Tim FPKP Undana Gelar PKM di Balairung-Lembata, Berikut Rekomendasi Penting yang Dihasilkan

Pendidikan801 Dilihat

Kupang (MEDIATOR)—Tim dari Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (Prodi MSP) Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan (FPKP), Universitas Nusa Cendana (UNDANA), melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Kabupten Lembata. Adapun tim dari yang terdiri dari Dr. Lady Cindy Soewarlan, S.Pi, M.Pi, Lumban Nauli Lumban Toruan, S.Pi, M.Si, dan Lebrina Ivantry Boikh, S.Pi, M.Si ini bergerak untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran perempuan dan kelompok usaha di Balauring, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata.

SOSIALISASI. Fasilitatos ketika melakukan sosialisasi dan mengarahkan para peserta di Balauring, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata.
Foto: Dok

Kepada media, dilaporkan bahwa kegiatan ini bertujuan menjadikan komunitas ini sebagai salah satu bagian dari peningkatan pendapatan di tingkat desa, dengan kemampuan memotivasi dan menggerakkan kelompok untuk memberikan nilai tambah pada pemanfaatan tuna second grade dan sisa hasil samping loin melalui pendekatan yang sesuai.

Kegiatan yang dilaksanakan 8 Agustus 2023 ini melibatkan mahasiswa Prodi MSP asal Lembata, yakni William Ama Tupen dan Theresia Kutan. Keterlibatan para mahasiswa bertujuan memberikan pengalaman nyata berinteraksi dengan masyarakat kepada mahasiswa serta mendukung kegiatan tim dalam berinteraksi dengan kelompok masyarakat di Lembata.

Adapun kegiatan dilakukan melalui sosialisasi dilanjutkan dengan diskusi partisipatif ini didukung partisipasi aktif peserta yang difasilitasi oleh mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan FPKP, Undana serta disaksikan dan ikut berpartisipasi pula Kepala Desa Balauring, Masri Bahriman.

SERIUS. Para peserta nampak serius menyimak penjelasan fasilitatos di Balauring, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata.
Foto: Dok

Untuk diketahui bahwa kegiatan ini melibatkan peserta secara aktif untuk mengindentifikasi potensi, kelemahan, peluang dan ancaman serta selanjutnya merumuskan strategi optimalisasi pengembangan serta pemasaran tuna second grade dan sisa hasil samping loin.

Baca Juga  Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila, SD GMIT Airnona 1 Usung Tema Kewurausahaan

Sementara, hasil sosialisasi ini mencerminkan peningkatan pengetahuan dan keterlibatan peserta. Sedangkan strategi yang dihasilkan dari diskusi tersebut meliputi: Peningkatan kualitas tuna second grade dan sisa hasil samping loin dapat dilakukan melalui penggunaan es balok untuk pendinginan selama penangkapan dan setelahnya; Dibutuhkan pengendalian kualitas menggunakan media dan teknik pendinginan yang tepat untuk menjaga kestabilan harga tuna second grade.

Tak hanya itu, melainkan diversifikasi olahan tuna second grade untuk pemasaran di luar Balauring dapat dilakukan dalam bentuk potongan steak, potongan yang dibutuhkan hotel/restoran/rumah makan, dan bentuk lainnya yang dibutuhkan untuk konsumsi rumah tangga.

Adapun pengembangan olahan sisa hasil samping loin untuk dijual di kabupaten/kota lain di Pulau Timor dengan menggunakan transportasi TOL LAUT sedangkan pemasaran olahan sisa hasil samping loin dapat dioptimalkan melalui berbagai media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok, yang didukung dengan kolaborasi dari para konten kreator lokal untuk meningkatkan pemasaran berbasis daring.

