KUPANG — Upaya mendorong kawasan perbatasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru mendapat perhatian dalam kegiatan Coffee Morning bersama KADIN NTT yang dirangkaikan dengan HUT KADIN dan Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) KADIN NTT.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum JAPNAS NTT Fahmi H Abdullahi SE, menyampaikan usul dan gagasan kepada KADIN NTT terkait penguatan dukungan dunia usaha terhadap pengembangan UMKM di kawasan perbatasan, khususnya di PLBN Napan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Menurutnya, KADIN sebagai organisasi induk dunia usaha memiliki posisi strategis untuk mendorong kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membuka akses pasar yang lebih luas bagi UMKM.
Salah satu peluang besar yang perlu ditangkap adalah potensi pasar dari masyarakat Oecusse, Timor-Leste, yang berada tepat di kawasan perbatasan dengan TTU.
JAPNAS NTT bersama HIPMI TTU, dengan dukungan dan kerja sama Pemkab TTU serta PLBN Napan, telah menggagas pengembangan Pasar Batas PLBN Napan sebagai ruang interaksi ekonomi masyarakat kedua wilayah.
Namun, salah satu kendala yang masih dihadapi adalah akses masyarakat Oecusse yang ingin datang ke wilayah Napan untuk berbelanja dan melakukan aktivitas ekonomi. Sebagian masyarakat masih terkendala kepemilikan paspor.
Karena itu, JAPNAS NTT mengusulkan agar pemerintah pusat melalui kementerian dan lembaga terkait dapat mengkaji kembali mekanisme Pas Lintas Batas (PLB) bagi masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste, tentunya dengan memperhatikan ketentuan hukum dan kesepakatan lintas batas kedua negara.
Membuka Pasar yang Lebih Besar bagi UMKM
Ketua Umum JAPNAS NTT menilai, apabila akses lintas batas masyarakat dapat difasilitasi melalui mekanisme yang sesuai dengan ketentuan, maka akan terbuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat dan pelaku UMKM di sekitar Napan.
“Kita memiliki pasar yang sangat dekat, bahkan hanya dipisahkan oleh perbatasan negara. Masyarakat Oecusse memiliki kebutuhan, sementara UMKM kita memiliki produk. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana menciptakan ekosistem agar kedua potensi ini dapat bertemu secara legal, aman dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, Pasar Batas PLBN Napan jangan hanya dipandang sebagai aktivitas perdagangan biasa, tetapi harus dikembangkan menjadi bagian dari strategi ekonomi kawasan perbatasan.
UMKM lokal dapat menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari kebutuhan pokok, makanan dan minuman, produk bakery, hasil pertanian, kerajinan, hingga berbagai produk unggulan daerah.
Dengan semakin banyaknya masyarakat Oecusse yang datang berbelanja melalui mekanisme yang sesuai aturan, maka uang yang dibelanjakan akan berputar di kawasan TTU dan memberikan efek ekonomi kepada pedagang, petani, produsen, jasa transportasi, kuliner, hingga sektor lainnya.
KADIN Diharapkan Menjadi Penguat Sinergi
Dalam forum tersebut, JAPNAS NTT juga mendorong KADIN NTT untuk mengambil bagian dalam memperkuat komunikasi dan advokasi dunia usaha kepada pemangku kepentingan terkait.
KADIN diharapkan dapat menjadi salah satu jembatan antara aspirasi pelaku usaha dengan pemerintah, khususnya dalam menciptakan kebijakan yang mendukung pertumbuhan UMKM dan perdagangan di kawasan perbatasan.
Sinergi antara KADIN NTT, JAPNAS NTT, HIPMI TTU, Pemkab TTU dan PLBN Napan diharapkan dapat menghasilkan model pengembangan ekonomi perbatasan yang tidak hanya meningkatkan transaksi perdagangan, tetapi juga mendorong UMKM lokal naik kelas.
“Kita ingin masyarakat perbatasan menjadi pelaku utama pertumbuhan ekonomi. Jangan sampai masyarakat kita hanya menjadi penonton dari aktivitas ekonomi di kawasan perbatasan. Kita harus menyiapkan UMKM agar mampu menangkap peluang pasar dari negeri seberang,” tegasnya.
JAPNAS NTT dan HIPMI TTU menyatakan siap terus mendorong pengembangan Pasar Batas PLBN Napan bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan.
Harapannya, kawasan Napan ke depan tidak hanya berfungsi sebagai pintu lintas batas, tetapi juga berkembang menjadi sentra perdagangan, UMKM dan pertumbuhan ekonomi baru di wilayah perbatasan TTU–Oecusse.
Perbatasan bukan halaman belakang. Perbatasan adalah beranda depan ekonomi NTT. (RLS/TIM)










