Kupang (MEDIATOR)—Dewan Pengurus Provinsi Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPP APINDO) NTT menggelar Rapat kerja dan konsolidasi tingkat provinsi yang berlangsung di Hotel Haper Kupang, Senin (24/11). Sehari sebelumnya, masih dalam rangkaian agenda yang sama, dilakukanlah pelantikan DPK APINDO di lima kabupaten yakni DPK Belu, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sikka dan Sumba Barat.
Ketua DPP APINDI NTT, Bobby Pitoby dalam sambutannya menyebut dalam forum yang mengusung thema Pengusaha Bersatu, Bangun NTT: Memperkuat kolaborasi dunia usaha dan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan ini, organisasi akan merumuskan hal-hal penting di NTT. Apalagi secara regulasi, diamanatkan dalam undang-undang bahwa hanya APINDO satu-satunya organisasi yang hadir untuk menyelesaikan masalah hubungan industrial.
“Di Raker ini kita akan membahas berbagai isu strategis yang berlandaskan pda PP No 51 dan 3 yang menjadi turunan Undang-Undang Cipta Kerja. Dan kita semua disini ikut bertanggungawab menciptakan iklim ekonomi NTT yang baik,”tegasnya menambahkan “Jika melihat kondisi Indonesia dan NTT saat ini, kata kuncinya adalah produktivitas. SDM di NTT masih membutuhkan bimbingan. Porsi tupoksi dari belanja pemerintah di NTT masih terbalik dari idealnya. Di suatu daerah jika mau maju, tupoksi dari swasta mesti 70 persen dan pemerintah 30 persen. Sekarang masih banyak rekan yang berharap pada proyek pemerintah.”
Sementara Ketua Bidang Organisasi DPN APINDO, Anthony Hilman menegaskan Raker ini selain menjadi agenda prganisasi, juga untuk memastikan bahwa seluruh pengurus terus berjalan bersama. Apalagi ikut dibahas upah pekerja karena menurutnya, pekerjaan bukan sekedar mengenai penghasilan tapi martabat dan harapan keluarga.
“Hari ini tantangan penciptaan lapangan pekerjaan terlalu besar dan data menunjukkan bahwa 67 persen dari toral pengangguran di NTT adalah Gen-Z,”ujarnya.
Sedangkan Gubernur NTT yang diwakili Linus Lusi sebagai staf ahli, menitip pesan tentang sinergitas dan kolaborasi. Pengusaha NTT diharapkan membaca peluang dari negara tetangga, Republic Democratic Timor Leste (RDTL). Karena sejauh ini kebutuhan pokok warga maupun infrastruktur, masih didatangkan dari Jawa Timur-Indonesia dan negara lain. (BOY)












