NTT Butuh Simon Petrus Kamlasi

Polkam1398 Dilihat

Kupang (MEDIATOR)–Munculnya figur Brigjen Simon Petrus Kamlasi di panggung politik menyongsong Pilkada Gubernur NTT pada 27 September 2024, mengundang Ayub Titu Eki angkat  bicara.

Kepada wartawan di kediamanya di Matani, Kabupaten Kupang, Ayub yang juga politisi PSI ini menegaskan bahwa dia melihat sosok Simon Petrus Kamlasi yang kerap disapa SPK adalah figur pekerja keras, visioner, cerdas dan rendah hati.

“Saya politisi dan juga mantan akademisi, dan saya mau bicara tentang siapa yang layak untuk tampil dan memimpin NTT kedepan. Saya secara pribadi menganggap bahwa setelah melihat figur-figur  lain yang sudah tampil yang sudah melakukan sosialisasi kesana kemri, saya dalam hati melihat potensi itu ada pada Pak SPK. Saya bukan hanya melihat pada peluang kemenangannya saja, melainkan saya melihat lima tahun masa kepemipinan, selanjutnya apa yang akan terjadi. Outputnya apa,”tegas Bupati Kupang dua periode 2009-2014 dan 2014-2018 ini.

SOWAN. Kiri ke kanan, politisi senior, Ayub Titu Eki, Brigjen Simon Petrus Kamlasi saat sowan ke kediaman Esthon Foenay di Oepura, Jumat.
Foto: Mediatorkupang.com

Dari sisi keilmuannya sebagai seorang demografer, Ayub melihat bahwa NTT kalau tidak memiliki satu kepemimpinan yang mantap, maka dalam periode ini, yakni 2024-2029 ke atas, akan  tetap menjadi daerah urutan ketiga termiskin di Indonesia.

“Yang kita harapkan adalah siapapun dia dan saya lihat ada potensi besar di dalam diri SPK. Dia berpotensi membuat loncatan. Karena kemiskinan kita adalah kemiskinan yang secara statistik, sudah sangat ekstrim. Sehingga angka kemiskinan ini harus menjadi satu agenda karena kemiskinaan inilah yang membuat tenaga produktif dijual ke luar daerah. Bukan produknya yang dijual. Dulu sapi kita dijual, sekarang kebalikan, manusianya,”tambahnya.

Baca Juga  Para Caleg Jangan Kampanye Dulu,  Ada Kemungkinan yang Dicoblos Itu Gambar Partai

Pemimpin NTT kedepan menurutnya haruslah berpikir sedemikian rupa, memiliki konsep yang jelas, strategi yang jitu, bagaimana keluar dari kemiskinan. Itu hal yang harus dipikirkan. Dia tidak nyaman dengan banyak bantuan yang dikucurkan ke NTT. Karena menurutnya bantuan itu bukanlah sebuah solusi, melainkan akan membuat masyarakat bertambah lamban bekerja.

BERSAMA. SPK saat memberi kuliah kebangsaan di Institut Agama Kristen Negeri Kupang. 
Foto: Stenly Boymau

“Saya secara personal melihat bantuan itu tidak menjadi jalan untuk keluar dari kemiskinan.  Ini sama seperti kalau mau saya contohkan, seperti ternak di kandang. Walau dia dikasi makan, dia akan tetap begitu-begitu saja. Nah karena itu seorang yang mau jadi pemimpin harus punya konsep yang matang dan strategi yang jitu,”ujarnya.

Sejak tahun 2013, saat masih berpangkat perwira menengah, yakni Mayor, SPK menurut Ayub, sudah melakukan aksi sosial di masyarakat. Dari sini siapapun sudah bisa membaca kepribadian seseorang dan menurut Ayub, jiwa pelayanannya nampak dari aktivitas-aktivitas itu.

Apalagi saat ini ketika mengemban jabatan sebagai Kepala Staf Korem 161/Wira Sakti Kupang, tentu sebuah perjalanan pengkaderan yang tidak mudah. Institusi TNI sudah mempersiapkan seorang SPK untuk nantinya menjadi pemimpin yang berkarakter melayani. Tidak saja bagi bangsa dalam situasi darurat perang melainkan peduli terhadap masalah-masalah sosial di masyarakat.