Masih dalam PKM tersebut, tim kecil ini memberikan sejumlah rekomendasi yakni Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah dapat mendukung upaya untuk percepatan optimalisasi strategi tersebut melalui:

  1. Pelatihan pengembagan diversifikasi produk tuna second grade dan hasil samping loin. Sebaiknya pengembangan dilakukan untuk target konsumen di luar Lembata, produk harus tahan lama, produksi dengan biaya yang relatif rendah, kontinuitas produksi harus terjaga, perbaikan kualitas dan kemasan, dan fasilitasi proses perijinan.
  2. Pendampingan pembuatan akun media sosial untuk pemasaran dan kolaborasi dengan berbagai influencer. Kegiatan dapat dilakukan melalui kerjasama dengan lembaga-lembaga lokal.
  3. Riset kehilangan produksi karena penurunan kualitas dan kehilangan produksi karena pengolahan. Kegiatan dapat dilakukan oleh Perguruan Tinggi dan atau Penyuluh Perikanan atau lembaga terkait lainnya.
  4. Pemerintah daerah melakukan survey kebutuhan pabrik es. Kualitas produksi sangat tergantung dari ketersediaan media pendingin yang memadai dengan harga yang relatif terjangkau. Desa dapat berkoordinasi dengan Penyuluh Perikanan dan Dinas Perikanan Kabupaten Lembata serta pihak terkait.

Pertemuan Regional

Baca Juga  Disaksikan Dua Rektor, Pastor Yulius Yasinto, Ketua Yapenkar Kupang Raih Gelar Doktor di UKSW Salatiga

Pada tahun 2019, masyarakat dan perikanan Indonesia menginisiasi Pertemuan Regional Komite Bersama Tuna yang dihadiri oleh berbagai pihak termasuk pemerintah, LSM, pedagang, industri, kelompok wanita nelayan, dan nelayan tuna dari seluruh penjuru Indonesia. Fokus pertemuan tersebut adalah permasalahan dalam perikanan tuna, dengan sorotan khusus pada tuna second grade – tuna dengan ukuran di bawah standar ekspor yang umumnya dijual di pasar lokal dengan harga relatif murah. Pada sisi lainnya, nelayan harus menghadapi biaya produksi yang tinggi.

PARTISIPASI aktif para peserta yang difasilitasi oleh mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan FPKP Undana, disaksikan dan ikut berpartisipasi, Kades Balauring.
Foto: Dok

Dalam diskusi tersebut, satu kesepakatan penting yang dicapai adalah pengembangan diversifikasi olahan untuk meningkatkan nilai dari tuna second grade. Pendekatan strategis melibatkan peran aktif perempuan dalam komunitas nelayan untuk mengoptimalkan nilai dari produk ini. Sasaran utamanya adalah untuk mengubah bentuk penjualan tuna second grade menjadi bentuk lain yang tidak hanya berupa produksegar, sehingga mencapai pasar yang lebih luas dan meningkatkan nilai jualnya, sejalan dengan tujuan peningkatan pendapatan nelayan.

Baca Juga  UKAW Kupang Berbagi, Gandeng Masyarakat dan Siswa SMP Raknamo Gelar Aneka Kegiatan

Hal serupa juga diupayakan dalam perikanan tuna di Balauring, Lembata. Berdasarkan survei tim kecil dari Undana ini pada akhir tahun 2022, ditemukan kasus potensi kehilangan produksi pada perikanan tuna second grade dan sisa hasil sampingnya di Balauring. Produksi tuna yang memenuhi standar ekspor dijual sebagai loin kepada industri tuna di Larantuka dan Maumere untuk dibentuk loin.

Namun demikian, potongan sisa loin tidak dimanfaatkan dalam bentuk lain dan dibagikan kepada masyarakat secara cuma-cuma, bahkan terkadang dibuang jika hasil tangkapan sangat berlebih. Selain itu, tuna dengan ukuran di bawah standar ekspor (≤ 10 kg) dijual dalam bentuk gelondongan di pasar lokal dengan harga yang relatif murah. Ada juga kasus di mana sisa hasil samping loin dibuang ke laut, meskipun masih memiliki nilai nutrisi dan ekonomi yang dapat dimanfaatkan dengan baik.

Kegiatan ini dibuka dan ditutup oleh Kepala Desa Balauring, Masri Bahriman. Dalam sambutannya dia berharap agar kegiatan ini memberikan manfaat signifikan bagi pengembangan sektor perikanan tuna, terutama bagi kelompok usaha wanita di Desa Balauring.

“Saya atas nama pemerintah dan masyarakat menyampaikan terimakasih kepada Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Undana atas kontribusinya kepada masyarakat Balauring, dengan harapan bahwa desa ini akan terus menjadi sasaran dari berbagai program UNDANA di masa mendatang,”tegasnya. (***/KJR)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan