Mencari Kontestan Kontes Gagasan

Opini795 Dilihat

Oleh: Maksimus Ramses Lalongkoe *

Saat ini hingga jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 14 Februari 2024 mendatang, mulai marak dan bertebaran ragam gambar wajah para calon kontestan Pemilu 2024. Rakyat dengan sangat mudah dan gampangnya menemukan gambar wajah para calon kontestan. Karena gambar-gambar tersebut marak beredar di berbagai media sosial, seperti facebook, twitter, grup whatsapp, dan lain sebagainya, termasuk terpampang dan terpajang di jalan-jalan dan pepohonan.

Ini merupakan fenomena biasa karena biasa dilakukan jelang Pemilu 2024. Sebab itu semua merupakan alat peraga pengenalan diri kontestan. Atau alat peraga kampanye berupa semua benda atau bentuk lain yang memuat visi, misi, program, dan/atau informasi lainnya dari Peserta Pemilu, simbol atau tanda gambar Peserta Pemilu 2024, yang dipasang untuk keperluan Kampanye yang bertujuan untuk mengajak orang memilih Peserta Pemilu 2024 tertentu.

Tanpa alat peraga itu, rakyat pemilih sulit mengenal dan mengetahui siapa sosok calon wakil rakyat yang harus dipilih nanti. Makanya tidak heran dan kaget kalau saat ini mata rakyat yang tidak ikut sebagai kontestan menjadi silau, karena cahaya gambar wajah-wajah para calon kontestan. Apalagi kalau gambar wajah-wajah itu sudah melalui proses edit hingga wajah itu menjadi sangat sempurna, bahkan sampai terlihat masih muda. Calon kontestan laki-laki terlihat sangat ganteng dan calon kontestan perempuan terlihat sangat cantik hingga teman dekat pun lupa mengenalinya.

Kita masih ingat kasus yang menimpa Evi Apita Maya, calon terpilih anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) periode 2019-2024 dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), yang pernah digugat di Mahkamah Konstitusi (MK), karena dianggap foto pencalonannya diedit hingga terlalu cantik. Dan setelah melalui proses panjang di Mahkamah Konstitusi (MK) Evi Apita Maya tetap sah kan menjadi calon anggota DPD terpilih. Kini Evi Apita Maya kembali mendaftar sebagai calon anggota DPD RI Daerah Pemilihan Provinsi NTB untuk pemilu 2024 mendatang.

Baca Juga  Kreasi Cerdas UKSW Songsong Pemilu 2024, Kolaborsi KPU RI Libatkan Ratusan Mahasiswa

Apa yang dilakukan Evi Apita pada pemilu 2019 lalu, melalui foto cantik hasil kreasi desain grafis merupakan bagian dari upaya memegaruhi pemilih untuk memilihnya menjadi senator. Semua cara-cara itu, sesungguhnya tidak lebih dari sekedar untuk menarik perhatian konstituen. Apalagi rakyat kita berbeda-beda motivasinya dalam menentukan pilihan. Ada yang memilih karena calon itu memiliki kapasitas, ada yang memilih karena mungkin pernah mendapatkan bantuan dari calon itu, ada juga yang memilih karena tampilan gambar calon yang ganteng atau cantik dan macam motivasi lainnya.

Kontes Gagasan

Penyebar luasan alat peraga sebagai sarana pengenalan diri kontestan kekontestuen, tentut idak salah, apalagi telah diatur dalam perundang-undangan. Namun apakah rakyat kita hanya disuguhkan dengan tampilan gambar-gambar bisu tanpa gagasan? Ini pertanyaan yang perlu direnungkan sekaligus untuk menyadarkan kita semua, bahwa pesta demokrasi untuk memilih wakil rakyat satu kali dalam lima tahun, bukan hanya sekedar ajang memamerkan wajah ganteng dan cantik untuk dipilih rakyat.

