Sambut Tantangan Presiden Prabowo, Rektor Undana Hadiri Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 di Jakarta

Pendidikan314 Dilihat

JAKARTA — Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., bersama jajaran pimpinan universitas menghadiri pembukaan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) Tahun 2026. Perhelatan akbar ini berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada Jumat (26/6/2026).

Kehadiran jajaran pimpinan Undana ini merupakan bentuk partisipasi aktif dalam menyambut ajakan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Kepala Negara secara khusus mendorong perguruan tinggi untuk mentransformasikan diri menjadi motor penggerak utama kemandirian ekonomi serta kesejahteraan bangsa melalui hilirisasi riset dan inovasi yang aplikatif.

Konsolidasi 2.600 Akademisi dan Ilmuwan Lintas Sektor

Acara yang dibuka langsung oleh Presiden Prabowo Subianto ini diawali dengan laporan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. Dalam laporannya, Prof. Brian menyebutkan bahwa KSTI 2026 mengusung tema “Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia” dan diikuti oleh lebih dari 2.600 peserta dari berbagai wilayah di tanah air.

Baca Juga  Undana Perpanjang Waktu Istirahat Jumat: Wujud Nyata Kampus Inklusif dan Toleran

Komposisi peserta terdiri atas 219 rektor, 44 direktur perguruan tinggi vokasi, enam ketua perguruan tinggi, 1.596 dosen dan ilmuwan, serta ratusan peneliti, termasuk 300 peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). KSTI sendiri merupakan inisiatif langsung Presiden Prabowo yang pertama kali diselenggarakan di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Agustus 2025 lalu. Penyelenggaraan tahun ini bertujuan mengkonsolidasikan sinergi antara pemerintah, kampus, dunia usaha, industri, dan masyarakat.

Dalam arahan utamanya di hadapan ribuan akademisi, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rasa hormat yang tinggi kepada para pemimpin perguruan tinggi. Presiden menegaskan bahwa guru besar adalah aset intelektual terbaik yang wajib digerakkan potensinya jika Indonesia ingin keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap).

Baca Juga  Tiga Bintang

“Saya selalu berpendapat bahwa para guru besar adalah orang-orang yang terpintar dari sebuah negara. Jadi, kalau negara mau bangkit, negara mau maju, memang harus dimanfaatkan atau digerakan potensi dan kemampuan dari kampus-kampus, dari universitas,” tegas Presiden Prabowo.

Lebih lanjut, Kepala Negara memaparkan sejumlah tantangan inovasi konkret yang harus dijawab dunia pendidikan tinggi. Presiden menantang para ilmuwan tanah air untuk menghasilkan terobosan nyata, mulai dari riset kemandirian benih guna menghentikan ketergantungan impor gandum, peningkatan produktivitas kelapa sawit, hingga mewujudkan produksi mobil nasional secara mandiri pasca-81 tahun Indonesia merdeka.

Mengonversi Teori Menuju Ketahanan Pangan Spesifik Lokal NTT

Keterlibatan aktif Rektor Undana dalam KSTI 2026 dan respons terhadap instruksi langsung Presiden Prabowo membawa dampak perubahan paradigma yang sangat krusial bagi arah kebijakan riset di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama ini, banyak riset sains dan teknologi yang dihasilkan oleh akademisi di daerah cenderung berakhir sebagai dokumen formal di perpustakaan, tanpa pernah menyentuh atau menyelesaikan persoalan riil masyarakat bawah.

Baca Juga  Rektor Undana: Kampus Harus Jadi Pusat Solusi
Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., bersama jajaran pimpinan universitas menghadiri pembukaan Sarasehan Kebangsaan KSTI Tahun 2026 di JICC, Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Foto : Dokumentasi Humas

Melalui forum konsolidasi nasional ini, Undana mendapatkan momentum strategis untuk menyelaraskan peta jalan (roadmap) risetnya dengan agenda prioritas ketahanan nasional.

Dampaknya, Undana tidak perlu latah mengejar riset industri berat berskala megah seperti manufaktur mobil nasional yang belum relevan dengan karakteristik daerah. Sebaliknya, kampus terbesar di NTT ini dapat memfokuskan seluruh energi intelektualnya pada subsektor yang menjadi keunggulan sosiografis wilayah, seperti riset kemandirian benih tanaman lahan kering, optimalisasi komoditas peternakan, serta inovasi teknologi pengolahan air bersih. Langkah taktis ini secara langsung mengonversi teori kampus menjadi solusi pangan dan ekonomi yang mampu mengentaskan kemiskinan ekstrem di pelosok NTT. (IyL/RLS/UNDANA/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan