Menu

Mode Gelap
Peneliti: Prabowo Telah Buktikan Kinerja dan Kesetiaan Pada Presiden Harusnya Di Bali, Ternyata B20 Chairwoman Beber Peran Besar Bobby Lianto Perjuangkan Labuan Bajo Pimpinan KPK Sangat Sedih, Harus Tangkap Hakim Agung PLN Miliki Holding Subholding, Strategi Jitu Sambut Masa Depan Kerja Keras KADIN NTT Terbukti, Walikota Darwin Setuju Kerjasama dengan Kota Kupang

Sejarah · 23 Mei 2022 14:03 WITA ·

Nunhila, Salah Satu Kuburan Tertua di Dunia, Catatan:  Matheos Victor Messakh

  Kuburan Konsul Portugal untuk Kupang yang terletak di Jl. Pahlawan Kelurahan Nunhila.  Foto: Matheos Victor Messakh Perbesar

Kuburan Konsul Portugal untuk Kupang yang terletak di Jl. Pahlawan Kelurahan Nunhila. Foto: Matheos Victor Messakh

Bagaimana kalau kuburan Nunhila dijadikan situs wisata kuburan? Wisata kuburan? Kesannya mengerikan bukan? Sebenarnya tidak juga. Di kota-kota tua di Eropa wisata kuburan ini sesuatu yang lumrah. Biasa para wisatawan dibawa dalam sebuah tour berkelompok ke kuburan-kuburan tua bersejarah, dengan dipandu oleh pemandu wisata yang mampu menjelaskan dengan piawai.

Di Jakarta sendiri pernah ada ide serupa dengan kuburan Kober Tanah Abang, yang merupakan salah satu kuburan tertua di dunia, namun ide itu hilang begitu saja. Saya dan arsitek publik Nirwono Yoga pernah menelusuri kuburan Kober yang kekayaan heritage sangat kaya. (Lihat foto-foto).

Sebuah kuburan kota memang menceritakan tentang sejarah kota itu, bahkan sejarah dunia jika kota itu telah terhubung dengan dunia luar sejak lama. Apa yang sekarang kita sebut dengan globalisasi sebenarnya merupakan fenomena lama yang terjadi sejak dunia baru ditemukan. Bahkan jauh sebelum kolonialisme bangsa Eropa. Sebelum armada Maegelhaens singgah di Atapupu dan Pureman di Alor, kapal-kapal Cina dan Arab telah mondar mandir di nusantara termasuk di Timor. Dan karena pulau yang kemudian kita sebut Timor ini dirasa paling jauh maka disebut ‘timur’ dan dalam rentang waktu yang lama jadilah nama ‘Timor’ yang terkenal dengan cendananya.

Kita kembali ke wisata kuburan. Di Kupang ini sekurang-kurangnya ada dua kuburan tua untuk para warga dunia, orang-orang dari dunia lain yang kebetulan hadir atau menetap di Kupang. Pertama, kuburan Cina di lokasi gedung Bank Indonesia lama sekarang. Secara fisik pekuburan ini sudah tidak terlihat lagi karena sudah dibangun gedung gedung. Pernah dilakukan penggalian dan hasilnya berupa guci guci besar cina sekarang ada di museum NTT. Guci-guci itu adalah tempat jenazah yang dikuburkan bersama-sama dengan barang-barang berharganya. Sekali sekali datanglah ke museum NTT untuk melihatnya. Semoga mendapat penjelasan yang memadai.

Baca Juga  RUMAH "WAKIL GUBERNUR^ RESIDENSI TIMOR JADI TEMPAT SIMPAN GEROBAK II, Catatan Matheos Victor Messakh

Kedua, adalah kuburan Nunhila. Inilah kuburan yang fenomenal yang masih ada sampai sekarang walaupun sangat tidak terawat. Sejak awal inilah kuburan kota tua ini. Dikuburkan di sini orang-orang Eropa, orang-orang Indo, dan  orang-orang Cina. Boleh saya katakan ini adalah salah satu kuburan kota tertua di dunia jika dilihat dari awal hadirnya orang Eropa di Kupang sedini tahun 1600an awal. Penelitian lebih lanjut boleh dilakukan, dan harus diingat bahwa tidak selalu usia kuburan ditentukan dengan usia batu nisan semata karena bisa jadi ada yang dikuburkan tidak dengan batu nisan yang memadai.

Nunhila adalah kuburan setua kota ini, atau mungkin lebih tua. Catatan-catatan tentang orang-orang yang dikuburkan di sini tersebar di sana sini dalam dokumen-dokumen sejarah. Adalah tugas kami para sejarawan untuk mengungkapkan hal-hal ini.

Salah satu contohnya adalah awak kapal Bounty yang terkenal itu, yang saya tulis dalam sebuah tulisan lain. Singkatnya kapal Bounty milik Kerajaan Inggris dibajak oleh awak kapalnya sendiri pada bulan April 1789 dan para pemberontak mengusir sang Kapten, William Bligh, beserta beberapa anak buah yang setia dalam sebuah sampan. Mereka mendayung selama hampir dua bulan dan tiba di Coupang pada 14 Juni 1789. Mereka diterima dengan baik di Kupang namun pada 20 Juli 1789 salah seorang awak, David Nelson, meninggal. Nelson dikuburkan di belakang sebuah kapel. Kapten Bligh dalam catatan hariannya sangat menyesal tidak bisa menyediakan batu nisan untuk Nelson. “After reading our burial-service, the body was interred behind the capel, in the burying ground appropiated to the European of the town. I was sorry I could get no tombstone to place over his remains.”

