Destinasi Edukasi Panas Bumi Ditargetkan Rampung Awal 2027, Karya Monumental PLN di Geowisata Mataloko

Ekonomi633 Dilihat

BAJAWA – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) terus mendorong pemanfaatan potensi panas bumi secara lebih luas melalui pengembangan kawasan geowisata Mataloko di Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Destinasi wisata edukasi berbasis manifestasi panas bumi tersebut kini memasuki tahap akhir pembangunan dan ditargetkan rampung pada awal 2027, sebagai upaya menghadirkan manfaat panas bumi tidak hanya untuk penyediaan energi listrik, tetapi juga bagi sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.

Pengembangan geowisata Mataloko menjadi salah satu upaya PLN dalam mendorong pemanfaatan potensi panas bumi secara lebih luas, khususnya untuk kegiatan edukasi, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kawasan ini diharapkan dapat menjadi destinasi wisata yang memperkenalkan fenomena alam panas bumi sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, khususnya di Desa Adat Wogo, Kecamatan Golewa.

Program tersebut juga merupakan tindak lanjut rekomendasi Satuan Tugas (Satgas) Geotermal yang dibentuk Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 2025. Rekomendasi tersebut antara lain mendorong pengelolaan kawasan manifestasi panas bumi Mataloko melalui pendekatan yang memperhatikan aspek lingkungan, keselamatan, serta potensi pengembangan wisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pengembangan geowisata di sekitar kawasan panas bumi sebelumnya juga telah dilakukan oleh sejumlah BUMN, antara lain Pertamina Geothermal Energy (PGE) melalui pengembangan Desa Wisata Geothermal Kamojang di Jawa Barat dan Geowisata Kopi Ulubelu di Lampung, serta PT Geo Dipa Energi melalui wisata edukasi geothermal di kawasan Dieng, Jawa Tengah. Berbagai inisiatif tersebut menjadi referensi pengembangan potensi wisata berbasis panas bumi yang mengintegrasikan edukasi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Baca Juga  Setelah Atadei, PLN Peduli Dukung Pengembangan Rumah Ibadah di Mataloko
Para pekerja melakukan pemeriksaan kualitas jalan akses yang telah dibangun menuju kawasan Geowisata Mataloko di Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, guna memastikan kualitas infrastruktur pendukung pengembangan destinasi wisata edukasi panas bumi tersebut.
Foto: PLN

Di Mataloko, pengembangan kawasan geowisata juga didukung melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli. Dukungan tersebut mencakup pembangunan dan perbaikan sejumlah fasilitas, pelatihan bagi masyarakat, serta penguatan kelembagaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sebagai bagian dari persiapan pengelolaan kawasan wisata secara berkelanjutan.

Tokoh muda Kampung Wogo, Hans Bhagi, menyambut positif pengembangan kawasan geowisata Mataloko. Menurutnya, kehadiran geowisata tersebut diharapkan dapat meningkatkan potensi wisata Desa Wogo sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

“Kami senang dengan adanya pembangunan geowisata ini dan berharap programnya dapat berjalan sukses. Kehadiran geowisata tentu menjadi potensi baru bagi Desa Wogo. Harapan kami, anak-anak muda di sini nantinya bisa ikut terlibat dan mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan wisata yang dikembangkan,” ujar Hans.
Hans juga mengapresiasi dukungan PLN melalui program PLN Peduli, mulai dari pembentukan Pokdarwis, pembangunan dan perbaikan sejumlah fasilitas, hingga pelatihan bagi masyarakat untuk mendukung pengembangan kawasan wisata tersebut.

Baca Juga  Srikandi PLN UIP Nusra Serahkan Bantuan Sarana KBM untuk Rayakan Hari Anak Nasional

“Kami berterima kasih kepada PLN atas berbagai dukungan yang sudah diberikan, baik pembangunan fasilitas maupun pelatihan untuk masyarakat. Apalagi sekarang sudah ada Pokdarwis yang dibentuk. Kami berharap hubungan baik dan kerja sama ini terus berlanjut agar geowisata Mataloko nantinya benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Wogo,” tambahnya.

Sementara itu, sejalan dengan pengembangan kawasan geowisata, PLN UIP Nusra juga terus mempersiapkan tahapan pengeboran (drilling) PLTP Mataloko FTP-2 berkapasitas 2×10 Megawatt (MW). Setelah menuntaskan pembangunan infrastruktur persiapan yang meliputi empat wellpad, jalan akses sepanjang kurang lebih delapan kilometer, dan laydown area, PLN saat ini tengah menyelesaikan kajian Environmental and Social Impact Assessment (ESIA), khususnya terkait rencana pengambilan dan pemanfaatan air untuk kebutuhan pengeboran. Penyelesaian kajian tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan pelaksanaan pengeboran memperhatikan aspek teknis, lingkungan, dan sosial sesuai standar yang dipersyaratkan.

General Manager PLN UIP Nusra, RDW Manurung, menyampaikan bahwa pengembangan geowisata Mataloko merupakan bagian dari komitmen PLN untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas dari potensi panas bumi di Flores. Menurutnya, pengembangan energi panas bumi perlu berjalan beriringan dengan pengelolaan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah pengembangan.

Baca Juga  Bank NTT Dianugerahi POS KUPANG Stunting Award Peduli Stunting

“Potensi panas bumi di Flores sangat besar dan pemanfaatannya tidak hanya terbatas pada pembangkitan energi listrik. Melalui pengembangan geowisata Mataloko, kami ingin menghadirkan manfaat lain yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, baik melalui kegiatan pariwisata, edukasi, maupun peluang ekonomi bagi warga sekitar. Kami juga terus membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah, masyarakat adat, dan seluruh pemangku kepentingan agar pengembangan kawasan ini dapat dikelola secara berkelanjutan,” ujar RDW Manurung.

RDW menambahkan bahwa PLN berkomitmen untuk terus menjalankan pengembangan PLTP Mataloko secara bertanggung jawab, termasuk menindaklanjuti rekomendasi Satgas Geotermal Pemerintah Provinsi NTT serta memastikan setiap tahapan pembangunan memperhatikan aspek keselamatan, lingkungan, dan sosial.

“Harapan kami, kehadiran geowisata ini nantinya tidak hanya menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Ngada, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran mengenai energi panas bumi sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, khususnya generasi muda dan Pokdarwis Desa Adat Wogo, kami optimistis manfaat pengembangan panas bumi dapat terus dirasakan secara berkelanjutan,” tutupnya. (RLS/PLN/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan