KUPANG–Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, secara resmi membuka kegiatan Pelatihan Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi NTT di Aula Sekretariat SMSI NTT, Rabu (5/8). Acara pembukaan tersebut dihadiri oleh Ketua SMSI Provinsi NTT, Benediktus S. S. Jahang beserta seluruh jajaran pengurus SMSI NTT, M.T.,Kepala Dinas Kominfo Kota Kupang, Ariantje M. Baun, S.E., M.Si., Camat Oebobo, Zet Batmalo, S.H., M.H., Plt. Lurah TDM, Ketua RT 34 sebagai tuan rumah lokasi Sekretariat SMSI NTT, serta para narasumber.
Dalam sambutannya, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo menekankan pentingnya peran pers sebagai jembatan informasi antara pemerintah dan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa sebagus apa pun program pembangunan yang dirancang oleh pemerintah, tanpa penyampaian pesan yang tepat, cerdas, dan edukatif kepada publik, program tersebut berisiko salah dipahami oleh masyarakat.
“Tantangan terbesar pers yang tidak akan lekang oleh waktu bukanlah sekadar ancaman AI, maraknya influencer, atau gempuran hoaks. Semua itu ada masa waktunya. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga kepercayaan publik,” ujar dr. Christian Widodo.
Ia menambahkan bahwa di tengah disrupsi teknologi, pers yang sanggup menjaga independensi dan kepercayaan publik akan selalu dibutuhkan. Wali Kota mengkritik fenomena media sosial yang hanya mengejar viewers dan engagement demi kepuasan konten semata tanpa memedulikan kebenaran data. Menurutnya, kesuksesan sebuah karya jurnalistik diukur dari seberapa banyak publik yang mempercayai informasi tersebut.
Sebagai bentuk apresiasi dan komitmen mendukung insan pers, Wali Kota Kupang minta Dinas Kominfo Kota Kupang untuk menggandeng lima jurnalis bersertifikasi dari SMSI NTT pada anggaran perubahan mendatang untuk mengawal serta memberitakan program-program Pemerintah Kota Kupang. Selain itu, secara pribadi dr. Christian Widodo menyumbangkan satu unit laptop untuk mendukung operasional kerja di Sekretariat SMSI NTT.
Sementara itu, Ketua SMSI Provinsi NTT, Benediktus S. S. Jahang menegaskan bahwa SMSI NTT saat ini menaungi lebih dari 90 media siber dan jumlahnya terus bertambah. SMSI tidak hanya berfokus pada pengembangan bisnis media, tetapi juga aktif menggelar uji kompetensi wartawan, diskusi publik, hingga kegiatan sosial bagi wartawan dan masyarakat.
“Teknologi digital melaju pesat, namun kecepatan tidak boleh mengorbankan kebenaran. Wartawan media siber harus tetap memegang teguh etik, verifikasi, dan keseimbangan berita. Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan jurnalis di NTT tidak hanya piawai memanfaatkan teknologi, tetapi juga kokoh dalam prinsip dasar jurnalistik demi menyajikan berita yang tepercaya bagi publik,” kata Benediktus.
Sebelumnya dalam laporan panitia, Ketua Panitia Pelaksana, Cosmas Damius Ola menjelaskan bahwa pelatihan yang berlangsung selama dua hari (5–6 Agustus 2026) ini mengusung tema “Kekuatan Influencer vs Wartawan: Masih Perlukah Wartawan?”. Kegiatan ini diikuti oleh 34 peserta yang berasal dari wartawan media siber, cetak, radio, televisi, serta perwakilan humas instansi pemerintah dan BUMD dari berbagai kabupaten/kota di NTT, seperti Kota Kupang, Kabupaten Malaka, Rote Ndao, dan Sabu Raijua.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali jurnalis dengan teknik penulisan berita straight news yang akurat dan berimbang, pemahaman Kode Etik Jurnalistik (KEJ), Pedoman Pemberitaan Media Siber, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya independensi pers di tengah pesatnya perkembangan AI.
Materi pelatihan disampaikan oleh tiga narasumber terkemuka: Praktisi Pers, Wartawan Senior, dan Akademisi, Dr. Pius Rengka membawakan materi tentang perbandingan peran wartawan vs influencer serta pentingnya menjaga independensi media di tengah disrupsi digital. Wartawan Kompas, Frans Pati Herin membawakan materi teknik penulisan berita straight news dan penerapan Kode Etik Jurnalistik di lapangan. Wartawan Senior NTT, Dion DB Putra memberikan penguatan kapasitas dan sudut pandang mendalam mengenai dinamika pers daerah. (RLS/KOTKUP/BOY)






