Kehadiran PLTP Ulumbu Berdampak Positif, Pertanian dan Sumber Air Tetap Terjaga

Ekonomi736 Dilihat

RUTENG– PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) memastikan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu terus berjalan selaras dengan keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar. Sejumlah warga di Desa Wewo dan Desa Lungar, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, mengaku aktivitas pertanian maupun ketersediaan sumber air tetap terjaga sejak PLTP Ulumbu beroperasi pada 2011.

Salah seorang warga Desa Wewo, Margaretha Dinut, mengatakan lahan pertanian miliknya tetap produktif dan sumber air yang digunakan masyarakat tidak mengalami perubahan.

“Sejak PLTP Ulumbu beroperasi, lahan pertanian kami tetap subur dan sumber air tidak tercemar. Kami masih bisa panen dua kali setahun dengan hasil yang baik,” ujarnya.

Baca Juga  Meneg BUMN Tinjau PLTS PLN, Pastikan Peringatan HUT RI di IKN Gunakan Listrik Hijau

Pengakuan serupa disampaikan Kanisius Patut, warga Desa Lungar. Ia mengaku telah hidup berdampingan dengan kawasan manifestasi panas bumi sejak kecil dan tidak merasakan dampak negatif terhadap aktivitas pertanian maupun ketersediaan air.

“Sejak lahir saya tinggal di sekitar kawasan ini. Sampai sekarang air tetap tersedia dan lahan pertanian tetap menghasilkan dengan baik,” katanya.

Tokoh adat Tua Gendang Wewo, Hendrikus Ampak, menuturkan bahwa sebelum PLTP Ulumbu dibangun telah dilakukan berbagai kajian mengenai dampak lingkungan. Setelah pembangkit beroperasi pun, berbagai penelitian dan pemantauan masih rutin dilakukan oleh pemerintah maupun perguruan tinggi.

“Banyak pihak datang melakukan penelitian sejak sebelum pembangkit beroperasi hingga sekarang. Kami selalu terbuka memberikan informasi,” ujarnya.

Baca Juga  Destinasi Edukasi Panas Bumi Ditargetkan Rampung Awal 2027, Karya Monumental PLN di Geowisata Mataloko

Sementara itu, Kepala Desa Wewo, Laurensius Langgut, mengatakan masyarakat tidak pernah mengalami kesulitan memperoleh air bersih sejak PLTP Ulumbu beroperasi. Kawasan pertanian di sekitar pembangkit masih produktif dengan berbagai komoditas seperti padi, cengkeh, kemiri, kakao, dan durian.

Selain itu, keberadaan PLTP Ulumbu juga membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi warga Desa Wewo.

Sementara itu, General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, RDW. Manurung, mengatakan pengalaman operasional PLTP Ulumbu selama lebih dari satu dekade menunjukkan bahwa pemanfaatan energi panas bumi dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas masyarakat apabila dikelola sesuai kaidah teknis, lingkungan, dan regulasi yang berlaku.

Baca Juga  Cadangan Daya Listrik Flores Cuma Sedikit: Saatnya Lepas dari Ketergantungan Fosil, Berikut Hasil Penelitian Tentang Geothermal

“PLTP Ulumbu menjadi bukti bahwa pengembangan energi panas bumi dapat dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan sosial. Kami terus melakukan pemantauan serta memastikan setiap tahapan operasional maupun pengembangan mengedepankan prinsip keberlanjutan,” ujar Manurung.

Manurung menegaskan bahwa pengalaman PLTP Ulumbu menjadi referensi penting dalam pengembangan proyek-proyek panas bumi lainnya di Nusa Tenggara.

“PLN berkomitmen mengembangkan energi panas bumi dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, keterbukaan, dan pelibatan masyarakat,” ujar Manurung.

Menurutnya, pengembangan panas bumi merupakan bagian dari upaya mendukung transisi energi nasional sekaligus meningkatkan keandalan pasokan listrik di Nusa Tenggara melalui pemanfaatan energi baru terbarukan yang bersih dan berkelanjutan. (RLS/PLN/BOY)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan