KUPANG—Universitas Nusa Cendana (Undana) sejak berdirinya pada tahun 1962 telah menghasilkan lebih dari 103.857 alumni. Dan pada wisuda periode Juni 2026, Undana mengukuhkan 1.421 wisudawan, terdiri atas 466 laki-laki dan 955 perempuan.
Kepada wisudawan yang diwisuda pada Selasa (30/6/2026) yang dibagi dalam dua sesi, Rektor Undana, Prof DR Ir. Jefri Bale, ST., M.Eng., menekankan agar selalu mengenang pengorbanan orang tua serta kritis terhadap penggunaan artificial intelligence (AI).
Dalam refleksinya mengenai kepemimpinan, Rektor mengangkat filosofi bidak catur yang sebelumnya pernah ia sampaikan. Setelah berbicara mengenai kepemimpinan visioner, taktis, protektif, dan adaptif melalui filosofi bidak kuda, kali ini ia mengajak seluruh hadirin melihat filosofi bidak pion yang kerap dianggap kecil namun memiliki peran penting.
Tak hanya itu, Rektor Jefri menyampaikan adaptasi pandangan akademisi IPB, yang mengatakan bahwa AI merupakan bentuk akal imitasi.
“Kemudahan yang ditawarkan AI dapat membuat generasi muda kehilangan kemampuan berpikir kritis. Karena itu, melalui Pemerintah Provinsi NTT, kami mendukung pencanangan Siber Sehat NTT sebagai upaya menghadapi ancaman degradasi mental akibat penggunaan teknologi secara instan,”ungkapnya dalam momentum upacara Pengukuhan Lulusan Wisuda Doktor, Magister, Profesi, dan Sarjana Universitas Nusa Cendana (Undana) Periode II Tahun 2026 yang berlangsung di Gedung Grha Cendana, Undana.
Kepada para wisudawan, Ia menitipkan tiga karakter utama sebagai bekal menjalani kehidupan setelah lulus. Pertama, pantang mundur dan terus melangkah maju dengan tetap fokus pada masa depan. Kedua, menjaga integritas karena setiap langkah, keputusan kecil, dan pilihan moral setelah meninggalkan kampus akan menentukan perjalanan hidup. Ketiga, lulusan Undana harus memiliki jiwa kepemimpinan dengan mendahulukan kepentingan publik di atas ego dan kepentingan pribadi. Ia kemudian mengingatkan filosofi emas bidak pion dalam permainan catur.
“Jika sebuah pion konsisten berjalan maju, teguh menghadapi benturan, bersandar pada formasi kebersamaan, dan menolak segala bentuk jalan instan, maka ketika berhasil menyentuh ujung papan ia berhak mendapat promosi.”
Rektor mengajak seluruh wisudawan menjadikan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti akal sehat.
“Hari ini saya berharap para wisudawan melakukan lompatan akhir. Gunakan akal imitasi hanya sebagai alat bantu, tetapi akal sehat sebagai penggerak utama membangun bumi Flobamorata. Jangan lupakan almamater dan kembalilah untuk menjadi inspirasi. Selamat berkarya kepada 1.421 wisudawan Undana.”
Turut hadir jajaran Senat Undana, Kepala LLDIKTI Wilayah XV, para pimpinan perguruan tinggi, pejabat instansi vertikal, BUMN, BUMD, serta para wisudawan bersama orang tua dan wali.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiaades Laka Lena dalam sambutannya menegaskan “Hari ini adalah hari kemenangan atas perjuangan panjang yang telah dilalui. Gelar akademik bukan sekadar pencapaian, tetapi amanah intelektual dan tanggung jawab moral untuk mengabdi bagi masyarakat, bangsa, dan khususnya bagi Nusa Tenggara Timur yang kita cintai,”tegasnya menambahkan “Ke depan, Pemerintah Provinsi NTT sangat berharap kerja sama yang sudah terjalin menjadi semakin kuat dan strategis dengan Undana, baik dalam riset terapan, pengembangan inovasi daerah, pendampingan desa, penguatan UMKM, hingga penyusunan kebijakan berbasis data dan kajian ilmiah. Biar apa yang sudah terjalin bersama Undana dapat berkelanjutan dan berdampak bagi masyarakat NTT yang kita cintai.”
Gubernur memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, AI merupakan teknologi yang mampu mendukung berbagai sektor pembangunan, mulai dari penelitian, pelayanan publik, kesehatan, pendidikan, hingga pertanian. Namun demikian, AI tidak dapat menggantikan nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki manusia.
“AI adalah alat yang luar biasa. Ia mampu membantu penelitian, mempercepat analisis data, meningkatkan pelayanan publik, mendukung dunia kesehatan, pendidikan, pertanian, hingga membuka peluang usaha baru. Namun, sehebat apa pun AI, ia tidak akan pernah menggantikan nilai-nilai kemanusiaan, integritas, empati, dan kebijaksanaan yang dimiliki manusia. Saya mengajak seluruh lulusan Undana untuk menggunakan AI secara bijaksana, bertanggung jawab, dan beretika,”tegas Gubernur.
Khusus bagi lulusan bidang kesehatan, Gubernur menegaskan bahwa perjuangan mewujudkan NTT Sehat masih membutuhkan kontribusi nyata seluruh tenaga kesehatan, terutama dalam mengatasi persoalan stunting, meningkatkan pelayanan di wilayah 3T, serta mendorong perubahan perilaku hidup bersih dan sehat. (RLS/AP-NTT/BOY)