Baca Juga  Prosesi Adat Sakral Segera Dilakukan, Ini Detik-detik Gubernur Viktor Minta Didoakan
SPK dan Andre Garu dalam sebuah seremoni adat di Labuan Bajo.
Foto: Tim media SPK

“Bagi saya SPK itu sudah punya wawasan berpikir yang tidak terbatas. Keunggulan militer kita adalah strategi. Sehingga saya berpikir begitu. Bukan karena saya sentimen etnis. Ini berkaitan dengan keilmuan saya sebagai demografer. Bahwa SPK mampu menghadirkan strategi terbaik dalam kepemimpinannya dan NTT butuh figur SPK,”tegas Ayub yang sangat yakin, SPK memiliki pengetahuan di atas rata-rata. Ayub mencontohkan, SPK mampu mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang inovatif dan sarat gagasan.

“Ini berarti dia mempunyai sebuah konsep untuk maju. Dia omong berdasarkan sesuatu yang sudah dikaji, dianalisa dan sudah diuji. Apalagi kalau mau jujur melihat kariernya, saya mau tegaskan bahwa lonjakan kariernya luar biasa karena belum berusia 50 tahun sudah dipromosi menjadi Brigjen. Ini pasti ada sesuatu yang tidak kelihatan, yang memampukan dia. Ini karena dia punya konsep dan strategi,”ungkap Ayub.

Ada aspek lain yang baginya, menjadi unggulan dari figur SPK jika nantinya terpilih menjadi gubernur.  Latar belakang SPK yang seorang tentara, sangat sinkron dengan latar belakang presiden Indonesia terpilih, Prabowo Subianto.

Baca Juga  Brigjen SPK ke Marga Juang PMKRI, Wujudkan Kolaborsi Hebat Bangun NTT Bersama
NEGARA HADIR. TNI yang adalah anak kandung bangsa, mewujudkan programnya, sebagai bukti bahwa negara hadir untuk menjawab kebutuhan rakyat. Diabadikan saat Kolonel Simon Petrus Kamlasi berkunjung ke Sumba Barat Daya, Mei lalu.
Foto: Ist

Karena itu baginya, akan mudah komunikasi dalam membangun NTT kedepan karena ada semacam chemistry antara senior dan junior yang tentu sudah pasti akan saling mensupport. Apalagi di dunia kemiliteran dimana kepatuhan pada hierarki menjadi sebuah ‘hukum’ tak tertulis.

“Pak SPK berada pada waktu yang tepat bagi NTT saat ini,”ungkap Ayub lagi.

Jika berbicara mengenai latar belakang keluarga, baginya SPK lahir dari keluarga sederhana, orang tua yang berprofesi guru, tentu attitude menjadi sebuah nilai yang terus dipupuk dan dibiasakan. TTS yang saat itu menjadi sebuah daerah yang jauh dari kategori berkembang, menempa pribadi SPK menjadi orang yang berintegritas.

“Dan saya melihat SPK ini pribadi yang tidak bisa diremehkan siapapun. Saya berusaha untuk menilainya secara profesional, apalagi saya juga membaca di berbagai media mengenai keberadaan figur-figur lain. Bagus juga. Saya bicara tentang peluang seseorang untuk memajukan daerah. Kalau dia biasa-biasa, tidak usah saja,”ungkap Ayub.

Kasrem 161/Wira Sakti, Simon Petrus Kamlasi ketika berada di tengah-tengah masyarakat, melihat dari dekat pemanfaatan air tanah di untuk kepentingan warga.
Foto: Istimewa

Sebagai seorang yang pernah memimpin sebuah daerah, menurutya, dia sudah merasakan betapa sulitnya memenuhi kebutuhan masyarakat, dan menggenjot pembangunan di daerah. Masalah yang ditemui di lapangan sangatlah kompleks dan membutuhkan jiwa kepemimpinan yang kuat.

“Karena itu saya sebagai salah satu orang tua di Kabupaten Kupang, saya merasa perlu untuk saya harus mengatakan bahwa NTT membutuhkan figur pemimpin seperti SPK,”pungkasnya. (***/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan