Undana Hadirkan Ruang Aman Lewat Kurikulum Kesehatan Mental dan Peer Support

Pendidikan341 Dilihat

KUPANG – Ketika pertolongan sering kali datang terlambat dan stigma membuat mahasiswa memilih bungkam, Universitas Nusa Cendana (Undana) memilih bergerak lebih cepat dengan menghadirkan ruang-ruang aman melalui pengembangan kurikulum literasi kesehatan mental dan peer support group di setiap fakultas demi memutus rantai depresi dan risiko bunuh diri di kalangan mahasiswa.

Hal ini mengemuka saat rapat koordinasi strategis bersama Mennonite Central Committee (MCC) dan Yayasan Kerja Sama Perdamaian dan Akademik Indonesia (YKPAI) pada Rabu (29/7/2026) di Rektorat Undana.

Pertemuan yang dipimpin langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. drh. Annytha I. R. Detha, M.Si., di Ruang 202 Rektorat Undana ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus depresi dan bunuh diri yang kian mengkhawatirkan di Indonesia akhir-akhir ini.

Urgensi Penanganan dan Fenomena “Masked Depression”

Dalam pembahasan pada pertemuan tersebut dijelaskan bahwa langkah ini sangat mendesak (urgent). Masalah kesehatan mental dinilai sangat mudah menyebar, yang juga erat kaitannya dengan peningkatan kasus kekerasan, baik konvensional maupun digital.

Rizky Pradita Manafe, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku salah satu anggota tim Mental Health Project menekankan bahwa situasi ini menuntut tindakan cepat karena masalah mental dapat menular dengan mudah.

Baca Juga  Prof. Alo Liliweri Membedah Peluang Kemenangan Pendatang Baru dan Kader Partai di Pilgub NTT 2024

“Hal ini sangat mendesak karena masalah mental dapat menular dan sangat mudah menyebar, termasuk perilaku bunuh diri. Begitu sebuah kasus terekspos, dampaknya bisa langsung terjadi di mana-mana. Hal ini juga berkaitan erat dengan kekerasan yang menjadi pemicu meningkatnya masalah mental dari hari ke hari. Tidak hanya kekerasan konvensional yang kita temui secara langsung, tetapi juga kekerasan digital yang intensitasnya semakin tinggi. Inilah yang membuat kita harus bergerak cepat,” jelasnya.

Berdasarkan data penelitian yang dipaparkan, tercatat 4 dari 11 kasus bunuh diri di Kota Kupang sepanjang rentang tahun 2023 hingga 2026 yang melibatkan mahasiswa Undana.

Zerlinda Christine Aldira Sanam, S.Psi., M.Psi., sebagai salah satu anggota tim yang hadir pada kesempatan tersebut, turut menambahkan bahwa banyak korban menunjukkan gejala depresi terselubung (masked depression). “Dari luar tampak baik-baik saja, aktif, memiliki nilai akademis yang baik, dan ceria, namun menyimpan depresi berat di balik itu,” ungkapnya.

Integrasi Kurikulum dalam PKKMB sebagai Langkah Awal

Selain itu, layanan psikologi Undana juga mencatat bahwa sebagian besar mahasiswa yang datang melapor justru sudah berada pada tahap memiliki ide bunuh diri atau bahkan pernah mencoba bunuh diri beberapa kali.

Baca Juga  Survei FISIP Undana: Publik Puas Atas Kinerja Kepemimpinan Walikota-Wakil Walikota

Demi menanggulangi darurat kesehatan mental tersebut, Undana bersama para jajaran pimpinan fakultas sepakat mengembangkan kurikulum literasi kesehatan mental dan pembentukan peer support group di tiap fakultas. Kendati demikian, upaya integrasi ini menghadapi tantangan struktural. Kurikulum di setiap fakultas saat ini sudah bersifat tetap (fix), sehingga ruang penyesuaian yang paling fleksibel berada di luar mata kuliah reguler.

Ketua tim, Dr. dr. Nicholas Edwin Handoyo, M.Med.Ed., menerangkan bahwa penyisipan materi ini akan dioptimalkan melalui Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).

“Kami menyepakati bahwa di awal ini literasi kesehatan mental akan dimasukkan terlebih dahulu di PKKMB sembari kami menyiapkan modul pembelajarannya dengan perwakilan Layanan Psikologi Terpadu (LPT) Undana yang akan menjadi narasumber di tiap fakultas,” tutur ketua tim.

Selain hambatan struktural kurikulum, proses edukasi ini juga berhadapan dengan tembok tebal berupa stigma sosial. Melalui pengenalan sejak dini lewat PKKMB, mahasiswa baru diharapkan dapat dibekali pemahaman dasar untuk mengenali kondisi diri, mengetahui cara mencari pertolongan, serta mengatasi masalah sebelum berkembang menjadi lebih berat.

Sebagai bagian dari penguatan program ini, jalannya rapat juga menyepakati dua hal penting lainnya, yakni pelibatan tenaga kependidikan dalam program MCC serta pertimbangan untuk menghadirkan psikiater guna menangani kasus lanjutan bagi mahasiswa yang berpotensi mengalami depresi berat.

Baca Juga  Prof. Apris Adu Ingin Jadikan UNDANA Perguruan Tinggi Berkelas Internasional dan Berdampak Bagi NTT

Target Perekrutan dan Kriteria

Sebagai bentuk aksi nyata, program ini menargetkan pembentukan tim pendukung sebaya sebanyak 30 orang pada tahap awal (Training of Trainers/ToT). Tim awal ini akan dilatih mengenai Psychological First Aid (PFA) yang kemudian memiliki tugas melatih 30 orang lainnya di tiap fakultas. Dengan sembilan fakultas yang ada di Undana, total target tahap pertama mencapai 270 orang kader ditambah 30 orang ToT awal.

Terkait kriteria perekrutan, Rizky Pradita Manafe menjelaskan empat poin utama yang harus dipenuhi, yakni empati, kemampuan bekerja sama, komunikasi yang baik, serta integritas. “Masalah mental adalah sesuatu yang privat sebenarnya, jadi dibutuhkan orang-orang yang bisa menjaga rahasia serta memiliki kemampuan komunikasi verbal dan nonverbal yang mumpuni,” tambah Dita.

Melalui program ini, Undana menetapkan target jangka pendek dan panjang untuk menekan risiko bunuh diri di kalangan mahasiswa serta mengurangi stigma sosial yang beredar, mengurangi kejadian bunuh diri, membantu para mahasiswa ataupun sivitas akademika yang membutuhkan teman curhat, sehingga dapat tertangani sejak awal. (FnT/rls/undana/boy)

Foto: Alfanthy Octavianus

Posting Terkait

Jangan Lewatkan