SITH ITB Gelar Pelatihan Pasca Panen & Valorisasi Kemiri di Apui, Kecamatan Alor Selatan-NTT

Pendidikan1372 Dilihat

Kalabahi (MEDIATOR)–Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Sekolah Ilmu Teknologi Hayati ITB (SITH ITB) kembali mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui program “Pengabdian Masyarakat Daerah 3T Wilayah Indonesia Timur 2023” di Apui, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
Berbeda dengan kunjungan pertama oleh tim dari ITB pada Agustus 2023 yang bertempat di Desa Kuneman, kali ini kegiatan dilaksanakan di daerah ibu kota kecamatan yaitu Apui dengan tujuan memberikan dampak yang lebih besar kepadamasyarakat sekitar.
Kegiatan yang mendapatkan pendanaan dari LPPM ITB ini merupakan program Kerjasama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia.
Tim pengabdian kepada masyarakat tersebut dipimpin oleh Dr. M Yusuf Abduh sebagai ketua pelaksana dan beranggotakan tim dosen, yaitu Dr. Rijanti Rahaju Maulani, dan Dr. Lili Melani serta tiga orang mahasiswa Adela Damika Putri, Anasya Rahmawati, dan Muhammad Zaki Arrazi.
Fokus utama dalam kunjungan lanjutan ini adalah memberikan pelatihan kepada warga Desa Kuneman secara khusus dan warga di sekitar kecamatan Alor Selatan untuk mempraktikkan tatacara pasca panen biji kemiri beserta valorisasi biji kemiri menjadi berbagai bioproduk seperti minyak biji kemiri, briket cangkang kemiri, dan pakan ternak bungkil kemiri. Selain itu dilaksanakan pula penyerahan alat serta pemaparan teknis penggunaan alat pemecah biji kemiri dan pengempa daging bji kemiri.
Kegiatan pelatihan ini dibuka oleh Camat Alor Selatan, Imanuel Saldeng, S.H. diikuti penyerahan mesin pemecah cangkang biji kemiri serta beberapa peralatan lain yang dapat mendukung proses pengolahan biji kemri dengan lebih baik. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan penjelasan secara umum oleh Dr. Yusuf tentang alat yang digunakan untuk kegiatan pelatihan tersebut.
Alat yang pertama yaitu mesin pemecah cangkang biji kemiri yang berbahan bakar bensin dan memiliki kapasitas 40 kg/jam. Selanjutnya ada alat pemecah kemiri manual berpegas yang digunakan berdasarkan ukuran biji kemiri dengan menyesuaikan sudut tumbukan, alat ini dapat menjadi opsi lain untuk memecah biji kemiri. Alat selanjutnya yaitu moisture meter digunakan untuk mengukur kadar air kemiri yang sudah dikeringkan atau melalui penyangraian sebelum diproses lebih lanjut.
Biji kemiri yang baik setelah proses pengeringan ataupun penyangraian haruslah memiliki kadar air di bawah 10%. Kemudian mesin pengempa berulir, digunakan untuk mengekstraksi minyak kemiri. Alat terakhir yaitu alat pencetak briket digunakan untuk mencetak campuran briket cangkang kemiri agar sesuai dengan bentuk yang diinginkan.

Baca Juga  Tim FPKP Undana Gelar PKM di Balairung-Lembata, Berikut Rekomendasi Penting yang Dihasilkan
Penyerahan alat pengolahan kemiri dari tim ITB kepada penerima.
Foto: Dokumen ITB/Mediatorkupang.com

