Kupang (MEDIATOR) – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) berupaya menghapus stigma bahwa astronomi adalah ilmu yang mahal dan sulit dijangkau. Melalui kolaborasi internasional Network for Astronomy School Education (NASE), FKIP Undana menggelar workshop astronomi selama tiga hari sejak Selasa (21/4/2026), bagi puluhan pendidik di NTT dengan memanfaatkan media pembelajaran berbahan daur ulang.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Senat FKIP Undana ini merupakan bagian dari program global di bawah naungan International Astronomical Union (IAU). Program ini menghadirkan instruktur utama internasional, Dr. Rosa M. Ros dari Spanyol, serta jajaran pakar astronomi dari berbagai institusi terkemuka di Indonesia.
Metode Pembelajaran Sederhana dan Efektif
Dalam workshop ini, para peserta yang terdiri dari guru SD hingga SMA serta dosen dilatih langsung oleh tim ahli dari Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), yakni Dr. Hakim L. Malasan, Dr. Endang Soegiartini, dan Dr. Lucky Puspitarini. Selain itu, penguatan materi juga diberikan oleh tim akademisi FMIPA Institut Teknologi Sumatera (ITERA) yang terdiri dari Dr. Robiatul Muztaba, Elsa R. Kencana, M.Sc, dan Dear M. M. Noor, M.Si..
“Kami ingin mengubah pola pikir bahwa belajar astronomi harus menggunakan peralatan mahal. Dengan alat dari bahan daur ulang, guru tetap bisa mengukur dan mengamati fenomena langit secara efektif di ruang kelas,” ujar Dr. Hakim Luthfi Malasan di sela-sela kegiatan.
Pelatihan ini juga melibatkan praktisi dari Waluku Project, Ronny Syamara, S.T, yang memberikan perspektif teknis mengenai pengamatan langit. Sinergi ini diharapkan mampu menjadikan langit NTT sebagai “laboratorium alam” yang mendukung pendidikan sains.
Mendukung Ekosistem Observatorium Nasional Timau
Dekan FKIP Undana, Prof. Dr. Drs. Malkisedek Taneo, M.Si., menegaskan bahwa penguatan kompetensi guru ini merupakan langkah strategis untuk menyambut pengoperasian Observatorium Nasional di Timau, Kabupaten Kupang. Sebagai salah satu pusat pengamatan bintang terbesar di Asia Tenggara, kehadiran Observatorium Timau harus dibarengi dengan peningkatan literasi sains masyarakat lokal.
“Dampaknya harus terasa hingga ke masyarakat luas. Peserta yang hadir di sini disiapkan menjadi trainer of trainers (pelatih bagi pelatih). Mereka adalah agen yang akan menyebarluaskan ilmu ini kepada siswa dan rekan sejawat di daerah masing-masing,” kata Prof. Malkisedek.
Jejaring Internasional NASE
Dosen Geografi FKIP Undana, Chornelis J. B. Anin, M.Si., menjelaskan bahwa program ini berada di bawah naungan International Astronomical Union (IAU) yang berpusat di Spanyol. Melalui sertifikasi NASE, para guru di NTT kini memiliki peluang untuk bergabung dalam jaringan instruktur astronomi global dan terlibat dalam kampanye pendidikan internasional.
Selama tiga hari, para peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga melakukan praktik pembuatan alat serta observasi langit malam secara langsung. Sinergi antara Undana, ITB, dan Waluku Project ini diharapkan menjadi langkah awal bagi NTT untuk mengembangkan potensi wisata astronomi (astrotourism) sekaligus memperkuat posisi Undana sebagai pusat pengembangan pendidikan sains di kawasan timur Indonesia. (Ing/RLS/UNDANA/BOY)






