KUPANG — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Forum Koordinasi Pengembangan Sektor Keuangan (FK-PSK) menyelenggarakan edukasi nasional Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) 2026 di Ruang Nembrala KPwBI NTT, Kupang, pada Kamis (3/9/2026). Mengusung tema “Money Wise, Future Wise”, forum yang digelar guna membentengi generasi muda dari ancaman kejahatan finansial digital ini, dihadiri oleh ratusan mahasiswa lintas perguruan tinggi termasuk mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana), antara lain dari Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Generasi Baru Indonesia (GenBI) Undana.
Rangkaian edukasi ini menjadi respons mendesak atas melebarnya jurang antara tingkat inklusi keuangan masyarakat yang telah mencapai 93 persen dan indeks literasi keuangan yang baru berada di angka 69 persen. Ketimpangan sebesar 24 persen tersebut memicu risiko tinggi masyarakat, terutama mahasiswa, menjadi korban pinjaman online (pinjol) ilegal, investasi bodong, hingga manipulasi psikologis berbasis data atau Social Engineering (Soceng).
Edukasi Rumus Akses “CAMILAN” dan Mitigasi Kejahatan Finansial
Guna memutus rantai korban kejahatan finansial, para pemateri membagikan indikator identifikasi platform pendanaan resmi OJK melalui rumus CAMILAN (Camera, Microfon, Location). Aplikasi pinjaman online legal hanya diizinkan mengakses tiga fitur dasar gawai tersebut, sementara aplikasi yang meminta akses seluruh kontak, galeri foto, maupun media sosial dipastikan ilegal. Selain itu, peserta diimbau tidak menyerahkan KTP untuk pencairan paylater pihak lain karena rekam jejak kredit buruk akan permanen tercatat pada Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK atas nama pemilik identitas.
Formulasi Anggaran Ideal 10-20-30-40 dan Komitmen Agen Literasi Kampus
Sebagai fondasi pengelolaan keuangan yang sehat, mahasiswa dibekali metode alokasi anggaran 10-20-30-40, yakni 10 persen untuk sosial/amal, 20 persen untuk tabungan dan investasi di awal, maksimal 30 persen untuk kewajiban/cicilan, serta 40 persen untuk kebutuhan hidup harian. Kegiatan interaktif ini diakhiri dengan edukasi Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah dan Perlindungan Konsumen (PeKA), sosialisasi Championship 2026, serta komitmen perwakilan mahasiswa untuk menjadi agen penyebarluas literasi keuangan di lingkungan kampus.
“Kemudahan akses layanan keuangan digital saat ini harus diimbangi dengan kecakapan literasi. Kita ingin generasi muda tidak sekadar menjadi pengguna aktif, tetapi juga pengelola keuangan yang bijak dan bertanggung jawab,” tegas Deputi Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI, Indra Gunawan Sutarto.
“Wawasan yang paling berharga bagi kami yaitu ketika diberitahu ciri-ciri penipuan yang muncul untuk mengganggu aset keuangan kami, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara keseluruhan, seluruh materi ini meningkatkan literasi keuangan kami agar sebanding dengan akses inklusi keuangan yang kami gunakan,” ungkap Mahasiswa Akuntansi FEB Undana, Gracyo Hermanus Alexan Jannes Mira Mangngi.
“Saya ingin menyampaikan kepada rekan-rekan agar selalu bijak dalam mengelola keuangan dan berpikir lebih matang saat mengambil keputusan yang berisiko tinggi. Hal ini penting agar mereka tidak mengambil langkah yang salah dan dapat mengelola keuangan dengan jauh lebih baik,” ujar Mahasiswa Akuntansi FEB Undana, Intan Aprilia Anin.
Sinergi antara BI, Kemenkeu, OJK, dan LPS yang tergabung dalam FK-PSK ini memangkas celah kerentanan finansial generasi muda akibat pesatnya penetrasi teknologi keuangan digital. Tanpa adanya peningkatan pemahaman mengenai perlindungan data pribadi dan rasionalisasi alokasi anggaran, tingginya tingkat akses produk keuangan berisiko memicu masalah kredit macet serta penyalahgunaan data di tingkat mahasiswa. Melalui pembekalan formula teknis dan pencetakan agen literasi di lingkungan perguruan tinggi, LIKE IT 2026 memastikan terwujudnya generasi muda yang tangguh, cermat, dan berdaya secara finansial. (IyL/RLS/UNDANA/BOY)






