KUPANG—Sebanyak 2.319 orang mahasiswa dari 41 lembaga perguruan tinggi di Provinsi NTT akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) ) Tematik Mahasiswa Berdampak Gerakan NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif (GENTASKIN) Batch 2. Nantinya mereka akan melaksanakan KKN di 100 desa pada 13 kabupaten.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, saat melepas mereka di Aula Utama Kantor Bupati Kupang, Kamis (9/7/2026), menegaskan bahwa NTT masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan yang kompleks. Kondisi geografis, iklim, dan berbagai persoalan struktural menyebabkan tingginya angka stunting serta masih banyaknya masyarakat yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, terutama di wilayah pedesaan.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen, termasuk perguruan tinggi, agar ilmu pengetahuan dapat hadir secara nyata di tengah masyarakat.
“Kampus selama ini sering dipandang sebagai menara gading. Hari ini paradigma itu berubah. Kampus harus hadir di tengah masyarakat dan memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat,” ujar Melki.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof Fauzan, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal dan Daerah Tertentu Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat RI, Prof Reinhard Abdul Haris, Wakil Bupati Kupang, Aurum Titu Eki, Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Prof Adrianus Amheka, Rektor Undana, Prof Jefri Bale dan empat wakil rektor, pimpinan perguruan tinggi, serta dosen pembimbing lapangan.
Ia berharap kehadiran 2.319 mahasiswa di desa-desa mampu menghadirkan pendekatan yang lebih ilmiah dalam memetakan sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan di NTT.
“Kehadiran adik-adik mahasiswa di desa-desa nantinya kita harapkan agar seluruh masalah di NTT ini bisa didekati secara lebih saintifik ilmiah dan juga bisa kita carikan solusi berbasis saintifik ilmiah,” katanya.
Program Mahasiswa Berdampak merupakan inisiatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang mengubah paradigma pengabdian masyarakat menjadi gerakan sosial yang berorientasi pada hasil nyata.
Di tingkat regional, program tersebut diimplementasikan oleh LLDIKTI Wilayah XV melalui Gerakan NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif (GENTASKIN).
Melalui KKN Tematik GENTASKIN Batch 2 Tahun 2026, sebanyak 2.319 mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu diterjunkan ke wilayah prioritas penanganan stunting dan kantong-kantong kemiskinan di NTT. Para mahasiswa dibentuk dalam tim lintas disiplin sehingga mampu menghadirkan solusi yang komprehensif.
Permasalahan stunting, misalnya, tidak hanya ditangani dari aspek kesehatan, tetapi juga dikaitkan dengan ketersediaan air bersih, ketahanan pangan, produktivitas pertanian, pemberdayaan ekonomi keluarga, hingga penguatan literasi masyarakat.
Selain itu, mahasiswa juga diharapkan memperkuat pelayanan Posyandu dan Tim Pendamping Keluarga (TPK), melakukan digitalisasi pencatatan data pertumbuhan balita, meningkatkan edukasi mengenai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), serta mendampingi masyarakat dalam berbagai program pemberdayaan.
Gubernur Melki optimistis kehadiran mahasiswa akan memberikan dampak nyata sebagaimana keberhasilan pelaksanaan GENTASKIN Batch 1.
“Kami berharap GENTASKIN Batch 2 membawa perubahan yang signifikan di desa-desa sasaran. Kehadiran mahasiswa harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof Fauzan, menegaskan bahwa perguruan tinggi pada hakikatnya merupakan bagian dari masyarakat sehingga harus mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia menilai banyaknya perguruan tinggi tidak akan berarti apabila belum mampu memberikan kontribusi nyata terhadap penyelesaian masalah di daerah.
“Jadilah problem solver. Belajarlah menjadi orang yang mampu menyelesaikan masalah, bukan justru menambah masalah. Kehadiran saudara membawa nama baik perguruan tinggi masing-masing, sehingga tanggung jawab itu harus dijaga,” ujarnya.
Fauzan juga mendorong seluruh perguruan tinggi di NTT untuk memperkuat kolaborasi melalui konsorsium perguruan tinggi guna meningkatkan mutu pendidikan sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai persoalan pembangunan di daerah.
Wakil Bupati Kupang, Aurum Titu Eki, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Kabupaten Kupang sebagai salah satu lokasi pelaksanaan KKN GENTASKIN Batch 2. Ia berharap para mahasiswa tidak hanya membawa ilmu pengetahuan dan inovasi, tetapi juga belajar dari kearifan lokal masyarakat selama menjalankan pengabdian.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Prof Adrianus Amheka, melaporkan bahwa KKN Tematik GENTASKIN Batch 2 akan berlangsung selama 9 Juli hingga 31 Agustus 2026. Program ini melibatkan 41 perguruan tinggi, 2.319 mahasiswa dari berbagai program studi, serta 100 dosen pembimbing lapangan. (RLS/BIRO-AP/BOY)