Baca Juga  Rote Ndao: Garam, Geopolitik, dan Harga Diri Bangsa dari Perbatasan Selatan

Namun, harus menjadi momentum ajang kontes gagasan. Kontes di mana para kontestan berkompetisi gagasan, konsep dan program sehingga menjadi referensi rakyat untuk memilih. Kontes gagasan dan ide semestinya menjadi prioritas fundamental dalam diri para kontestan. Ruang-ruang publik harus diisi dengan ragam gagasan dan program, bukan diisi dengan tampilan wajah indah memesona yang pada akhirnya menghipnotis pemilih tanpa referensi.

Demokrasi harus melahirkan orang-orang berkualitas dari aspek personal bukan dari aspek kepopuleran, apalagi kalau populer karena tampilan wajah ganteng dan cantik serta senyum pesona. Sebab untuk memperjuangkan kepentingan rakyat tidak membutuhkan face ganteng dan cantik serta senyum pesona, tetapi membutuhkan gagasan besar. Gagasan yang bisa diperjuangkan untuk kepentingan banyak orang. Sebab, kompetisi berbasis gagasan dan konsep akan melahirkan wakil rakyat yang dapat diandalkan rakyat.

Maka, track record kontestan menjadi pilihan utama bagi rakyat dalam menentukan pilihan. Track record kontestan yang bukan hanya sekedar slogan normatif dan kata-kata mutiara penjinak hati rakyat, tetapi kontestan yang mampu menjawab kebutuhan rakyatnya. Gagasan menjadi sangat penting agar menjadi ruang diskursus di tengah masyarakat pemilih. Track record ini juga dapat dilihat dari slogan dan visi-misi kontestan, mana yang sekedar bombastis dan mana yang benar-benar serius berpihak rakyat dan kaum tertindas.

Rakyat Pro Aktif

            Kontes gagasan hanya bisa diketahui, bila rakyat berusaha pro aktif mencari tau tentang gagasan dan program kontestan. Pro aktif menemukan ide-ide dan gagasan kontestan, bukan pro aktif mencari tau seberapa ganteng dan cantik kontestan tersebut. Rakyat bisa menganalisa dan membacanya dari metode pendekatan kontestan. Apakah metodenya mengunggulkan simboli smelalui kata-kata manis berisi empedu dan gambar wajah-wajah yang terpajang di berbagai media sosial dan jalan-jalan raya? Ataukah metodenya menyebarkan gagasan yang menimbulkan diskursus di tengah masyarakat?

Baca Juga  Gerindra NTT Gelar Fit and Proper Test kepada Bacaleg DPRD Provinsi

Bila metode memikat hati rakyat dengan cara simbolis, besar kemungkinan, kontestan itu sedang membangun image atau citra dirinya untuk kepentingan manipulatif rakyat dengan sasaran rakyat akan memilihnya nanti. Namun bila metodenya menyebarkan gagasan, ide dan konsep yang dapat menciptakan diskursus di tengah masyarakat, maka kontestan tersebut bisa menjadi pilihan bagi rakyat, karena dari gagasan itu akan melahirkan solusi bagi kebutuhan masyarakat.

Semua ini bisa ditemukan dalam diri kontestan, kalau rakyat mau dan sungguh-sungguh berusaha pro aktif mencaritahu rekam jejak kontestan, sehingga jadi bahan atau referensi dalam menentukan sikap politik. Namun bila rakyat hanya berdiam diri, menunggu gambar wajah yang melintas maka, besar kemungkinan kita masih terantuk pada batu yang sama, memilih orang-orang sulit diharapkan untuk memperjuangkan nasib rakyat. Ingat, sebodoh-bodohnya Unta, dia tidak mau terantuk pada batu yang sama. Semoga demokrasi kali ini rakyat tidak terantuk pada batu yang sama yang hanya menyimpan bara penyesalan. ***

*) (Dosen Komunikasi di Jakarta)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan