita semua,”ujarnya.

Saat itu tim Wadah Foundation berjalan kaki amat jauh dan walau berhenti beberapa saat karena masuk keluar jalan setapak di sela semak dan bebatuan, mereka boleh merasakan kesulitan itu.

Duc in altum. Mari bertolaklah ke tempat yang lebih dalam ke Kampung Wairbukang, Dusun Wodong, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Sikka. Kami sudah bertemu dengan ibu guru Vincencia Ervina yang mengajar SD. Juga sudah bertemu dengan anak didiknya, semoga mereka segera diperhatikan. Karena bukan saja menolong ibu gurunya melainkan anak-anak didik disana. Mereka adalah anak bangsa yang butuh perlakuan yang sama dengan anak lain di daerah lainnya,”pungkas Mario.

Mario Vieira bersama anak didik di sekolah tempat Vinvencia mengajar.

Dari sebuah wawancara dengan BBC Indonesia, Vincencia adalah guru SD Katholik 064 Watubala Desa Wairterang, Kecamatan Waigete.

Diakuinya, setiap bulan digaji Rp 300.000 dengan rincian Rp. 150.000 dari dana BOS dan selebihnya Rp 150.000 dari komite sekolah.

“Saya menekuni profesi ini karena anak-anak didik ini. Kalau hujan, saya tidak bisa ke sekolah,”tuturnya. Pernyataan Vincencia sangat beralasan. Perempuan 30an tahun ini punya alasan lain, walau terpanggil karena anak didiknya, dia juga mempertimbangkan keselamatannya.

Baca Juga  KADIN NTT Peduli Bencana Flores, Pengurus Tujuh Kabupaten Turun Tangan

Tentang Wadah Foundation

Dipertegas oleh Mario Vieira bahwa kehadiran Wadah Foundation ke lokasi semata untuk mengidentifikasi apa yang bisa disupport oleh mereka karena prinsip kehadiran lembaga ini adalah untuk memfasilitasi potensi yang dimiliki.

“Harus diakui bahwa ada satu talenta hebat yang dimiliki oleh Ibu Vincencia, dan ini tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Kapasitas juga SDM dari ibu guru ini yang harus disupport, yakni menambah skillnya, juga pengetahuan dan keterampilannya. Wadah hadir dan memastikan bahwa Ibu Vincencia tidak sendirian. Kita hadir dan melengkapinya agar dia semakin kuat dan tangguh,”tutur Mario.

Ada satu potensi besar yang dimiliki oleh masyarakat setempat, yakni mereka memiliki nilai-nilai kegotong-royongan yang cukup tinggi dan ini dibuktikan dengan berbagai kegiatan pembangunan dilakukan secara swadaya.

“Inilah kekayaan, kearifan lokal yang jarang ditemui dan harus diapresiasi manakala budaya gotong-royong ini dijaga dan menghidupi mereka sehingga kita hanya sebagai fasilitator saja, agar dia lebih mudah mendapatkan sumber-sumber lain tetapi pelaksanaannya harus tetap berlandasakan budaya mereka,”jelas Mario menambahkan permintaan warga setempat untuk membangun satu ruang kelas akan menjadi contoh bahwa siapapun bisa terlibat, berkolaborasi dengan sumberdaya di desa.

“Kita terus memupuk dan menghindari hal-hal yang bersifat project. Kedepan Wadah tetap berperan sebagai mediator yang memfasilitasi dan memberi ruang pada kearifan lokal sebagai kekuatan ini harus tetap terpelihara,”tegasnya menambahkan, pihaknya sangat berhati-hati dalam perlakuan kepada orang-orang yang memiliki pasion luar biasa, sehingga ketika nantinya dibantu, mereka tetap hidup dan bukannya mati. (stenly boymau)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan