GUGURNYA putra kesayangan saat Peristiwa G 30 S, membuat Maria Elizabeth Cornet merasakan duka yang dalam. Wanita keturunan Prancis asal Leiden itu mengenang Pierre Andreas Tendean dengan mengumpulkan semua fotonya dari lahir sampai menjadi seorang ajudan Menko Hankam.
Tak hanya itu, surat-surat yang diperoleh selama Pierre bersekolah merantau ke Bandung, selama bertugas di Medan dan Jakarta, juga dikumpulkan Ibu Tendean dan dirunut berdasarkan tanggal penerimaannya.
Ibu Tendean selalu tidur di sisi terdekat dengan lemari kabinet ini, dan setiap malam sebelum tidur ia akan mengenang Pierre dengan memandangi dan mengajak berbicara foto-foto itu sampai bercucuran air mata di pipinya.
Kadang, di waktu pagi atau siang, ia akan larut dalam kesedihannya kehilangan anak lelaki satu-satunya itu sambil duduk di kursi yang terdapat di dalam kamar.
Aurelius Lammert Tendean, sang suami merupakan sosok yang paling tegar dalam keluarga, melihat istrinya remuk redam jiwanya kehilangan sang anak, hanya bisa mendampingi dengan ketabahan luar biasa dan kata-kata menenangkan, “Sudah terima saja, ini sudah ketentuan Tuhan”
Kepada keluarganya Ibu Tendean mengeluh, kenapa ia tidak pernah bermimpi tentang Pierre. Hanya sekali saja Ibu bermimpi seolah-olah Pierre masuk ke rumah mereka.
Setiap pekan, Ibu Tendean pergi pulang naik bus ke Jakarta dari Semarang untuk mengunjungi makam sang putra. Sengaja dia pergi bukan akhir pekan untuk menghindari pengunjung lain. Karena ingin mendapatkan ketenangan dan kenyamanan, akhirnya dia berkunjung ke Kalibata pada malam hari.
Selasa, 15 Agustus 1967, malam adalah kunjungan terakhir ibu Tendean ke makam sang putra. Hingga tengah malam dan kebetulan, di malam terakhir itu, kunjungan rindu sang ibu ditemani oleh rintik hujan.
“π·πππππ, ππππ ππππ ππ ππ πππππ ππππππ,” (Pierre, di mana engkau sekarang, anakku. Kau tahu Ibu ada di sini). bisik sang Ibu saat meletakkan kepalanya di nisan Pierre.
Kembali di rumah Semarang, keesokan harinya Ibu Tendean mengeluh dirinya sepertinya terkena flu, karena semalam menghabiskan waktu di pinggir makam Pierre dalam keadaan basah akibat hujan.
Dua hari kemudian, Kamis, Ibu Tendean akhirnya masuk perawatan di kamar inap Rumah Sakit Elizabeth, Semarang, dan diambil darahnya untuk dilakukan pemeriksaan. Pada waktu itu hasil laboratorium tes darah tidak bisa segera didapatkan dan harus menunggu sampai seminggu lamanya. Di malam hari perawatan pertama, saat ditunggui oleh Roos, seorang putrinya Ibu Tendean berkata-kata seakan-akan Pierre hadir di hadapannya, “π·πππππ, π·πππππ, ππ ππππ πππ ππ ππππ ππππ πππ (Pierre, Pierre aku sudah tidak tahan lagi).”
Keesokan harinya, Ibu Tendean tampak membaik dan lebih segar dan meminta sang suami yang menemaninya malam itu.
Ternyata, itu adalah pertanda, bahwa ia ingin dilepas pergi dalam pendampingan sang suami tercinta. Karena pada dini hari tanggal 19 Agustus 1967 pukul 02.00, Ibu Tendean menghadap Sang Khalik untuk selama-lamanya dalam tidurnya.
Kepergiannya pun baru disadari Pak Tendean. Pada waktu Pak Tendean, yang juga seorang dokter hendak melakukan cek berkala nadi istrinya dini hari itu, ternyata itu tidak didapatinya lagi. Segera perawat dipanggil dan dipastikanlah Maria Elizabeth Tendean telah berpulang menutup usia.
Pada pemakamannya di Taman Pemakaman Umum Bergota, Semarang, jenazah sang ibu ditutupi dengan selimut yang pernah dipakai Pierre, sesuai wasiatnya jauh hari kepada keluarga.[Net/boy]
Sumber:
Buku “Sang Patriot” Kisah Seorang Pahlawan Revolusi