Contoh lain dapat kita lihat langsung di lokasi kuburan. Misalnya pada kuburan yang terletak di pinggir jalan (lihat foto). Dalam batu nisan itu tertulis:

Baca Juga  RUMAH "WAKIL GUBERNUR^ RESIDENSI TIMOR JADI TEMPAT SIMPAN GEROBAK I, Catatan Matheos Victor Messakh

“Here rust Th.C. Drysdale, koopman en Consul van Portugal te Kupang. Geb: Te Edinburg Schotland, 17 Maart 1817, Verleden 26 Juni 1890. Rust in vrede.”

Artinya:

“Di sini beristirahat Th. C. Drysdale, pembeli dan konsul Portugal untuk Kupang. Lahir: di Edinburg, Scotlandia, 17 Maret 1817. Meninggal 26 Juni 1890. Beristirahatlah dengan tenang.”

Dari nisan ini kita tahu bahwa pernah ada konsul Portugal di Kupang dan uniknya dia bukan orang Portugis melainkan orang Scotlandia.

Ini hanyalah salah dua contoh sejarah yang dapat kita lihat hanya dengan meneliti kuburan. Tidak mengerikan sama sekali bukan?

Kuburan Nunhila sekira tahun 1925.
Foto: credit KITLV-Universiteit Leiden.

Jadi usul singkat saya untuk para pengelola kota ini: jadikanlah Nunhila sebuah cagar budaya, pugar kembali, buatkan pagar, caritahu sejarahnya, karena situs ini tidak ternilai harganya dan dapat menjadi kebanggaan kota Kupang sekaligus menjadi sumber pemasukan bagi Pemkot Kupang.

Bayangkanlah kalau dari kota tua yang sudah mulai ditata sekarang dibangun satu jalur trotoar khusus para wisatawan menuju benteng Concordia dan kuburan Nunhila. Lalu Nunhila dikelola secara profesional: kuburan ditata kembali, narasinya dibuat (entah dalam bentuk booklet, audio-video (CD), audio in-situ, buku) untuk diperdagangkan maupun untuk penjelasan di lokasi, para guide dilatih, dibuat tour per group, masukpun dipungut bayaran berbeda untuk turis lokal dan mancanegara, dst. Tour jalan kaki dengan didampingi guide dapat dilakukan melalui jalur kota tua – Pabrik Es Minerva – Gedung EMTO – Bioskop – gereja kota Kupang – Kelenteng Lay – rumah Residen – rumah pendeta – penjara lama – jembatan Selam – rumah rumah tua bekas Societat – Tugu HAM – Benteng Concordia – Kuburan Nunhila. Suatu paket perjalanan yang menarik. Anak-anak sekolahpun bisa memanfaatkan untuk ekskursi.

Baca Juga  Perjuangkan Riwu Ga Jadi Pahlawan, Ini Reaksi Pemprov NTT

Jadi sebenarnya banyak kekayaan sejarah budaya kota Coupang ini. Sebagai sebuah kota, mindset para pengelolanya salah kaprah jika berpikir bahwa wisata itu wisata alam saja. Wisata alam iya tapi ingat kota terbatas wilayahnya dan tentu terbatas wisata alamnya dibanding kabupaten misalnya. Kota punya kekayaan budaya dan sejarah yg tak kalah nilainya. Siapapun walikotanya harus berpikir tentang hal ini.

Kadang emas yang berkilau itu ada di bawah kaki kita tapi kita terlalu buta untuk melihat. Mungkin karena tidak ada yang membisiki. Atau pembisiknya kurang tepat.

Satu hal yang penting dalam perencanaan, selain pengetahuan, adalah imaginasi. Hilang imaginasi, hilang segala yang mungkin dan indah. Kupang bisa! (Matheos Victor Messakh/BOY)

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 7 kali

Baca Lainnya

RUMAH “WAKIL GUBERNUR^ RESIDENSI TIMOR JADI TEMPAT SIMPAN GEROBAK II, Catatan Matheos Victor Messakh

16 Mei 2022 - 11:40 WITA

RUMAH “WAKIL GUBERNUR^ RESIDENSI TIMOR JADI TEMPAT SIMPAN GEROBAK I, Catatan Matheos Victor Messakh

16 Mei 2022 - 11:31 WITA

Perjuangkan Riwu Ga Jadi Pahlawan, Ini Reaksi Pemprov NTT

20 Agustus 2021 - 14:13 WITA

Riwu Ga, Sosok Marhaen Pengawal Bung Karno yang Terlupakan; Karang Taruna Kota Tabur Bunga Pada Makamnya di Mapoli-Kupang

17 Agustus 2021 - 11:49 WITA

Alexander Ch. Abineno, Salah Satu Pendiri TNI-AL yang Santun Hingga Akhir Hayat

6 Agustus 2021 - 10:00 WITA

Namata, Situs Megalitik yang Dijaga Tetap Sakral

3 Juni 2021 - 09:17 WITA

Trending di Sejarah