Merekam Jejak Kaki Dirut Alex dalam Spirit Kerja No Box Saat Panen Jagung Gemuk Nagawutun

Ekonomi57 Dilihat

PROGRAM Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) Pola Kemitraan antara Pemerintah Provinsi NTT, wirausaha mandiri dengan sektor perbankan (Bank NTT) dan off taker, mencatat keberhasilan di Desa Bour Kecamatan Nagawutun Kabupten Lembata.

Di lokasi contoh suksesnya program besutan Pemerintah Provinsi NTT yang didukung penuh Bank NTT ini, kini terbentang berhektar-hektar tanaman jagung. Beberapa diantaranya siap panen.

Jumat (9/9/2022) pagi itu, dengan Wings Air, pesawat carteran dari Kupang, rombongan gubernur mendarat di Bandara Wunopito Kelurahan Lewoleba Timur Kecamatan Nagawutun Kabupaten Lembata.

Memang saat itu, Gubernur Viktor sementara melakukan kunjungan kerjanya ke empat kabupaten (Lembata, Flores Timur, Maumere dan Ende), yang dimulai dari Kabupaten Lembata.

Usai melakukan pertemuan dengan seluruh kepala desa, camat dan para pimpinan OPD Lembata yang dipandu Penjabat Bupati Lembata, Marsianus Djawa, di Olympic Resto, rombongan gubernur langsung menuju rumah jabatan bupati.

Sedangkan Dirut Alex sementara memberi materi kepada ratusan kepala desa dan penyuluh pertanian seluruh Lembata. Materinya penting, mengenai aplikasi B’Pung Petani, yang didesain oleh Bank NTT untuk mengidentifikasi lahan pertanian serta potensi unggulan baik itu padi dan jagung serta aneka tanaman holtikultura lainnya di seluruh NTT.

Tak lama diskusi itu selesai, dan waktunya tersisa satu jam lagi, pasalnya Gubernur VBL harus menghadiri seremoni pembukaan El Tari Memorial Cup yang ke-31 di stadion Gelora 99.

PANEN BESAR. Dirut Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho bersama Komut KI Bolok, Benediktus Polo Maing, Karo Ekonomi Dr Lerry Rupidara, Kadis Pertanian NTT, Lecky F Koli, serta Pj Pimpinan Bank NTT Cabang Lewoleba, Petrus Soba Lewar dan Kadistan Lembata, Kanis Tuaq.
Foto: Stenly Boymau/Mediatorkupang.com

Karena waktunya mepet, Dirut Alex tak mau berpangku tangan. Bergegas dia menuju sebuah mobil fortuner hitam. Di belakangnya menyusul Komisaris Utama KI Bolok, Benediktus Polo Maing, Kepala Biro Ekonomi Setda NTT, Dr Lerry Rupidara, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Holtikultura NTT, Lecky Frederich Koli, mereka didampingi Pj Pimpinan Bank NTT Cabang Lewoleba, Petrus Soba Lewar.

Baca Juga  Kepada Satlinmas Jeriko Pesan Kawal Pembangunan Pemerintah di Kelurahan

Mobil ini tak mampu mengangkut mereka, sopir pun disuruh turun, setir diambil alih oleh Dirut Alex. Pria paruh baya yang selalu identik dengan gaya kerjanya yang serba cepat ini pun meraih setir, pedal gas diinjak. Dalam hitungan menit, mobil  dikebut kencang menuju ke arah barat yang jauhnya sekira belasan kilometer dari jantung Lewoleba.

Lokasi pertama yang ditinjau adalah milik Marselinus Patrisius Dule dan Petrus Kia Wuwur di Desa Duawutun Kecamatan Nagawutung. Kedua warga ini  masing-masing memiliki satu hektar lahan jagung.

Dari sana, rombongan yang didampingi Kepala Dinas Pertanian Lembata, Kanis Tuaq, menuju ke sebuah hamparan seluas dua hektar yang dipenuhi jagung dan aneka tanaman buah-buahan lainnya. Lahan ini dikerjakan oleh ibu-ibu dari Kedang, dan sudah dikelola selama bertahun-tahun.

Di lahan inilah, Dirut Alex, Ben Polomaing, Dr Lerry, Lecky Koli, diminta melakukan panen perdana jagung musim penanaman saat ini. Saat memanen jagung-jagung yang gemuk itu, rombongan ini mengangguk bangga. Pasalnya, jagung dengan jenis hybrida ini berisi penuh, bahkan padat dan sudah kering.