Pada sesi pertama terkait tata cara pasca panen kemiri dijelaskan oleh Dr. Rijanti dimana proses pengolahan buah kemiri setelah dipanen meliputi berbagai proses yaitu pengupasan kulit buah, pengeringan biji, penyimpanan biji, sortasi biji, penyangraian dan perlakuan perendaman ke air dingin (temperature shock), pengeringan, pemecahan tempurung biji, hingga sortasi dan pengemasan daging biji kemiri. Penjelasan Dr. Rijanti dibarengi dengan praktik penyortiran biji kemiri dan pendeteksian kadar air menggunakan moisture meter.
Biji kemiri yang baik adalah biji yang kadar airnya sudah dibawah 10% ujar Dr. Rijanti. Kemudian dilanjutkan praktik penyangraian serta perlakuan perendaman ke air dingin, hal ini bertujuan untuk merapuhkan tempurung biji kemiri agar mudah dihancurkan, proses ini ditandai dengan bunyi “kletek-kletek” dan selesai ketika bunyi tidak terdengar lagi, kemudian dilanjutkan dengan pengeringan biji kemiri. Setelah pengeringan, biji kemiri selanjutnya dipecahkan menggunakan mesin pemecah biji kemiri dan dihasilkan biji kemiri utuh, beberapa biji kemiri pecah, serta cangkang kemiri. Biji kemiri utuh kemudian dapat dikemas dan dapat langsung dijual di pasaran. Biji kemiri pecah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali untuk mendapatkan minyak, briket, serta pakan ternak.
Sesi kedua yaitu demonstrasi valorisasi atau peningkatan nilai tambah kemiri dipaparkan oleh Dr.Yusuf, Dr. Lili, dan Adela M.Si, dimulai dengan biji kemiri pecah diekstraksi minyaknya dengan metode ekstraksi mekanik menggunakan mesin pengempa manual. Hasil ekstraksi tersebut berupa minyak kemiri serta ampas atau bungkil kemiri.

Kegiatan Demonstrasidi Apui (a) Demonstrasi alat pemecah biji kemiri secara teknis;
(b) Sesi demonstrasi penanganan pasca panen dan sortasi oleh Dr. Rijanti ;
(c) Sesi demonstrasi produksi berbagai bioproduk dari kemiri oleh Dr. Yusuf, Dr. Lili, dan Adela M.Si
Foto-foto: Dokumen ITB/Mediatorkupang.com

Minyak kemiri kemudian dapat disaring hingga jernih, dan dikemas. Bungkil kemiri yang didapat sebelumnya dibuat menjadi pakan ternak dengan menyampurkan ampas kemiri, dedak, dan pakan komersil dengan perbandingan 60:25: 15. Campuran tersebut kemudian diaduk dan dapat langsung diaplikasikan sebagai ternak. Agar pakan ternak lebih tahan lama, campuran pakan ternak harus dikeringkan untuk mengurangi kadar airnya. Terakhir, praktek pembuatan briket cangkang kemiri dimulai dengan pembakaran cangkang kemiri selama 30 menit hingga api menghasilkan asap yang banyak, selanjutnya cangkang yang telah dibakar dihaluskan menggunakan lesung, kemudian disaring hingga didapatkan bubuk halus. Bubuk halus ini dicampurkan dengan tepung tapioka dengan perbandingan 1:5, campuran ini kemudian dicetak dengan bentuk yang diinginkan dan dikeringkan. Setelah kering briket cangkang kemiri dapat langsung digunakan sebagai bahan bakar untuk menggantikan arang dengan sifat yang lebih baik.
Secara umum, acara berjalan lancar dan disambut antusias oleh peserta demonstrasi, ditunjukkan dengan sesi diskusi yang interaktif antara pemateri dan peserta. Salah satu peserta pelatihan, Kepala Desa Kuneman, Kain Lauden menyampaikan harapan dan terima kasihnya kepada tim ITB karena telah membagikan ilmu, mempraktekkan dan menyumbangkan alat produksi tepat guna untuk produksi berbagai bioproduk dari biji kemiri, meskipun jarak terpaut jauh ITB tetap bisa hadir dalam rangka ikatan kebhinekaan.
“Kegiatan demonstrasi oleh tim ITB disambut dengan sangat antusias oleh warga setempat dimana acara ini sekaligus sebagai wadah dalam memperkenalkan teknologi terkini dalam pemecahan biji kemiri,”tegas Kain Lauden, sembari mengharapkan semoga kegiatan dari tim SITH ITB ini dapat berdampak besar nantinya khususnya pada peningkatan perekonomian petani kemiri di Desa Kuneman. (ITB/RLS/KJR)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan