Daerahnya Jadi Tuan Runah ASEAN Summit 2023
Jakarta (MEDIATOR)–Warga Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) harus merasa bangga dengan keputusan Presiden Joko Widodo menjadikan Labuan Bajo, Mabar sebagai tuan rumah pertemuan pimpinan negara se-ASEAN. Rasa bangga itu bukan tanpa alasan, sebab diikuti dengan pembangunan intrastruktur daerah baik itu pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang menjadi venue utama ASEAN Summit 2023 hingga pembangunan jalan baru Labuan Bajo menuju Golo Mori.
“Saya pikir warga Manggarai Barat harus merasa bangga dengan dipilihnya Mabar sebagai tuan rumah pertemuan para pimpinan negara se-ASEAN. Rasa bangga itu bukan tanpa alasan, sebab diikuti dengan pembangunan intrastruktur daerah baik itu pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus yang jadi venue utama ASEAN Summit 2023 hingga pembangunan jalan baru Labuan Bajo menuju Golo Mori,”kata Akademisi Maksimus Ramses Lalongkoe di Jakarta, Kamis (20/4/2023).
Menurut pria asal Kempo, Manggarai Barat ini, kehadiran ajang internasional tersebut bisa mendorong kemajuan Mabar. Untuk itu ajang ini harus menjadi momentum peradaban baru bagi masyarakat setempat.
“Ini ajang internasional bisa mendorong kemajuan Mabar. Ajang ini harus menjadi momentum peradaban baru bagi masyarakat setempat, ” ujar Ramses.
Lebih lanjut Dosen Komunikasi ini mengatakan, sekecil apa pun pernyataan atau komunikasi publik di media, bisa menimbulkan perdebatan dan membuat ketidaknyamanan bagi pihak luar, apalagi ada riak-riak penolakan dengan berbagai alasan yang tidak substantif.
“Sekecil apa pun pernyataan atau komunikasi publik di media, bisa menimbulkan perdebatan dan membuat ketidaknyamanan bagi pihak luar, apalagi ada riak-riak penolakan dengan berbagai alasan yang tidak substantif, ” jelas Ramses sembari berharap, semua pihak baik pemerintah daerah maupun masyarakat harus satu suara mendukung pelaksanaan ajang internasional tersebut sehingga mempercepat kesejahteraan masyarakat. Bila ada persoalan yang belum diselesaikan harus segera diselesaikan tanpa harus riak-riak yang memicu kontroversi di tengah nasyarakat. (RLS/Stenly Boymau)