Mengundang decak kagum, memang. Pasalnya di lokasi ini, tanaman jagungnya sudah benar-benar siap panen. Beberapa daun jagungnya masih hijau, kebanyakan sudah menguning, batangnya menjulang. Jangan ditanya bulirnya. Penuh. Bahkan biji jagung yang melekat pada tongkol setelah dikupas, sudah mengeras. Kadis Lecky Koli mengangguk sejenak.

Baca Juga  Jenazah Danrem Dibawa ke Jakarta Menggunakan Pesawat Embraer Legacy 600

Sepintas dia berkata “Isi jagungnya bagus. Keras, dan sudah tidak ada airnya lagi, dengan demikian, sudah layak dipanen. Kita temukan disini bulir jagungnya bagus,”tegas Lecky.

Saat itu, mereka pun membuka satu persatu bulir jagung dan melihat isinya. Tak ada cacadnya, semuanya baik.

Seperti apa reaksi Dirut Alex Riwu Kaho? Kepada Mediatorkupang.com,  alumni Kampus Merah Undana Kupang ini menjelaskan bahwa Bank NTT kini sudah bergerak sangat cepat dari pola biasa. Dalam format layanan perbankan yang lama, maka bank akan selalu merasa berada pada zona nyaman, yakni hanya berada di kantor lalu menanti nasabah.

NO BOX. Dirut Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho menunjukkan dua bulir jagung hasil program TJPS di Desa Bour, Nagawutun Lembata, pekan kemarin.
Foto: Stenly Boymau/Mediatorkupang.com

Namun jaman berganti, tuntutannya sudah semakin tinggi. Karena itu, hari ini Bank NTT harus merubah format kerjanya. Dari yang biasa menjadi luar biasa. Nah luar biasanya adalah, konsep kerja tanpa sekat, tanpa batas, tanpa ruang dan waktu.

Yakni, seorang bankir harus terus berada di tengah-tengah masyarakat untuk ikut merasakan denyut nadi perekonomian, serta berkontribusi pada pertumbuhan sektor ekonomi masyarakat. Percuma dia menyandang slogan pelopor penggerak ekonomi masyarakat, jika masih nyaman berada di balik meja kerja, dan dalam ruangan ber-AC.

Karena itulah, pihaknya membangun spirit kerja keras, kerja cerdas dan kerja kolaboratif guna menciptakan kemandirian pangan bagi masyarakat. Inilah spirit kerja Bank NTT saat ini.

“Jika ada orang yang menggunakan teori out of the box, maka berbeda dengan kita. Justru kita tidak pakai box, yakni No Box, atau bekerja tanpa batas dan sekat. Kalau out of the box, justru sesekali orang akan masuk kembali ke box yang lama. Hari ini mekanisme kerja dunia digital itu no border, nah perbankan pun harus mengarah ke sana,”tegas mantan Direktur Dana Bank NTT itu.

Baca Juga  Siap-siap! PLN Jadi Raksasa Pelaku Carbon Trading yang Melantai di Bursa Karbon Indonesia

Benar, spirit inilah yang sementara dibangun. Jangan dikira bebas nada sinis dan aroma pesimistik dari beberapa orang. Itu sudah perkara umum. Namun bukan seorang Alex jika hanya diam dalam bisu dan tangan yang disimpan. Tensi kerjanya tidak pernah turun, semangat ini terus dibangun. Yakni kerja tanpa batas ruang dan waktu. NEVER STOP COWBOY.

Lalu seperti apa capaian program TJPS di Kabupaten Lembata? Pj Pimpinan Cabang Bank NTT Lewoleba, Petrus Soba Lewas menegaskan bahwa total wirausaha mandiri pada musim tanam Agustus-September sebanyak 16 orang dengan luas lahan yang digarap 11,55 hektar. Dan bantuan kredit yang sudah disalurkan untuk musim tanam ini adalah sebesar Rp. 171.500.000

Pada periode Oktober-Maret diharapkan semakin banyak wirausaha mandiri yang akan layani dengan kerja sama kolaborasi antara Dinas Pertanian,  offtaker dan Bank NTT.

“Kita optimis program TJPS di Lembata berhasil,”tegasnya sembari menambahkan total lahan untuk periode Agustus-September adalah 20 hektar namun yang di layani 11,55 hektar, sisanya lebih memilih berkonsentrasi pada  musim tanam Oktober-Maret dengan total kredit Rp. 171.500.000 untuk 16 wirausaha mandiri.  (Stenly Boymau)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *