Undana Jawab Tantangan Digitalisasi: Kehadiran Guru Tak Tergantikan dengan AI

Pendidikan816 Dilihat

KUPANG – Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar Kuliah Umum bertajuk “Masa Depan Pembelajaran Sejarah di Era AI: Museum, Digitalisasi, dan Tantangan bagi Calon Guru Sejarah” yang digelar di Aula FKIP Undana, Senin (21/09/2026). Kegiatan yang mendatangkan akademisi sekaligus kurator museum dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Dr. Febta Pratama, M.Pd., ini diselenggarakan sebagai langkah responsif dalam membekali calon pendidik sejarah agar tetap adaptif, kreatif, dan kritis di tengah masifnya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan.

 

Langkah strategis ini menjadi fondasi penting dalam menyelaraskan lompatan teknologi digital dengan esensi dasar pembelajaran sejarah. Meskipun AI dan museum virtual mampu mempermudah akses visualisasi artefak secara imersif, kehadiran fisik seorang guru tetap tidak tergantikan sebagai penyaring nilai moral, pembimbing karakter, serta pengasah daya kritis mahasiswa terhadap keaslian sumber sejarah.

“Kualitas akademik bukan soal menghindari sumber, melainkan keberanian dan kejujuran mahasiswa dalam mencantumkan sumber secara transparan,” tegas Dekan FKIP Undana, Prof. Dr. Malkisedek Taneo, M.Si., saat membuka kegiatan secara resmi. “Ingat, subjek pembelajaran adalah manusia, sedangkan digitalisasi hanyalah objek. Jangan sampai AI yang mengendalikan kita.”

Baca Juga  Panen Melimpah Investasi Udang Inklusif Inovasi Dr. Tian Liufeto, Libatkan Alumni Undana sebagai Tenaga Kerja

Urgensi Pemanfaatan Teknologi Digital dalam Pembelajaran Sejarah

Ketua Panitia Pelaksana, Taufik Hidayat, S.S., M.A., menjelaskan bahwa pemilihan topik AI dan teknologi digital sangat relevan dengan dinamika pendidikan masa kini guna melatih pola pikir kritis mahasiswa dalam memanfaatkan sumber-sumber sejarah digital. Hal senada ditegaskan Koordinator Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Undana, Dr. Djakariah, M.Pd., yang menyebutkan bahwa kuliah umum berkala ini penting untuk merespons pergeseran pola pembelajaran yang berlangsung cepat.

“Dulu kita tidak mendengar adanya AI, jarang memanfaatkan museum dengan sistem digitalisasi sebagai sumber pembelajaran,” papar Dr. Djakariah. “Namun kini kita berhadapan langsung dengan hal tersebut, dan ini merupakan tantangan yang harus dijawab dalam pembelajaran sejarah.”

Penerapan Kerangka Kerja TPACK dan Batas Kemampuan AI

Baca Juga  Berikut Panduan Penerimaan Mahasiswa Baru Undana: Siapkan 7.234 Kursi, 48 Program Studi Status Akreditasi 

Dalam pemaparan utamanya, Dr. Febta Pratama, M.Pd., membedah posisi pembelajaran sejarah di era AI menggunakan pendekatan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK). Melalui kerangka kerja ini, penguasaan platform AI dan teknologi digital harus diintegrasikan secara seimbang dengan strategi pedagogi serta penguasaan konten sejarah.

Dr. Febta menuturkan bahwa AI generatif seperti ChatGPT, Claude, Perplexity, dan NotebookLM membuka peluang besar dalam melestarikan narasi situs sejarah melalui media seperti Video Interaktif Bilingual berbasis AI (VIBAI). Namun, penggunaan AI juga membawa risiko stagnasi kognitif apabila mahasiswa tidak mengolah proses berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills). Lebih lanjut, pendidik wajib memahami batas teknis AI yang bekerja berdasarkan pola statistik sehingga rentan mengalami kekeliruan faktual (hallucination) serta tidak memiliki akses langsung ke arsip fisik daerah maupun kesaksian lisan narasumber lapangan.

 

Akademisi dan Kurator Museum dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Dr. Febta Pratama, M.Pd., menegaskan “Pendidik harus memahami bahwa AI generatif bekerja berbasis pola statistik sehingga rentan mengalami ‘halusinasi’ atau kekeliruan faktual,” terangnya menambahkan bahwa jawaban yang dihasilkan oleh AI harus ditempatkan sebagai hipotesis awal yang wajib diverifikasi silang (cross-check).

Baca Juga  Undana Siapkan Strategi Baru Akselerasi Kelulusan Mahasiswa

Digitalisasi Museum dan Penguatan Peran Guru

Sebagai kurator, Dr. Febta menekankan fungsi museum sebagai laboratorium utama ilmu sejarah yang menyediakan bukti otentik. Kehadiran museum virtual dan pengalaman imersif 3D dinilai mampu mengikis stigma bahwa pembelajaran sejarah adalah hafalan membosankan, sekaligus memungkinkan siswa mengamati artefak tanpa terbatas ruang dan waktu.

 

Untuk menanggulangi disinformasi sejarah di media sosial, Dr. Febta membagikan panduan praktis yang dapat diajarkan guru kepada siswa, seperti menelusuri pencipta sumber asli, membandingkan klaim dengan minimal dua sumber independen/arsip resmi, membiasakan skeptisisme yang sehat (healthy skepticism), serta memanfaatkan fitur fact-checking. Rangkaian kegiatan yang berlangsung interaktif ini ditutup dengan diskusi mengenai formulasi pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning/PBL) berbasis digital untuk diterapkan di sekolah-sekolah. (Fnt/RLS/UNDANA/TIM)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan