Kupang (MEDIATOR)— Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof. Dr. Brian Yuliarta, mewawancarai tiga calon rektor Universita Nusa Cendana (Undana) pada Kamis, 13 November 2025. Dalam sesi yang dilakukan secara daring itu, menteri Brian bertanya kepada Prof. Dr. Ir. Apris Adu, S.Pt., M.Kes., mengenai beberapa strategi untuk membesarkan Undana kedepan.
“Saat itu saya ditanyakan tentang pendapatan non akademik. Jika bicara isu ini maka kita akan mengoptimalkan peran dari BPU dan juga potensi-potensi yang ada di Undana yang sekarang ini sedang berjalan,”tegas Prof Apris kepada Mediatorkupang, Rabu (19/11) seusai memberikan materi dalam sebuah seminar di lantai 3 gedung rektorat Undana-Penfui.
Lebih jauh calon rektor peraih suara terbanyak (25 suara) dalam rapat senat tertutup September kemarin itu menambahkan, dalam sesi itu dia juga mengangkat mengenai potensi biru dan hijau.
“Ada potensi biru dan hijau. Potensi biru seperti rumput laut, ikan tuna, kerapu, potensi ikan yang lain dan ada potensi garam serta pariwisata. Sedangkan ekonomi hijau kita bisa kembangkan bambu di Flores, apel di SoE yang sudah hilang, jeruk keprok. Alpukat, Manggarai kita bisa kembangkan beras,”tegas Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) itu menambahkan “Yang paling utama adalah potensi lokal lainnya seperti kayu cendana yang akan dikenbangkan sebagai andalan kita di NTT.”
Kepada media ini, Prof Apris juga menyentil tentang dana penelitian. “Peningkatan (dana penelitian) memang saya pikir sudah saatnya kita harus perhatikan segala aspek yang ada di Undana ini dengan dunia industri sehingga pendanaan itu bisa sharing atau bisa full dari Undana atau full dari industri,”tegasnya.
Ini dikarenakan hasil dari semua ini bertujuan untuk komersialisasi dan untuk hilirisasi sehingga betul-betul seluruh hasilnya bisa berdampak bagi masyarakat. “Kalau ini bisa berjalan maka saya rasa baik,”ujarnya.
Dalam sesi seminar bersama staf khusus Wakil Presiden, N.T Budiharjanto beberapa saat sebelumnya, Prof Apris juga menyentil tentang industrialisasi pendidikan.
Dia memberi contoh, mengapa output Fakultas Kedokteran itu ketika tamat sudah sangat siap karena memang sudah dilatih sejak mereka mahasiswa, didukung dengan adanya rumah sakit-rumah sakit pendidikan.
“Saya ketika diwawancarai oleh Pak Menteri, saya katakan kenapa Fakultas Kedokteran itu selalu diminati walau mahal. Karena ada jaminan lapangan pekerjaan. Kenapa kita di fakultas lain tidak melakukan industri. Misalnya industri pendidikan, industri pertanian, peternakan dan sebagainya. Hari ini Program MBG butuh 13 ton sayur sehari, siapa yang bisa penuhi itu? Fapet kenapa kita tidak buat usaha ayam petelur dan sebagainya, mari kita terbuka dengan kondisi ini,’ujarnya. (***boy)






