Warga Kota Kupang Sangat Antusias, Saksikan Ngaben 57 Abu Jenazah

Metro2967 Dilihat

Kupang (MEDIATOR)–Antusias warga masyarakat menyaksikan Upacara Ngaben (Ngelungah) Massal , Kremasi Tulang Jenazah ini, menarik perhatian berbagai pihak hingga Pimpinan Kepala Daerah Kota Kupang karena totalnya mencapai 57 Sawa. Seremoni ini berlangsung Minggu (7/5/2023), bertempat di Areal Pekuburan (Setra) Hindu dan Krematorium Banjar Dharma Agung Kupang, Pura Prajapati, Kelurahan Nunbaun Sabu Kecamatan Alak, Kota Kupang.

Mereka yang datang di sana, dan memadati lokasi adalah keluarga duka warga Hindu Kupang NTT, sementara ada juga pengunjung yang datang jauh-jauh dari luar yaitu dari Lombok, Bali serta juga warga sanak family yang terkait didalamnya. Hadir juga Penjabat Walikota Kupang, George Melkianus Hadjoh atas nama pemerintah.

Dikutip dari laman Hindukupang.com, umat Hindu Kupang berharap agar areal pekuburan Hindu di Kota Kupang ini juga bisa ditata dan mendapat perhatian dukungan moril dan materiil dari Pemerintah Kota Kupang.  Sementara makna filosofi dari Upacara Ngaben adalah mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta, Lima element dari tubuh fisik yaitu Api ke api, Air ke air, tanah ke tanah, udara ke udara, dan Ruang ke Akasha.

Baca Juga  Membanggakan, Pemkot Kupang Raih Penghargaan dari Kementerian Keuangan RI
ANTUSIAS. Umay Hindu di Kota Kupang saat melaksanakan prosesi upacara.
Foto: Hindukupang.com/Mediatorkupang.com

Kemudian setelah kremasi api suci selesai dilaksanakan dibentuk abu tulang jenazah, menjadi wujud kepala, badan, kaki di kain putih “Sekar Puspa Lingga” diisi rerajahan Aksara Suci ONGKARA, dan ONGKARA Sungsang, dibekali bunga sekar , kwangen dan juga uang koin (pis) bolong, sesuai urip jumlah angka pada setiap bagian kepala, badan, tangan dan kaki.

Tulang hasil kremasi kemudian menggunakan tangan kiri dari masing-masing keluarga, digerus , digiling sehingga menjadi halus kemudian dimasukkan kedalam kelapa Kuning Gading yang telah dikasturi dan diukir 10 aksara suci (Dasa Aksara) menggunakan pisau ukir pada kelapa.

Acara selanjutnya adalah semua hasil kremasi Api Suci/pembakaran semua abu dan tulangnya dibungkus kain putih, dan dilanjutkan upacara Mepepegat, memutuskan ikatan, untuk kemudian dihanyutkan ke laut di Pantai Namosain, Kota Kupang.

Baca Juga  Gubernur Lantik Fahren Funai Jadi Penjabat Walikota
Foto: Hindukupang.com/Mediatorkupang.com

Hingga pukul 12:30 Wita, dilakukan Upacara Nganyut abu dan tulang hasil kremasi api suci usai Ngaben (Ngelungah) Massal , yang dilaksanakan di pantai Namosain, dipimpin Pinandita I Wayan Suparta, dengan melakukan Upacara Mecaru, penyucian dan matur piuning, serta Kramaning Sembah pada Sang Hyang Baruna (Lautan). Acara selanjutnya menghanyutkan (Nganyut) 57 Abu jenazah Ngaben massal ke dalam laut, yang dibawa oleh masing-masing keluarga serta juga bunga Sekar Lingga dihanyutkan semua ke tengah lautan, dengan membuka kain putih dan melepaskan abu suci menyatu dengan Alam Semesta.

Dan untuk menjaga kebersihan lingkungan pantai dan lautan , berbagai kain putih dan perlengkapan upacara mecaru semuanya dibawa kembali ke areal Krematorium Hindu untuk dibakar. Dan pada pukul 13:30 Wita usai Nganyut di segara lautan Pantai Namosain, umat Hindu kembali ke Pura Prajapati melakukan Upacara Nyapuh Karang dengan menggunakan banten Mecaru Panca Sata, 5 Sanggah Cucuk, dan mengitari sesuai Prasawiya berlawanan arah jarum jam, guna menyucikan dan membersihkan areal dari utama mandala Pura Prajapati yang telah bersih dari berbagai makam, kuburan Hindu. (Hindukupang/Stenly Boymau/Habis)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan